
Setelah kepergian Ines, kedua gadis berusia 20 tahun itu duduk di balkon. Menatap indahnya hamparan langit berwarna orange, senja telah menampakkan dirinya, mengganti awan kebiruan yang mulai memudar.
"Gimana Nit?"
"Lo tenang aja Ce, gue pasti bantu lo." Nita menepuk nepuk pelan bahu sahabatnya.
"Makin dewasa kita kok kayaknya masalah gak habis habis ya, malah tambah banyak." ujwrjya membalikkan tubuh, bersandar pada pagar setinggi pinggang di belakangnya.
"Hm ... Apalagi buat kita berdua Ce, kita yang nyari tuh masalah, coba kalau enggak. Kita udah pasti hidup tenang." Nita menghela nafas, masih menatap langit senja.
"Ya ... Tapi kita masih miskin! Mau lo? Mending kalau jadi Nia, punya masalah pun ada yang bantuin, lakinya berkuasa, sekali gebrak ... Mampus semua. Lah gue?" Cecilia ikut menghela nafas, "Boro boro dibantuin, dia taat banget aturan, jiwa kewarganegaraannya kentel banget." lanjutnya lagi.
"Cari Daddy lain aja lagi lah! Yukkk ..." Nita terkekeh, "Tuh si Carl goda godaan gue mulu, tapi gak gerak gerak."
"Carl?"
"Itu temen pacar lo, yang waktu itu."
"Oh ...!" Cecilia hanya beroh ria saja, tanpa ingin membahasnya lebih lanjut, "Sikat aja kalau gitu."
"Terus kontrak gue sama si killer? Enggak deh, gue gak berani ...!"
Cecilia masuk ke dalam, "Penakut lo ah!"
Namun tidak lama kemudian, dia kembali keluar dengan botol wine dan dua gelas yang dia bawa.
"Mungpung Irsan gak ada, lo nginep sini aja. Si Sila juga." menyerahkan gelas pada Nita.
"Yoi ... Kita pesta, sebelum surat panggilan kepolisian datang." Nita tergelak,
"Anjim lo Nit! Tadi nenangin gue, sekarang ... Bego lo!" sentak Cecilia namun juga terkekeh, "Palingan gue suruh wajib lapor doang kan."
Keduanya menenggak minuman hingga habis 2 botol, tertawa lepas menceritakan hal hal konyol, melupakan sejenak masalah yang menimpanya, menikmati hidup tanpa harus mengingat betapa beratnya hidup mereka, walau di balik tawa, keduanya sama sama menyembunyikan rasa takut dan khawatirnya.
Sila berdiri di ambang pintu balkon, dia dilarang keluar oleh dua orang yang selama ini memperlakukannya dengan baik, dia juga berkali kali berdecak kesal karena tidak diajaknya minum.
Sampai waktu terus berputar dan semakin larut, Sila memilih tidur di sofa dan membiarkan keduanya yang masih berada di balkon.
Bunyi pintu terdengar, alangkah terkejutnya Irsan saat melihat unitnya berantakan, sisa makanan berserakan di atas meja, gelas gelas dan piring kotor pun tergeletak begitu saja.
"Astaga! Padahal aku sampai memesan tiket pesawat malam hanya karena takut membuatnya khawatir, tapi ternyata dia justru berpesta di sini." ujarnya berkacak pinggang dengan menatap Cecilia dan Nita yang kini tertidur dengan kepala tertelungkup di atas meja.
***
Cecilia menggeliatkan tubuhnya, merasa aneh kenapa kursi yang semalam keras kini berubah empuk dan juga hangat, hembusan nafas hangat di sebelahnya membuatnya membelalak sempurna.
Sejurus kemudian dia terduduk dengan kaget, kedua matanya menyapu ruangan yang kini berubah, lalu beralih pada seseorang disampingnya. "Astaga!"
"Ada apa?"
"Kapan kau pulang? Nita sama Sila ... Semalam mere---"
"Mereka sudah pulang!" Tangan Irsan menarik pinggang Cecilia hingga gadis itu kembali terbaring di sampingnya, dia juga melingkarkan tangannya di perut Cecilia, tentu saja dengan kedua mata yang masih terpejam.
Cecilia justru heran dengan perubahan yang diperlihatkan pria yang tidak banyak bicara dan tidak pula peka itu, benar benar berbeda.
"Kau bukan Irsan!"
Pria itu mengangkat segaris tipis bibirnya, masih memejamkan mata disertai pelukannya yang semakin dia eratkan.
"Kalau aku bukan Irsan. Lalu aku siapa?"
"Irsan gak mungkin ngelakuin ini! Dia gak normal alias gak suka perempuan."
Irsan tidak juga membuka mata, namun bibirnya semakin melengkung karena ucapan Cecilia yang asal."Siapa bilang?"
Sial ... Kapan dia pulang, dia pasti yang pindahin gue ke kamar, si Nita gak bilang bilang lagi sama gue. Sialan tuh orang.
"Tidak usah khawatir, sekarang kau memiliki seseorang yang bisa kau andalkan. Kau hanya perlu mengatakannya."
Cecilia terdiam, terlebih saat Irsan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan tangan semakin melingkarinya.
"Apa yang kau magsud?" Cecilia membalikkan kembali tubuhnya, hingga keduanya kini saling berhadapan.
Detak jantung Irsan semakin bergemuruh, perlahan lahan dia membuka kedua matanya dan menatap Cecilia.
"Kau tahu apa yang aku maksud Cecilia."
"Aku gak tahu!"
Irsan menyempilkan anak rambut yang berantakan ke sela telinganya, "Irene melaporkanmu ke polisi atas dugaan pemalsuan data dan juga penipuan."
Kedua mata Cecilia terbelalak, bukan kasus yang dia duga sebelumnya melainkan tentang perbuatannya dan Sila.
"Dari mana kau tahu?"
"Tidak penting aku tahu dari mana Cecilia. Yang jelas, aku akan selalu membantu."
Cecilia kembali terdiam, tak percaya jika seorang Irsan mengatakan hal yang membuat hatinya menghangat. Begitu juga Irsan yang kini hanya menatapnya lekat.
"Aku sudah menghubungi temanku, dia akan membantu menyelesaikan semuanya, Irene bukan orang sembarangan, tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Kau paham?"
Ada yang lebih menghangat sekarang, kedua matanya tiba tiba mengabur begitu saja, bulir bening turun dengan perlahan, baru kali ini dia merasa menjadi manusia biasa.
Selama ini tidak ada yang peduli padanya, pada masalahnya, pada ketakutan yang di alaminya, dan juga kegundahan hatinya, kehadiran Irsan membuat sisi lemahnya muncul, seorang gadis yang butuh perlindungan, butuh seseorang yang bisa memegangnya dan menariknya dalam lumpur, dan tidak pergi walau tahu dia kotor.
"Hey ... Jangan menangis! Jelek sekali melihatmu menangis seperti ini." Irsan menyeka air mata di pipinya.
"Aku teringat seorang ayah yang dulu selalu melindungiku dari pukulan ibu." gumam Cecilia.
"Dasar ... Jadi kau menganggapku ayah?"
Cecilia menggelengkan kepala, lalu menenggelamkan diri dalam rengkuhan pelukan Irsan. "Aku hanya ingat padanya,"
"Aku mengerti Cecilia ... Jangan khawatir."
"Kemana kamu pergi kemaren? Ines bilang kau keliar kota."
"Hm ... Menemui temanku yang akan membantumu, dia memasang tarif sangat mahal untuk itu, bahkan aku harus menyusulnya ke sana."
"Kamu akan kehilangan banyak uang hanya gara gara aku."
"Bukankah kau suka uang? Aku akan bekerja lebih giat lagi, kalau perlu aku tinggal di rumah sakit dan lembur." Irsan terkekeh.
Cecilia mendongkakkan kepalanya, "Aku emang suka uang, tapi aku gak tega kalau kau sampai melakukan hal itu?"
"Tentu saja tidak Cecilia, kau fikir aku semiskin itu? Kalau benar aku tidak punya uang, kenapa kau masih mau bersamaku coba?"
Cecilia berdecak pelan, "Ya aku juga gak tahu kenapa! Kau bahkan pelit sekali."
Irsan tergelak, "Benarkah?"
"Hm ... kau tidak pernah memberiku uang."
"Aku memang tidak ingin memberimu uang Cecilia, tapi aku memberimu peluang mendapatkan uang sendiri, kau sudah mandiri sejak lama, tapi kau selalu menolaknya, uang akan habis, tapi peluang mendapatkan uang dengan cara yang benar selalu ada. Kau mengerti maksudku?"
.
.