I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.51(It's show time+Visual)



Visual Time.


Hai hai Cecelover .. Wkwk


Tahu gak. Pasti enggak ya. Kalau othor bener bener menikmati saat bikin cerita Cecilia ini, suka sama karakternya dia yang nekad plus gak tahu malu. Tapi cocok sih kalau Cecilia gak tahu malu. Karena dia cantik, berkelas dan bersertifikat haaha. Ya walau kelas dan sertifikatnya dari hasil goda menggoda. Wkwk. Plus ada kalian yang jadi booster terkece othor.


Yang gak bosen like, gak bosen komen, kasih gift plus nonton iklan pula dan gak skip. Warbysah pokoknya.


Dikit cerita kalau Kita gak tahu kehidupan orang lain gimana yaa bestie. Karena sejatinya macam Cece itu ada dengan alasan berbeda beda pula. Ambil yang positifnya buang yang negatifnya. Walaupun othot yakin disini banyak nya yang negatif aja. ya jangan di tiru apalagi di praktektin ya. Wkwk. Pasti kena palu duluan.


Oke othor kebanyakan cingcong.


Cuss. Biasanya othor kasih visual kalau udah di bawelin readers ya, tapi karena othor Cecelover bisa cepet cepet kasih Visual. Sekali lagi ini Visual Othor, Semoga sesuai sama kehaluan kalian, kalau punya visual sendiri gak apa apa.


Veronica Cecilia, 20 tahun. Mahasiswi psikologi. Kenapa psikologi? Karena kalau masuk hukum dia takut polisi. Wkwkwk( Trauma kena razia kayaknya)


itu mangkanya dia pinter nyenengin orang lain, selalu menjadi pusat perhatian karena tahu trik baca karakter orang lain.



Gimana gak bakal tergoda sama Cece yekan.


Si Tiang listrik aja yang nyeleneh sendiri, sok sok an gak suka sama neng Cece. Cece sebenarnya pintar, pintar ngibul, pintar ngeles, pintar nipu, pintar ngerayu. Wkwkw... Jangan ditanya gimana prestasinya selama ini, prestasi terbesar yang udah dia capai adalah keluar dari kemiskinan dan bertahan hidup wkwkwk.


Tingkat kepercayaan dirinya tinggi, saking tingginya kita mesti naik tangga. Gimana gak percaya diri yekan, othor aja inseecure.



Nih si Tiang listrik yang sebentar lagi bakal konslet. Mukanya aja udah ngeselin banget, so banget si lo bang kwkwk. Bosen jadi dokter malah nyari sampingan dagang kopi. Dah tahu kopi itu gak baik buat kesehatan bang gimana sih.


Gak mau deket sama wanita karena belum bisa move on dari cinta lama. Eeh malah ketemu cewe setengah gila.


Gimana? Cocok kan... Cocok lah yaa. Wkwkwk (Maksa)


Cus lanjut baca aja. Jangan lupa karena hari ini hari senin, vote dong yaa Cecelover.hihi


***


"Buat dia Cemburu!"


"Hah?" Ines tersentak kaget mendengarnya, rencana awal mengajaknya kerja sama hanya untuk menjauhkan, melirik gadis yang tengah menikmati musik lalu beralih pada sepupunya. "Apa kau serius?" tanyanya dengan menggosok lubang telinga, takut dia salah mendengar.


Irsan yang terus menatap Cecilia mengangguk, "Hm ... Serius!"


Ines yang kini justru menciut, bagaimana dia bisa membuat Cecilia cemburu, sedangkan gadis itu saja sedang di kelilingi pria pria sambil tertawa riang. Sebelahnya juga ada gadis yang tidak kalah cantiknya.


Irsan terus mengunci pergerakannya, mata tajam bak elang memindai setiap tangan tangan yang sedang bergerak. Selalu waspada jika salah satu tangan itu berani menyentuh Cecilia.


Segelas tequila didepannya dia tenggak begitu saja, membuat Ines berdecak karena Irsan jarang sekali minum alkohol.


"Jangan bilang kau mulai menyukai gadis itu!"


"Tidak! Siapa yang menyukainya!" ucapnya masih berkilah.


"Iya deh tidak suka! Tapi tidak sukanya sampai kita ada di sini." Decih Iren. "Kau juga jadi aneh. Sejak kapan kau minum alkohol?"


Nita yang tanpa sengaja melihat Irsan di sana bergerak membisiki sahabatnya itu.


"Kalau gue kasih tahu! Lo jangan noleh ya." bisiknya sambil terus berjoged.


"Apaan sih lo!"


"Dimeja bartender ada jodoh lo!"


Cecilia mengernyit, dia lupa sendiri jika dia yang mengatakan Irsan jodohnya. "Siapa?"


"Elah ... Itu si Irsan! Jangan nengok!" ujar Nita menarik bahu sahabatnya itu.


"Ngapain juga gue bohong!"


Cecilia menarik sudut bibirnya hingga keatas, dia semakin yakin jika Irsan memang memiliki perasaan padanya. "Emang bego! Katanya gak suka sama gue." bisiknya sambil mengambil gelas dan meminumnya. "Dia sama siapa?" tanyanya lagi pada Nita.


"Gak tahu deh sama Cewe. Pacarnya kali."


"Yakin lo?"


"Yakin, orang mereka saling rangkul."


Cecilia menoleh tepat pada saat Ines memang merangkul bahu Irsan yang tubuhnya mulai tidak seimbang karena menenggak tiga gelas tequila.


"Aku juga bilang apa! Kau kan tidak bisa minum. Payah!"


"Aku tidak apa apa Nes!" ucapnya menepis tangan Ines, tapi tubuhnya memang benar benar payah hingga dia harus berpegangan pada Ines.


"Gimana mau membuat gadis itu cemburu, kau sendiri saja sudah payah begini." Ines menggerutu, dengan memegangi sepupunya yang kini berjalan.


Kesempatan itu dipergunakan oleh Ines yang menyadari jika Cecilia melihat ke arahnya. Dia sengaja mengajak Irsan bergabung dengan orang lain yang tengah menari bebas itu.


Cecilia memalingkan wajahnya saat tahu Irsan bersama wanita berambut panjang yang berada dilantai yang sama dengannya.


"Dia emang pacarnya atau selirnya gue gak mau tahu lagi." desis Cecilia yang kembali tidak peduli.


Ines dan juga Irsan mulai ikut berjoged, walaupun Irsan benar benar susah diajak kompromi karena gerakannya yang kaku bak robot dan membuatnya kesal.


"Kalau bukan karena mobilmu, mana mau aku melakukan hal ini. Kau benar benar payah!"


Irsan tertawa, dia akui kalau dia memang payah jika masuk ke klub seperti orang lain.


"Apa dia melihat kita?"


"Hm ... Sejak tadi dia sudah melihat kita."


"Bagus!" gumamnya pelan, melirik Cecilia dengan ekor matanya saja, dan tersenyum tipis, dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuh Ines dan memeluknya dari belakang, kedua tangannya melingkari perut Ines dengan dagu yang menempel di bahunya


"Heh ... Pelan pelan! Ingat, aku adik sepupumu."


"Aku tahu! Aku juga tidak berselera padamu!"


Cecilia yang melihatnya justru terkekeh, membuat Nita mengernyit, "Kenapa lo?"


"Lo lihat aja mereka, bener bener norak. Mereka fikir gue bakal kepanasan lihat mereka."


Nita ikut melihat ke arah mereka berdua yang benar benar memperlihatkan kemesraannya. Akhirnya dia ikut terkekeh.


"Lo emang harus kepanasan, kalau lo masih punya rasa sama dia."


Cecilia berdecih, menarik ikatan rambut yang dikenakan Nita hingga rambutnya terurai begitu saja. "Heh apaan sih lo." ucapnya dengan membenahi rambutnya sendiri.


"Pinjem bentar!" Ujar Cecilia terkekeh. "Gue ada ide."


Nita menurut saja sedangkan Cecilia menggulung rambutnya ke atas hingga leher putihnya terpangpang nyata.


Cecilia berjalan sempoyongan ke arah DJ yang tengah memainkan musik yang menggema. Dia naik ke atas meja dan menari di atas sana. Membuat pria pria riuh menyorakinya dan bertepuk tangan.


"Woy ... Parah si Cece! Ini hari apa, lo mau nari strip tis." teriak Nita yang melihat Cecilia nekad.


Riuh pria pria juga wanita yang tengah menari semakin kencang saat Cecilia membuka pakaian atasannya begitu saja dan melemparkannya. Memperlihatkan tank top dengan tali selebar jari dan juga bagian pusar bertindik miliknya.


Irsan yang menoleh karena teriakan dari semua orang membelakakan mata saat melihat apa yang dilakukan Cecilia.


Gadis gila itu menyunggingkan senyuman disertai kedipan mata ke arah Irsan, dia juga perlahan lahan mulai membuka resleting rok mini yang dikenakannya.


"It's show time!"