
Cecilia terkikik saat keluar dari ruangan VVIP yang ditempati Embun, keisengannya berbuntut panjang karena Embun kini terus berteriak memanggil suster, beruntung karena Embun tidak bisa menjangkau bell Nurse yang berada di atas kepalanya karena jaraknya cukup jauh dan pergerakannya terhambat karena jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.
"Susteer!"
Teriakan Embun masih bisa Cecilia dengar saat berada di ujung lorong, gadis itu sempat menoleh dan mengulas senyuman sesaat akan masuk kedalam lift. Pintu lift tertutup berbarengan pintu lift di sebelahnya yang terbuka, Ines keluar dan mendengar suara teriakan itu juga terdengar semakin jelas, setelah memastikan bahwa itu suara Embun, adik dari sepupu Irsan itu pun berlari ke arah ruangan.
"Bibi. Apa yang terjadi?"
"Ines, tolong Nes. Buka infusan ini! Aku mau pulang sekarang juga. Mana Toni, suruh dia mengurus kepulanganku ke Singapura." tukas Embun dengan wajah risau, dia panik dengan terus mengacungkan tangan, "Infus ini beracun, dia akan membunuhku. Gadis itu ... Gadis itu, tadi di kemari dan ... Dan---" ungkapnya lagi dengan semakin panik.
Ines meletakkan cup kopi yang baru saja dia beli di tas meja disamping ranjang. "Apa yang Bibi bicarakan! Mana mungkin Infus ini beracun, gadis itu siapa ... Mana dia?"
"Veronica Cecilia! Dia tadi kemari dan memberiku racun. Cepatlah lepaskan infus ini!"
"Cecilia? Mana dia, dia tidak ada di sini, dia masih berada di apartemenku Bi. Mana mungkin juga dia memberi Bibi racun." Sanggah Ines, mengelus lengan Embun agar tenang, "Tenanglah! Mingkin Bibi hanya bermimpi."
"Kau fikir aku mimpi! Itu benar Ines, kalau kau tidak percaya, suruh suster kemari saja!"
Ines menghela nafas, sifat Embun yang keras kepala dan tidak percayaan itu membuatnya bingung, dia pun menekan bell nurse. "Oke ... Sekarang aku udah panggil suster! Dan Bibi harus tenang oke! Jangan begini, tuh lihat tanganmu sudah berdarah karena terus bergerak gerak."
Seorang suster masuk, dan menghampirinya. Begitu juga suster yang selalu ikut dengannya. Dibelakangnya juga ada Toni yang menyusul.
"Dari mana saja kalian? Kenapa pergi dan tidak menjagaku." sentaknya, "Urus kepulanganku malam ini juga!"
Ines berbicara pada Suster rumah sakit, mengatakan apa yang terjadi pada Embun juga perihal infus yang katanya beracun. Suster itu mengangguk mengerti, dia melepaskan infus dan memeriksanya. Namun Infus itu tidak berubah sama sekali, lagi pula.
"Tidak mungkin ada seseorang yang sengaja memasukkan sesuatu pada Infus ini, kamar ini juga di pasangi CCTV, kalau kalian mau. Silahkan memeriksa untuk memastikannya. Tapi aku rasa infus ini tidak bermasalah, mungkin Nyonya Embun bermimpi atau berhalusinasi." Bisiknya pada Ines.
"Terima kasih atas penjelasannya Sus!"
Suster pun mengganti tabung infus dengan infus yang baru yang dia bawa agar Embun tenang, selain itu. Dia juga membawa tabung infus yang telah kosong.
"Mungkin seseorang hanya menggantinya saja! Maaf inu keteledoran kami yang berjaga. Karena jam Istirahat, kami tidak sempat memeriksa infus yang habis dan perlu di ganti." ujarnya lagi pada Ines.
"Ya sudah Sus! Ganti saja yang baru agar Bibi tenang." sahut Ines yang langsung keluar dari ruangan dan menghubungi Irsan.
Suster kembali keluar dari ruangan setelah tugasnya selesai. Ines buru buru bangkit dan menyusulnya.
"Sus! Tahu Dokter Irsan kemana? Aku tidak bisa menghubunginya." tanya Ines yang berulang kali sambungan teleponnya diabaikannya.
"Oh ... Dokter Irsan masih di ruang Operasi."
"Oh!" Ines hanya beroh ria saja.
Gadis berumur 27 tahun itu kembali masuk dan duduk di sofa, sementara Toni dan suster tampak kebingungan karena Embun bersikeras ingin pulang saat itu juga.
"Bibi ... Lebih baik kita tunggu Irsan saja, dia akan semakin marah dan akan terus mengabaikan Bibi kalau Bibi begini terus!" ujar Ines menohok.
Embun terdiam seketika, "Ini pasti ulah gadis itu, dia sengaja agar membuat hubunganku dan anakku semakin buruk saja!" Gumamnya sendiri.
"Aku akan menemui Irsan dan menyuruhnya kemari secepat mungkin, tapi Bibi tidak boleh seperti tadi. Bibi harus tenang ya." Ujarnya mengelus bahunya lembut.
Embun tidak menjawabnya, tidak juga bereaksi apa apa, fikirannya justru terpacu pada Cecilia yang dia duga dengan sengaja melakukannya.
Awas saja, aku akan buat perhitungan dengannya.
Ines keluar dan menghela nafas berat, mengurus adik dari ayahnya itu sangat menguras energi dan fikiran. Ditambah sifat keras kepalanya yang membuatnya kesal tapi tidak bisa melakukan apa apa.
"Kau disini. Kudengar Ibu membuat keributan?" ujar Irsan yang baru saja tiba dan berdiri di belakangnya. Ines membalikkan tubuhnya dan bisa bernafas lega karena melihat orang yang dia tunggu sejak tadi. "Oh god! Untunglah kau datang. Kau lihat ibu mu sana, dia mengatakan hal hal yang tidak tidak, masa dia bilang cairan infusnya telah diracuni ... Dan lebih parahnya lagi, dia bilang yang melakukannnya itu adalah Cecilia. kan heran!"
Irsan terhenyak, "Cecilia?"
"Hm ... Cecilia kan kau larang kemari! Mana mungkin dia kemari dan melakukan hal itu. Ibu mu sudah keterlakuan!" Ines menggelengkan kepalanya.
"Benarkah?"
Gadis itu memang nakal, sudah kubilang jangan kemana mana, ini malah keluyuran dan menemui ibuku! Batin Irsan yang langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan.
"Ibu kau tidak apa apa?" Irsan mendekati ranjang dan melihat infusan yang telah berganti, dia menatap meja dan juga ranjang di mana ibunya terbaring.
"Ibu tidak apa apa, ibu nyaris saja celaka! Kau lihat infus itu, mereka harus menggantinya lagi." tunjuknya pada tabung infus yang menggantung di tiang.
Irsan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada ibunya, dia memang tidak percaya kalau Cecilia akan melakukan hal semacam itu, meracuni seseorang adalah kejahatan, dan Cecilia tidak akan sampai melakukan hal jahat pada orang lain, tapi kenakalan gadis itu selalu tidak bisa dia prediksi, kelakuannya selalu di luar nalar.
"Syukurlah kalau ibu tidak apa apa, aku akan memeriksa CCTV." Ujarnya berbalik,
Namun Embun mencekal lengannya, wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, "Toni sudah melakukannya, kalau pun aku mengatakannya, kau pasti tidak akan percaya pada ibu kan?"
"Apa yang ibu katakan?"
"Apa kalau ibu mengatakan semua ini ulah gadis kurang ajar itu kau akan percaya Ibu?"
"Bu! Sudah aku bilang berapa kali!"
"Kepalaku sakit, penglihatanku juga berkunang kunang," lirihnya sendu.
"Tidak ada yang harus di khawatirkan, sekarang ibu Istirahat, aku akan memeriksa sesuatu." Ujarnya dengan menggenggam tangan Irsan.
Hangat, begitulah yang di rasakan Embun saat tangan keriputnya berada digenggaman sang putra satu satunya. Tanpa terasa air mata mengaburkan pandangannya.
"Jangan menangis bu! Semua akan baik baik saja, tidak ada racun di tubuh ibu, percayalah."
"Ibu tidak menangis karena hal itu, tapi karena hal lain. Sudah lama rasanya kau tidak memegang tangan ibu seperti ini Nak. Ibu hanya terharu."
"Ibu...!"
.