I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.194(Kolot Banget)



"Ibu? Gini dong bu. Peluk gini."


Carl terkekeh mendengar ucapan Cecilia yang terlalu berani itu, bahkan dia tidak takut sedikitpun pada Embun, padahal wanita paruh baya itu benar-benar tidak bisa bersikap baik padanya. Irsan mengulas senyuman sangat tipis dengan terus melirik ke arah ibunya yang berkali kali mendengus kasar.


" Ayo dong Bu peluk gini aja." ujar Cecilia.


"Iya Tan, biar lebih bagus dong!" Tambah Carl seraya terkekeh.


Cecilia yang semakin sengaja itu terus menggodanya. "Bu gini nih!" Ujarnya lagi dengan memperagakan agar Embun mengikutinya, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Irsan dan membuat embun berdecak lagi.


"Kau ini Cecilia!"


Tetapi Embun pun melakukan arahannya, membuat Irsan tersentak karena tiba-tiba sang Ibu melingkarkan tangan pada lengannya. Tubuh yang sejak tadi kaku kini mulai terlihat santai dan senyuman tipis terbit dari wajahnya.


"Tuh kan Ibu cantik kalau senyum, ya kan?" katanya pada Carl.


Carl mengangguk, "Oke! Tahan. One two three!"


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Suara kamera ponsel pun kembali terdengar beberapa kali, Carl terkeke saat melihat hasil jepretannya, Cecilia mendongak ke arahnya guna melihat hasil kamera itu, "Coba aku lihat?"


Sementara Embun masih terdiam dengan tangan yang melingkar di lengan Irsan. Cukup lama hingga keduanya saling menatap lalu mengulas senyuman. Tidak ada yang lebih menghangatkan dari peristiwa itu walaupun terlihat masih canggung namun kedua yang kini duduk dengan lebih dekat. Sama sama merasakan sesuatu di hatinya yang bergetar hebat, merasa lega satu sama lain.


Embun mengelus lemgannya dengan lembut, kedua maniknya kini berkaca kaca kembali. "Apa kau baik-baik saja?" gumam Embun yang hanya terdengar oleh Irsan.


"Ya ... Aku baik baik saja." jawabnya dengan menyentuh punggung tangan sang ibu yang masih mengusap lengannya.


Tidak banyak kata diantara keduanya, namun saat kembali bertatapan, mereka sadar kalau selama ini jarak keduanya yang semakin jauh itu dipicu hal sepele, mengatas namakan tidak saling mengerti satu sama lain dan juga egois.


Cecilia maupun Carl yang tanpa sengaja melirik ke arah mereka pun saling menatap. Keduanya tersenyum dengan kedua alis yang naik turun.


"Perlu skill dewa untuk membuat mereka kembali akur, mereka berdua memiliki sifat yang sama. Dan kau telah berhasil Cecilia."


"Aku?"


"Ya. Lihatlah mereka, walau masih terlihat canggung, tapi keduanya berhasil mengenyampingkan egonya masing-masing sekarang Cecilia." pungkas Carl.


Cecilia mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia kembali berbisik pada Carl. "Aku senang melihatnya aku juga. Good job cantik ... kau memang luar biasa." "Thank you Carl, apa kita tinggalkan saja mereka berdua aja? Aku lupa kalau aku ada janji sama orang!"


"Hah?"


Cecilia mengambil ponselnya yang masih Carl pegang, "Mampus! Gue lupa gak ngabarin Nita."


Irsan yang mendengarnya pun menoleh kearahnya dan bertanya. "Ada apa?"


"Aku ... Lupa kalau tadi aku ada janji sama Nita buat makan siang." Cecilia menepuk jidatnya sendiri saat membaca semua pesan singkat yang berisi umpatan dan cacian yang dikirim Nita padanya.


"Sorry Nit ... Gue pergi dadakan tadi! Dan kali ini sangat penting, abis ini gue temuin lo ya!" Sambil mengetik apa yang dia ucapkan sendiri.


"Kau ini!"


Cecilia terkekeh, "Gak masalah sayang, Nita pasti ngerti nanti, ini masalah masa depanku." bisiknya pada Irsan.


Pria berusia 40 tahun itu mengulas senyuman, lalu mengacak pucuk rambut Cecilia. "Makanlah, setelah selesai, aku akan mengantarmu ketempat Nita."


"Kau tidak boleh kemana mana dulu hari ini. Temani aku ke satu tempat!" Celetuk Embun yang bicara tanpa ingin melihat Cecilia.


Ketiga orang yang berada disampingnya itu tersentaj saat mendengarnya. Bahkan Irsan sampai melirik ke arah Ibunya.


"Memangnya Ibu akan membawanya ke mana?" tanya Irsan penasaran, dia takut jika Ibunya masih bersikeras membuatnya pergi walaupun ada kesepakatan di antara mereka.


"Kau tenang saja aku, tidak akan menyuruhnya untuk meninggalkanmu. Kou lupa aku sudah menerimanya?" Ihsan terdiam dia lalu melirik ke arah Carl untuk memastikan. Ada apa sebenarnya? Ke mana ibunya akan membawanya.


Pertanyaan yang tersirat hanya dengan tatapan matanya saja namun Carl mengerti. Dia mengangguk dan memastikan semua akan baik baik saja. Kegundahan hati yang saat ini sudah tidak lagi beralasan. Perjanjian untuk kembali ke perusahaan akan membuat Embun tidak akan berani bertindak diluar batas terhadap Cecilia.


"Aku tidak akan macam-macam Irsan." tegas Embun meyakinkan satu satunya putranya itu.


Cecilia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Irsan, "Tenang saja sayang, aku pikir aku sudah berhasil menjinakkannya." Bisiknya sangat pelan, sampai hanya Irsan yang bisa mendengarnya.


Pria dewasa itu terkekeh serta mengangguk. "Aku percaya padamu."


Dan benar saja, setelah acara makan siang bersama itu, Embun tidak mengijinkan Cecilia pulang, bahkan dia mengapit tangannya agar ikut dengannya dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.


Cecilia sedikit heran dengan perubahannya, namun dia juga terkekeh dengan menatap Irsan yang hanya diam melihatnya saat Embun menyuruhnya masuk.


"Ibu, aku ingin pergi sama pacarku aja!"


"Dia harus kembali bekerja! Kau ikut denganku."


"Iih ... Bu, bentar aja!"


"Bukankah kau bilang kau akan menurut padaku? Nanti juga kalian bisa bertemu, bahkan sepuasnya setelah aku kembali pulang." Tukas Embun dengan ketus.


Cecilia berdecak lalu melambaikan tangan pada Irsan dan juga Carl yang masih berdiri di sampingnya.


Tak lama, mobil pun kembali melaju dan Cecilia hanya bisa menatap Irsan yang semakin terlihat jauh.


"Padahal aku belum ngapa ngapain hari ini dengannya." dengusnya pelan.


Embun menoleh kearahnya dengan tatapan tajam.


"Iya iya ... Aku nurut kok sama Ibu, jangan melotot ah ... takut tahu Bu."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mengarah ke pusat kota. Hari yang menjelang sore itu membuat jalanan sedikit terhambat.


"Kita kemana sih bu? Ibu gak ngajak aku ke Klub kan?"


"Kau fikir aku akan mengajakmu ketempat seperti itu? Ngaco kau ini, Ibu sudah setua ini."


"Emangnya ada batasan umur, selagi punya akses masuk ya kenapa dilarang, kecuali kalau Ibu gak punya akses alias gak bayar. Iya kan?" Cecilia terkekeh sementara Embun berdecak lagi.


Sesaat kemudian mobil berhenti disebuah jewelry store yang cukup ternama.


"Ayo turun!"


"Bu? Ini kan Jewerly store. Ngapain kita kesini?"


"Hanya melihat lihat saja!" jawab Embun acuh, dia keluar dari mobil dan meninggalkan Cecilia yang masih mengerjapkan kedua mata.


"Tunggu! Apa Ibu mau belikan perhiasan buat gue? Kolot banget sih ngasih gituan."