I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.69(Flashback)



"Udah deh gak usah dibahas! Lagian belum aku coba kok! Jadi aku gak tahu tingkat ke puas an nya sampe mana." tukasnya tanpa malu, itu memang kenyataan, benda itu belum pernah dia coba sama sekali.


Kepala polisi yang memimpin penggeledahan itu menghampiri Irsan, tentu saja Irsan beranjak dari duduknya.


"Bagaimana?"


"Kami tidak menemukannya di sini! Kemungkinan dia menyimpannya ditempat lain. Tapi kami masih perlu menanyakan beberapa hal padanya." tukasnya dengan menunjuk Cecilia dengan lirikan matanya.


"Silahkan! Dia sangat kooperatif, hanya saja seperti yang aku bilang tadi. Police Anxiety."


"Aku paham! Kalau begitu kami akan membawanya ke kantor polisi."


"Kenapa harus ke kantor polisi? Disini aja udah." sahut Cecilia pelan, tentu saja kedua pria yang tengah berbicara itu tidak mendengarnya.


Setelah Irsan selesai bicara dengan polisi, Cecilia menarik tangannya agar mengikutinya.


"Aku gak mau ke kantor polisi."


"Tidak apa apa! Kau hanya akan dimintai keterangan."


"Pokoknya aku gak mau! Please ... Gak apa apa deh disini aja atau dimana kek gitu, asal jangan di kantor polisi." ujar Cecilia menangkup kedua tangannya.


Irsan menghela nafas panjang, dia yang sudah terlanjur janji itu mengangguk kecil. "Aku akan bicara pada mereka."


"Makasih!" ujarnya dengan tersenyum.


Irsan menggunakan gejala kecemasan berlebihan yang di alami Cecilia sebagai alasan agar polisi memeriksanya ditempat saja. Berhubung Irsan sendiri adalah dokter yang sudah pasti diagnosanya tidak akan pernah salah.


Namun polisi menolaknya karena itu tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam penyelidikan dalam kasus apapun, saksi mauoun terduga memang semestinya diperiksa di kantor polisi.


"Maaf kami tidak bisa melakukannya dok."


Irsan menghela nafas, lalu menoleh ke arah Cecilia, "Kalau begitu, berikan aku waktu untuk bicara dengannya terlebih dahulu sebagai seorang dokter agar setidaknya kecemasannya berkurang dan dia kembali kooperatif dan ikut bersama kalian."


Polisi itu mengangguk, "Terima kasih."


Irsan kembali berjalan ke arah Cecilia, menatapnya dalam gadis yang terlihat semakin cemas itu.


"Ayo kita jalan jalan mencari angin segar."


Keduanya menaiki lift dan menuju ke lantai teratas apartemen, bangunan terbuka mirip dengan root top.


Flash Back On


Cecilia saat itu berusia 18 tahun, terikat seorang Daddy yang menjadi bandar besar, dia kerap di cekoki barang haram tersebut hingga dia menjadi pecandu. Sampai pria itu tewas misterius dan Cecilia kepayahan karena tidak mendapatkan barang itu lagi dengan mudah.


Sampai di satu malam dimana hujan sangat deras, Cecilia yang mulai ketagihan barang itu mengalami ketagihan parah, sampai dia menggigiti kuku kuku jari dan juga seluruh tubuhnya terasa sakit semua.


Dirga yang saat itu melintas melihatnya, dia menghentikan motor saat Cecilia berjalan tanpa arah di bawah hujan deras yang mengguyur bumi. Dimana semua pakaiannya basah dengan rambut kelimis.


"Cecilia. Lo Cecilia kan?"


Cecilia hanya menoleh sekilas, lalu kembali berjalan menyusuri jalanan dengan pencahayaan yang remang. Tempat dimana biasanya Cecilia mendapatkan barang dengan mudah saat dulu.


"Lo sakit?"


"Lepas! Gue gak kenal sama lo." ujar Cecilia kala itu dengan menepis tangan Dirga.


"Lo make kan?"


"Lepasin gue!"


"Heh lo bodoh apa, lo cari mati kalau lo pake barang gituan!"


"Bodo amat! Lo fikir lo siapa hah? Gue gak kenal sama lo." sentak Cecilia dengan mendorong bahu Dirga. Dia berlari sekuat tenaga.


Dirga yang tersungkur kembali mengambil motor dan mengejarnya, namun terlambat karena Cecilia sudah hilang, pergi entah kemana.


"Sialan! Cepet banget dia pergi. Padahal gue cuma mau nolongin dia doang." Gumam Dirga.


Hingga beberapa hari kemudian, Dirga kembali melihat Cecilia yang tengah mengingat lengannya dibelakang gudang yang sudah tidak terpakai di suatu gedung apartemen.


"Gila lo, ngapain sih jadi orang bego banget!" ujar Dirga saat Cecilia baru saja menyuntikan barang harap itu pada lengannya.


Cecilia yang kembali tenang itu pun terkekeh, dengan menepuk pipi Dirga.


"Lo gak tahu sensasi nya cuy! Dan gue hampir mati karena hal ini. Lo ... Pacarnya Serly kan? Gue ingetin lo ya, hati hati sama dia. Dia bisa lebih gila dibandingkan gue." ujar Cecilia bangkit dari duduknya, berjalan sempoyongan namun juga terkekeh kesenangan. Dirga menghela nafas, dia mengikuti Cecilia dari belakang.


Bruk!


Cecilia terhuyung karena dia mabuk parah, namun beruntung Dirga berada tepat di belakangnya, hingga dia bisa menangkapnya tepat waktu.


"Parah lo Cecillia! Dimana rumah lo, gue anter pulang."


Cecilia terkikik dan menunjuk satu arah dimana apartemennya berada. Dirga pun mengantarkannya pulang dengan susah payah.


Keduanya masuk kedalam kamar, Dirga menjatuhkan tubuh Cecilia ke atas ranjang, namun Cecilia menarik t-shirt yang dikenakan Dirga hingga dia jauh tepat diatas tubuhnya.


"Cecilia!" ujarnya dengan suara serak.


"Hm ... let's play." bisik Cecilia yang mulai dikendalikan hawa panas.


Kecupan kecupan mendarat dimana mana, tubuh Cecilia bergelinjangan saat tangan Dirga mulai bergerak nakal. Siapa yang tidak akan tergoda padanya. Bahkan Dirga yang hanya mengenalnya sekilas saja tidak mampu menolaknya.


Eeeugghh


Lenguhan lembut keluar dari mulut Dirga saat senjatanya diarahkan Cecilia ke tempat semestinya. Dirga yang memang pada dasarnya brengsekk itu pun akhirnya menenggelamkan diri dalam hangatnya tubuh Cecilia.


Pergumullan pun tidak dapat di elakan lagi dipengaruhi obat obatan terlarang, Cecilia semakin liar mencumbuu Dirga, bak gayung bersambut. Dirga pun membalas cumbuaannya. Keduanya hanyut dalam gairaah panas, hubungan yang terjadi begitu saja dengan hassrat yang tiba tiba meninggi.


Permainan Cecilia jelas tidak sebanding dengan Dirga, pria tanggung itu jatuh pada gadis sejuta pesona dan keliaran Cecilia. Melupakan cinta yang baru terjalin pada seorang gadis bernama Serly.


Nafas terengah engah keduanya menjadi bukti permainan semakin liar, one night stand yang memiliki sensasi tersendiri bagi keduanya. Dan berakhir pada semburan hangat yang dengan cepat Dirga keluarkan tepat di perut Cecilia.


"Pinter juga lo!" ujarnya dengan tertawa.


Dirga ambruk di samping Cecilia, begitu juga dengannya, tubuh polos yang hanya di tutupi oleh selimut.


Hubungan keduanya terus berlanjut beberapa minggu, tentu saja tanpa sepengetahuan Serly atau siapapun. Keduanya hanya terlibat urusan ranjang dan saling memuaskan saja. Namun lama kelamaan cinta tumbuh begitu saja. Dirga mulai mencintai Cecilia begitu juga sebaliknya. perasaan mereka pun semakin dalam, walaupun hubungan mereka tetap tersembunyikan.


Dirga selalu ada saat Cecilia memakai benda terlarang itu sampai kebodohan Cecilia yang menguji cinta Dirga untuknya.


"Kalau lo cinta sama gue, harusnya lo gak cuma liatin gue aja kan Dir. Seenggaknya lo cobain dikit." Cecilia terkekeh, melepaskan suntikan dari lengannya.


Dirga yang hanya minum wine itu terpancing dan memintanya pada Cecilia. Tentu saja gadis itu girang bukan main.


"Gak seru kalau gue cuma minta lo putusin Serly doang! Yang gini lebih seru."