I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.78(Pura pura)



Alih alih membawanya ke ruang kesehatan yang ada di kantor itu, Irsan memilih membawanya ke dalam mobil, dan sengaja membiarkan pintu mobil terbuka dan seat mobil yang di luruskan.


Beberapa polisi yang diperintahkan untuk menemaninya karena Cecilia termasuk saksi dalam kasus yang menimpa Dirga dia usir agar menjauh, sebab dia tahu jika Cecilia sadar dan melihat polisi lagi sudah pasti gejala dari police Anxiety akan kembali muncul. Sebagai Dokter, Irsan tahu apa yang dilakukannya. Dia bahkan membentak polisi yang akan mendekat.


"Pertanyaan terakhir yang belum sempat di jawabnya. Apa itu?" tanya Irsan pada penyidik, sementara Cecilia dibiarkan begitu saja.


"Menurut psikolog, kesehatan mental Dirga cukup bagus, kau tahu sendiri bukan. Dia sangat kooperatif dalam menjawab pertanyaan kami, dan emosional hanya pada saat berhadapan dengan Nona Cecilia. Tapi dia memiliki riwayat sakit mental."


Irsan yang bicara tidak jauh dari mobil dimana Cecilia terbaring kini menatapnya.


"Sepertinya Nona Cecilia mengetahui hal itu. Dia shock dan pingsan." ujar kepala polisi itu lagi.


Irsan menghela nafas mendengar keterangan polisi yang sudah tentu tidak asal memberikan informasi itu.


"Bisa aku bicara dengan Dirga?"


"Silahkan."


Irsan meninggalkan Cecilia begitu saja, seolah tidak peduli dengannya. Dia kembali masuk ke dalam dan diantarkan oleh seorang petugas ke ruang tahanan.


"Silahkan tunggu di sini Dok." serunya saat diruang besuk.


Sementara petugas bicara dengan sipir penjara, tak lama sipir itu masuk ke ruang tahanan.


"Saudara Dirga. Ada yang ingin bertemu denganmu." seru sipir penjara pada ruang tahanan di mana Dirga tengah meringkuk.


Dirga bangkit dengan gontai tanpa mengatakan apa apa. Gelang besi telah di pasang kembali di pergelangan tangannya, lalu berjalan menuju ruang besuk.


"Kau. Untuk apa kau menemuiku?" tanya Dirga saat menghempaskan tubuhnya. "Masih belum puas ternyata kau padaku, setelah kau melaporkan aku. Sekarang apa lagi?" ucapnya lagi.


"Cecilia sekarang menjadi saksi kasusmu ini! Dia pingsan setelah beberapa pertanyaan dari polisi." ujar Irsan dengan tenang.


Dirga mendengus pelan, "Dia memang tahu aku pemakai, tapi dia tidak terlibat sama sekali."


"Aku tahu dia sudah berhenti memakainya, dia juga yang menyebabkan kau begini kan karena kebodohannya kan?" Irsan berdecih mengingat kebodohan Cecilia yang meminta membuktikan cintanya. "Maka dari itu dia tidak pernah melaporkanmu walaupun kau berbuat kasar padanya, sampai hampir membunuhnya."


"Dia emang jago sandiwara." desis Dirga saat kembali mengenang masa silam dimana dia melakukan kebodohan saat Cecilia meminta pembuktiaan padanya.


"Kau tahu kenapa?" tanya Irsan lagi. "Dia merasa bersalah padamu, selain itu. Dia ikut bertanggung jawab sampai memintaku mencabut laporanku. Dan meminta kau masuk rehabilitasi saja."


Dirga melebarkan kedua maniknya, tidak menyangka Cecilia masih mau melakukan hal itu untuknya. Kepedulian yang Dirga rasa sudah tidak ada sebab keburukkan yang dilakukannya.


"Terus apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Dirga tanpa melihat ke arahnya


"Aku bisa mencabut laporanku saat ini juga atau pun tidak, itu semua tergantung padamu."


"Apa maksudmu?"


"Katakan saja hal apa yang membuatmu memiliki catatan psikolog berkaitan dengan mental bermasalah. Atau jangan jangan itu milik Cecilia."


Dirga terperanjat mendengarnya, hal yang menurutnya sudah tidak lagi penting itu justru kembali di korek. Padahal itu sudah lama sekali.


"Aku tahu Cecilia akan menjaganya dengan baik." ujarnya lirih dengan kepala tertunduk lemah.


"Apa maksudmu?"


"Entahlah! Lebih baik kau urus saja kasus penyalah gunaan narkoba itu. Hal yang lainnya tidak perlu." Dirga bangkit dari duduknya lalu kembali masuk tanpa mengatakan apa apa lagi.


Sementara Irsan di buatnya bingung. Jelas dia harus tahu, dan ini tidaklah mudah ternyata.


Sepertinya mereka berdua memang menutupi sesuatu. Atau jangan jangan yang bermasalah justru Cecilia.


Irsan kembali ke luar tanpa mendapat jawaban yang pasti dari Dirga, dia kembali melihat Cecilia yang kini hanya diam terduduk.


"Kau baik baik saja?"


"Kenapa ninggalin. Orang mah pacar itu di tungguin!" Dengus Cecilia, dia membuka pakaian atasnya yang tentu saja tidak nyaman sekarang.


"Aku gerah! Ini sesak tahu, gak pengertian banget."


Irsan hanya bisa menghela nafas melihatnya, dia pun segera menutup pintu agar Cecilia leluasa membuka pakaiannya.


"Dih ...!" decihnya saat melihat Irsan hanya berdiri di luar mobil dan menunggunya dari pada masuk ke dalam mobil.


Tak berselang lama, Cecilia membuka pintu agar Irsan tahu jika dia sudah selesai, setelah itu barulah dia masuk.


Irsan masuk dan memegang setir mobil tanpa ingin melajukannya. Lalu menoleh pada Cecilia yang menyandarkan punggungnya di seat mobil.


"Kau yakin tidak apa apa? Apa kita ke rumah sakit saja?"


"Gak apa apa!"


"Apa pertanyaan terakhir dari penyidik itu sangat sulit untuk kau jawab sampai kau berpura pura pingsan Cecilia?"


"Hey ... Siapa yang pura pura! Aneh, itu beneran tahu."


"Aku seorang dokter Cecilia ingat itu."


Cecilia pada akhirnya terkekeh dengan wajah yang memerah, karena kelakuannya diketahui oleh Irsan.


"Padahal Actingku bagus banget tadi!" gumamnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Irsan mendengus, "Kau sengaja menghindari pertanyaan itu agar tidak menjawabnya dengan benar bukan?"


"Bukan. Aku memang capek tadi, mereka kasih pertanyaan banyak banget. Dan kau tahu kan itu cuma di ulang ulang dengan kata yang beda aja."


"Ce ... Ce! Ada ada aja kelakuanmu itu! Sekarang katakan padaku. Aku harus tahu semuanya."


"Tidak ada apa apa! Aku berani sumpah demi nenek moyangku."


"Jangan bercanda Cecilia! Aku serius."


"Punya pacar galak banget!"


Irsan mendengus menatapnya, sementara Cecilia terkekeh tanpa dosa.


"Kita bicara di tempat lain!"


Irsan akhirnya melajukan mobil dari sana, dia mengarah pada sebuah kafe yang tidak jauh. Cecilia melingkarkan tangan dilengan pria yang katanya pacarnya itu, walaupun Irsan tampak datar saja namun dia juga tidak menolaknya.


"Tahu juga kau tempat bagus!" Gumam Cecilia saat hendak duduk, namun justru dia masih berdiri dan menunggu. Sementara Irsan sudah duduk.


"Stthh." liriknya pada Irsan lalu pada kursi yang akan dia duduki.


"Apa?"


Cecilia berdecak dengan menarik kursinya sendiri, "Hello pacar ... Tarikin kek kursinya! Gak paham banget."


"Kau bisa menariknya sendiri kan."


"Ih ... Ngeselin dasar tiang listrik." gumam Cecilia tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak.


Keduanya memesan makan siang yang terlambat.


"Sekarang apa kau masih ingin aku mencabut laporan ku?"


"Ya iya lah, aku kan udah bilang! Aku akan bicara pada Dirga agar dia mau di rehab."


"Kalau begitu kau harus jawab pertanyaan ku dengan jujur."


Cecilia menengadahkan kepalanya, "Aku sudah jujur, kurang jujur apalagi?"


"Sebenarnya siapa yang berurusan dengan Psikolog dan memiliki riwayat gangguan mental?"