I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.208(Membuat gaduh)



Motor melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan meliuk liuk mencari celah diantara deretan mobil mobil yang berjalan merayap. Membelah jalanan tanpa hambatan, disaat kendaraan lain terjebak dan tidak bergerak sama sekali, mereka berdua bisa keluar dari kemacetan dengan mudah.


Benar dugaan Irsan sebelumnya, bukan satu kebetulan karena tadi dia berubah fikiran dan mengganti kendaraan sebelum mereka terjebak kemacetan. Kelihaian Irsan dalam mengendarai kendaraan roda dua itu boleh di perhitungkan, dia cukup lihai walaupun selama ini jarang sekali terlihat membawa kuda besi miliknya ke jalan. Sementara Cecilia semakin merekatkan pelukan pada pria yang selalu berfikir panjang sebelum bertindak itu.


"Kenapa baru sekarang kau bawa motor kayak gini! Seru banget, aku jadi bisa meluk kamu." seru Cecilia dengan suara keras.


"Hm!" Jawab Irsan dengan cepat, bukan apa, karena dia memang hanya menggunakannya disaat tertentu saja.


Ada kebanggaan tersendiri yang lagi lagi tidak bisa di ungkapkan Cecilia tentang sosok Irsan yang membuatnya semakin jatuh cinta. Seorang pria yang selama ini terkenal sebagai seorang dokter pemegang penghargaan bergengsi dengan taraf internasional, seorang yang amat serius dan nyaris tidak pernah bercanda, segala ucapannya bukanlah isapan jempol atau bahkan bualan belaka. Dan segala tindakannya bisa di pertanggung jawabkan tanpa harus tergesa apalagi keluar dari norma.


Tepat 45 menit, keduanya telah sampai di depan rumah Cecilia, dengan mobil milik Embun yang masih terparkir sempurna.


Wajah Cecilia kali ini tampak tegang, sekian tahun dirinya tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumahnya sendiri, bahkan hampir lupa dengan aroma udara di perumahaan bersubsidi pemerintah itu.


"You ok?" tanya Irsan yang berusaha melepaskan helm dari kepala Cecilia karena gadis itu hanya berdiri mematung.


"Ya ... Aku baik baik saja."


Brak!


Tiba tiba suara keras terdengar dari dalam, membuat keduanya saling bertatapan lalu berlari masuk ke dalam.


"Kau bilang apa? Sudah ku katakan kalau anak kurang ajar itu yang melarikan diri dari rumah dan tidak pernah peduli pada orang tuanya."


Suara teriakan menggelegar dari seorang pria yang marah dan melemparkan botol ke arah Carl.


"Bastian!"


Cecilia berteriak ke arahnya, tentu saja dengan kemarahan yang tiba tiba memuncak, ruangan tamu yang memang tidak terlalu rapih itu semakin berantakan dengan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Kau pulang rupanya, setelah kau pergi bertahun tahun dan kembali kesini hanya untuk memamerkan hidupnya yang sudah kaya sekarang hah?" sentaknya pada Cecilia.


Carl menghampiri Irsan, menarik lengannya agar ikut dengannya. "Ini bukan ideku, ini murni ide Ibumu. Dia memaksakan pergi kesini dengan tujuan mengurus semuanya untukmu, tapi mereka tidak mau menerimanya karena---"


Irsan buru buru menghampiri Ibunya yang tengah berdiri ketakutan dibelakang suster yang menjaganya.


"Bu ... you oke?" Embun mengangguk,


"Cecilia, kenapa kau kemari hanya untuk membuat kami semua sakit hati, kau bersenang senang di sana sementara ayah dan ibumu menderita di sini." Lirih Bastian dengan wajah menyedihkan. "Lihatlah Ibumu." tunjuknya pada wanita paruh baya yang duduk menangis menatapnya.


"Kau yang membuatnya menderita. Bukan aku!"


"Dasar anak setan! Lalu untuk apa kau kemari dan mengirim orang orang sombong ini kemari hah?"


Tidak ada perubahan dari sang ibu yang sejak dulu hanya bisa diam dan menangis saat suaminya memperlakukan Cecilia dengan kasar bahkan menyiksanya, begitu pula dengan hari ini.


"Tunggu Cecilia! Biarkan aku yang bicara." Irsan mencekal lengannya sebelum dia berjalan keluar. "Ibu seharusnya bicara denganmu atau denganku sebelum kemari, tapi ibu tidak melakukannya. Kita tidak tahu ada masalah apa."


"Kurang jelas. Ayah dan Ibuku gak suka sama aku. Bagaimana mereka menerima Ibu mu disini. Apapun yang Ibumu lakukan di sini, masalahnya ada pada kedua orang itu." hardik Cecilia. "Lebih baik kita pergi saja."


Irsan menggelengkan kepalanya, "Duduklah ...! Kau juga Bu. Dan Kau katakan apa yang terjadi!" sentaknya pada Carl.


"Ayahnya marah karena Ibumu hendak melamar putrinya untukmu, dia tidak terima karena tahu karena hidupnya selama ini senang, sementara mereka hidup menderita di sini. Begitu kira kira." Terang Carl yang hanya menceritakan inti masalahnya saja.


Cecilia berdecih, ayah tirinya memang tidak pernah mau menerima dirinya, bahkan sangat membencinya. Ekor matanya menatap sang Ibu yang hanya bisa terdiam tanpa suara sedikitpun.


"Mereka emang gak suka sama aku dari dulu, aku juga heran kenapa bisa lahir ke dunia kalau hanya untuk mereka benci." tukas Cecilia dengan menatap sang Ibu.


Irsan menghela nafas, kesalahaan Ibunya yang terlalu gegabah dan merasa bisa menyelesaikan semuanya seorang diri.


"Sekarang pergilah kalian! Terserah kalian saja, mau menikahkan anak setan itu, terserah. Yang pasti kami berdua tidak akan datang." teriak Bastian yang hanya duduk di belakang. Berjalan mondar mandir tidak karuan.


"Ya jelas kau tidak perlu datang kalau aku nikah!" sentak Cecilia dengan kemarahan yang terlihat jelas dari wajahnya.


Embun yang merasa pembuat masalah menggenggam tangan Cecilia. "Maafkan Ibu Cecilia ... Ibu tidak tahu kalau respon mereka akan begini. Ini salah ibu."


"Gak apa apa Bu, tujuan Ibu gak salah kok. Ibu ngelakuin apa yang seharusnya seorang Ibu lakukan pada anaknya!" sindir Cecilia dengan menatap pada ibunya sendiri. "Mereka aja yang gak suka."


Ibu Cecilia menatapnya dengan berlinang air mata tanpa bisa melakukan apa apa.


Dan anehnya Irsan bisa melihat ada ketakutkan yang besar dari dirinya, ditambah keringat dingin membasahi dahi dan tangannya mengepal satu sama lain.


"Sudahlah ... Sana pergi! Urus urusan kalian di sana." lagi lagi Bastian berteriak.


"Bisakah anda diam dan duduk dengan tenang, aku ingin bicara!" Tegas Irsan.


"Tidak bisa! Sudah sana pergi, ibunya dan aku tetap tidak akan pergi kalau anak sial itu menikah." tunjuknya pada Cecilia yang berdiri disamping Irsan.


Irsan tidak peduli pada Bastian, yang dia khawatirkan sejak tadi justru Ibu Cecilia.


Sepertinya dia mengalami trauma yang panjang dan lama. Gejalanya persis seperti itu, diam dan tidak peduli pada sekitarnya.


"Halo Ibu ... Aku Irsan, pacar putrimu yang dokter itu. Kita pernah bertemu di telepon. Kau ingat? Maaf sebelumnya karena ibuku datang kemari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan membuat kegaduhan di rumah ini." tukas Irsan tiba tiba. Dia tidak bisa menahan diri saat melihat Ibu dari gadisnya itu terlihat menahan sakit.


Sang Ibu menoleh padanya, begitu juga dengan Cecilia yang tidak menyangka jika Irsan masih ingat betul ucapannya saat pertama kali mereka bertemu di coffe shop, kekonyolan Cecilia yang tiba tiba memperkenalkannya sebagai pacar dokternya. Sementara Ibu Cecilia masih tetap terdiam saja.


"Halah ... Sombong sekali!"


.