I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.88(Aku mau Satya)



"Jangan lakukan hal yang bisa membuatmu kesulitan sendiri. Hem."


Cecilia hanya diam menatapnya, lalu mengulas senyuman. Entah apa arti senyuman itu yang jelas Irsan tahu Cecilia tidak akan menurut begitu saja padanya, sampai kemudian Irsan memeluknya. "Aku yakin kau tidak akan menurut padaku walau aku melarangmu, berhati hatilah. Kita tidak akan tahu apa yang akan Satya lakukan."


"Kau tenang saja, aku sudah teruji klinis apalagi masalah begini."


"Kau benar benar keras kepala."


"Sudah sana temui Ines, dan katakan semuanya. Katakan kalau pria itu brengsekk dan gak pantes buat Ines."


Pelukan keduanya semakin mengerat saja, dengan Cecilia yang membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Irsan. Menghirup aroma tubuhnya dalam dalam. Nyaman banget, rasanya gue pengen terus meluk dia, kalau terus gini kayaknya perasaan gue makin dalam juga.


"Kau mendukung Ines sekarang. Tidak lagi memanggilnya sundel?" celetuk Irsan membuat suasana hangat itu hancur berantakan.


Cecllia menengadahkan kepalanya dengan mendengus. "Kau ini!"


"Aku bercanda. Aku pergi ya."


Irsan pun berlalu pergi menuju apartemen milik Ines, meninggalkan Cecilia.


"Apa apaan ... Candaannya gak pernah lucu."


***


"Irsan?"


Pria berumur 40 tahun itu menoleh ke arah belakang saat suaranya di panggil.


"Aku baru akan menemuimu. Kau dari mana?"


Ines menunjukan kantung ditangannya, sebuah paper bag berisi secangkir kopi.


"Kau dari mana? Sudah bertemu Satya? Kau sudah menemuinya kan. Katakan ... Apa dia kau sudah jelaskan semuanya. Apa dia percaya? Dia pasti menemuiku lagi bukan." ujar Ines memberondong pertanyaan pada kakak sepupunya itu.


Irsan hanya menghela nafas mendengar semua pertanyaan yang dia sendiri bingung menjawabnya.


"Kita bicara di tempatmu." ujarnya sembari melanjutkan langkahnya.


"Aneh ... Kau ini kenapa. Jangan jangan kau belum menemuinya kan?"


Pintu unit sudah terbuka, namun tidak satu pun ucapan Irsan terdengar, membuat Ines semakin cemas saja. Gadis berambut panjang itu hanya mengikutinya dari belakang. Bak seorang anak kecil yang terus bertanya karena belum mendapat jawaban yang dia inginkan.


"Irsaaan ...!" rengeknya dengan mengayunkan tas selempangnya tepat pada punggung Irsan.


"Aaaghh! Heh ... Kau ini!" ujarnya dengan menggosok punggung namun dia sulit menggapainya. "Aaggh sakit sekali. Apa tas mu isinya batu semua?"


"Kau ini kenapa? Perasaan biasa biasa saja, isi tas ku juga bukan batu. Tapi kau kesakitan begitu."


Irsan masuk kedalam, di susul oleh Ines.


"Aku tidak apa apa." sahutnya dengan mendudukkan dirinya di sofa, menggulung kemeja sampai lengan. "Gara gara masalah ini, aku harus meninggalkan pasien ku."


"Ini kesalahanmu ya! Jadi jangan mengeluh." Ines masuk ke dapur lalu kembali lagi. "Aku bahkan tidak bisa makan karena memikirkan nasib percintaanku hanya gara gara percintaanmu."


"Ya ... Ya, kau ini cerewet sekali. Aku yakin kau akan menemukan pria yang tepat yang akan membuatmu diam dan tidak berteriak teriak begitu." sahut Irsan kesal, tapi dia juga tengah bingung harus memulai dari mana.


Pria itu yakin jika Ines tahu yang sebenarnya, dia pasti akan sangat kecewa, berkali kali Irsan menghela nafas.


"Ya Satya lah orangnya, aku sudah nyaman bersamanya, walaupun pertemuan kami sangat singkat. Aku yakin dia orangnya ... hanya gara gara kau lah semuanya hancur berantakan."


Irsan mendengus mendengar ucapan Ines, dia bahkan ingat saat Satya menyangkal semuanya, menyangkal hubungannya dengan Ines bahkan memiliki istri yang tengah hamil.


"Lebih baik kau cari pria yang lain saja, kau ini cantik dan pasti akan banyak yang mengejarmu."


"Tidak! Aku mau Satya ... Kau harus membuatnya yakin, kau jelaskan semuanya hanya salah paham, dan juga pacarmu itu. Dia yang memulainya, dia juga harus bertanggung jawab! Aku tidak mau tahu." jawab Ines, dia lalu menghentak kan kakinya dan masuk ke dalam kamar, dan membanting pintu dengan keras.


Irsan menghela nafas, kemudian meraup wajahnya dengan kasar.


Ada suara decakan dari arah belakang, hingga dia menoleh dan melihat Cecilia berdiri dengan kedua tangan bersidekap di dada.


"Udah aku duga!" ujar Cecilia dengan hanya gerakan bibirnya saja, sementara kedua matanya menatap Irsan.


Irsan tersentak kaget saat melihat Cecilia yang berdiri didepan pintu, entah sejak kapan gadis itu masuk ke dalam unit.


"Kenapa kau kesini. Bukankah aku menyuruhmu pulang dan istirahat?" Irsan bangkit dari duduknya, satu tangan berkacak di pinggangnya di iringi helaan nafas lebih panjang dari sebelumnya. "Aku sudah duga. Kau pasti tidak menurut."


Cecilia terkekeh dia berjalan lebih masuk lagi. "Itu karena aku yakin kau tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Ines, kau hanya menyuruhnya melupakan dan mencari pria lain. Itu gak akan membantu sama sekali. Jadi aku putuskan aku mengikutimu dan saat pintu terbuka, aku mengganjalnya pake sepatu. Jadi aku bisa masuk."


"Kau ini!"


Cecilia kembali terkekeh, "Aku saja yang bicara pada Ines."


Irsan menggelengkan kepalanya, mendorong Cecilia hingga kembali ke arah pintu, dia tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan gadis yang berdiri di depannya itu kalau sampai merencanakan sesuatu. "Tidak! Sudah sana pulang, Ines sedang marah dan dia pasti akan semakin marah."


"Aku ini wanita! Jadi aku lebih paham soal begini, kau tunggu saja, aku janji gak akan aneh aneh." sahut Cecilia dengan jari telunjuk dan jari tengah yang mengacung." Janji ... Aku gak akan macem macem kok."


***


Dengan suara pelan Cecilia mengetuk pintu kamar Ines, menoleh sebentar ke arah Irsan yang tengah kalut di sofa.


Tok


Tok


"Kak Ines, bisa kita bicara sebentar?"


Irsan berdecih saat mendengar Cecilia memanggil Ines dengan kakak sekarang. "Dasar!"


"Biarin!"


Pintu terbuka, Ines dengan kedua mata yang sembab melihat ke arah Cecilia yang kini tersenyum di depannya.


"Mau apa lagi? Aku tidak mau bicara dengan kalian sebelum kalian membuat Satya kembali padaku."


"Justru karena itu aku kesini, aku sudah bertemu dengan Satya."


"Benarkah. Apa dia percaya dan akan menemuiku?"


"Hem ... pastinya! Aku akan pastikan itu kak. Jadi kakak tenang aja ya, besok Satya akan nemuin kak Ines."


Wajah muram Ines berubah menjadi cerah, juga berbinar. Dia memeluk Cecilia dengan gembira.


"Aku akan siap siap untuk besok."


Cecilia menarik dirinya, lalu menatap Ines. "Tapi kak Ines harus percaya sama aku!"


"Percaya?"


"Hm ... Aku pastikan Satya datang nemuin kak Ines dan meminta maaf."


"Apa maksudmu?"


.


...Bakal ada 1 chap lagi nanti. Tungguin yaa, dan tinggalkan jejak yang banyak kalau kalian suka, oke Cecelover? Wkwk....