
Nita semakin pergi menjauh, tentu saja dengan air mata yang membasahi wajahnya tidak karuan. Mereka sudah saling mengenal sejak berusia 14 tahun dan baru kali ini berselisih faham sampai memutuskan pergi dan tidak lagi peduli. Cecilia menatap punggung sahabatnya, dia yakin kemarahan Nita tidak akan lama seperti biasanya.
"Nit. Lo pasti bakal ngerti!" gumamnya seraya membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam unit milik Ines yang di tinggalinya sementara waktu.
Kejadian itu telah sampai di telinga Irsan, siapa lagi kalau bukan dari Carl. Irsan yang tengah duduk disofa pun bangkit setelah terdengar bunyi pintu terbuka.
"Kau menemui Ibu lagi?"
Cecilia mengangguk lirih, fikirannya bercabang karena dua masalah yang cukup serius.
"Apa yang kau lakukan. Astaga!" Irsan memijit pelipisnya dengan sedikit keras.
"Kenapa? Kau juga mau menyalahkanku dan bilang ini hanya salah faham dan aku akan nyesel."
"Setidaknya bicara padaku lebih dulu dan jangan gegabah seperti ini Cecilia."
Irsan tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Cecilia, tapi dia juga tidak bisa di salahkan sepenuhnya karena informasi tentang pekerjaannya sangatlah minim.
"Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan bisa diam aja saat kau kesulitan kan? Jadi aku akan melakukan apapun untuk membantumu." lirih Cecilia dengan wajah muram, sungguh fikirannya kini benar benar kacau terlebih memikirkan Nita sahabatnya.
"Kemarilah sayang!" Irsan merengkuh bahu Cecilia dan memeluknya erat. Tentu saja Cecilia maju dan melingkarkan tangan dipinggang pria berusia 40 tahun itu, karena pelukannya yang saat ini dia butuhkan.
"Kau tahu kenapa aku harus kembali ke perusahaan?"
Cecilia terdiam mendengarkan dengan kepala yang menempel di dada bidang milik Irsan.
"Aku harus ke sana karena perusahaan sedang collap Cecilia, mereka membutuhkanku walau aku sendiri pun tidak terlalu mengerti dunia bisnis. Tapi aku benar benar harus kesana, Ibu tidak tahu soal ini karena Carl yang menutupinya. Jadi anggap saja Carl melakukan semua ini agar aku bisa kembali dan membuatnya seolah Ibu tidak memiliki pilihan lain dan menerimamu dengan baik. Seolah membuat semuanya terkesan terpaksa karena Ibu dan aku tidak punya pilihan lain." terangnya dengan jelas.
Cecilia menengadahkan kepala melihat wajahnya yang tampak serius, dan berfikir jika kali ini apa yang dilakukannya benar benar gegabah.
"Hah?"
Irsan sedikit menunduk, hingga keduanya saling beradu pandang. "Iya Cecilia. Kurang lebih seperti itu."
"Jadi ....!"
"Kau memang selalu bertindak dengan cepat, tapi sayangnya kali ini kau terlalu gegabah."
"Jadi itu maksudnya ... Maksudnya, aku ... Nita sampai marah sama aku! Iihh ... Harusnya kau bilang dari awal, aku udah marah marah sama semua orang termasuk Nita," Dengus Cecilia dengan memukul dada Irsan dengan keras.
"Aw ... Sakit sekali! Tenagamu kuat sekali."
"Ish, masih kalah dengan tenagamu!"
Tiba tiba ponsel Irsan berdering, dia pun merogohnya dari dalam saku celana, perlahan pelukan mereka pun mengurai.
"Ada apa?"
"Oke!"
Irsan kembali memasukkan ponsel kedalam saku celana. "Aku harus pergi, jangan kemana mana sampai aku kembali. Faham? Dan kali ini kau harus menurut pada ku. Jangan lakukan apa apa."
Cecilia berdecak pelan, "Iya ... Iya ... Lagian aku juga capek, sejak pagi emosiku naik turun gak jelas."
Cup
Irsan mengecup keningnya sekilas, membuat gadis yang tengah banyak fikiran itu terkesiap dibuatnya, namun tidak berlangsung lama karena Irsan sudah langsung beranjak pergi.
"Ihh ... Terus aja gitu! Sekilas sekilas kayak stempel doang, gak mau apa kamu maen ranjang ranjangan lagi."
***
Sementara Embun kini terduduk di sofa dengan secangkir teh herbal hangat di tangannya, memikirkan banyak hal berkaitan dengan ucapan Cecilia.
Carl berdiri disampingnya, cukup lama sampai dia merasa kedua kakinya pegal saking lamanya dia berdiri.
"Tante?" tanyanya Lirih.
"Carl ... Bagaimana menurutmu tentang Cecilia? Kenapa semakin lama dia semakin membuatku terkejut saja." tukas Embun yang masih tahan dengan memegang cangkir tanpa berniat meminumnya.
"Aku pun sama terkejutnya dengan mu tante, dia itu wanita perkasa. Tidak mudah ditindas."
"Lalu apa kau sudah menemukan keluarganya?"
Carl terdiam, sungguh itu bukan hal sulit baginya, namun dia juga tidak ingin gegabah mengenai hal ini ditambah Irsan belum tentu tahu soal ini.
"Sedang aku usahakan Tante, tante tenang saja. Setelah urusan ini selesai. Kita akan mengurus hal itu secepat mungkin." pungkas Carl, namun Embun tampak diam dan tidak menjawabnya.
"Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku Bu!" seru Irsan yang baru saja datang dan mendengar ucapan terakhir dari Carl.
"Kau ini mengagetkan saja!" Carl mengusap dadanya lembut.
"Ada apa dengan wajahmu?" tunjuknya pada pipi Carl yang terlihat memar.
Carl mendengus serta memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Embun mengulas senyuman karena kembali ingat jika Cecilia lah yang memukul Carl.
"Kau memang pantas mendapatkannya Carl. Jadi terima sajalah." desis Embun tanpa ingin menoleh sedikitpun pada keduanya yang berdiri tepat disampingnya.
"Apa maksud ibu?"
"Tanyakan saja pada pacarmu itu! Gadis bar bar yang membuat wajahku yang tampan ini jadi begini."
Irsan terbeliak sempurna, memalingkan wajah sahabatnya itu menjadi ke arahnya hingga dia dapat melihatnya dengan jelas.
"Cecilia yang melakukannya padamu? Karena apa. Kau mengganggunya? Oh ... Kau pasti mengganggu sahabatnya Nita kan?"
"Tidak. Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu?" sanggah Carl dengan melengos. "Aku lupa jika besok kau harus segera ke kantor! Aku pergi." ucapnya lagi mengayunkan kedua kakinya keluar dari unit mereka.
Kini, tinggallah Irsan dan Embun yang hanya tinggal berdua saja. Cukup lama keduanya saling terdiam dan sama sama tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Irsan tampak menghela nafas, masih menunggu kenapa dia harus segera menemui ibunya namun nyatanya hanya menjadi patung.
"Aku sudah putuskan kalau aku akan kembali tinggal di sini." tukas Embun pada akhirnya.
Irsan tentu saja tersentak kaget, "Kenapa tiba tiba Bu? Bukankah aku juga harus ke singapure untuk mengurus perusahaan yang ada di sana?"
"Ya ... Pergilah setelah semua urusan di sini selesai."
Irsan mengulas senyuman dengan kecut. "Ibu fikir semua akan selesai begitu saja? Aku akan cuti dari rumah sakit, tapi sebelum itu ... Jangan lakukan apa pun tanpa sepengetahuanku atau aku tidak akan memaafkan ibu kali ini."
"Iya ... Ibu tidak akan melakukan apa apa! Dan katakan pada Cecilia untuk mengambil kembali barang yang sudah ibu berikan, besok Ibu akan kembali tinggal di rumah lama kita. Dia bisa kembali tinggal di sini tapi kau ikut Ibu pulang, Ibu tidak mau memiliki cucu sebelum kalian menikah!"
"Menikah?"
Embun menoleh ke arah Irsan yang masih terkesiap dengan ucapannya. "Kau kaget?"
"Ibu tidak salah bicara?"