
Cecilia masih meronta ronta dengan terus terkekeh saat Irsan terus mendaratkan bibirnya kesembarang tempat , pria yang terus ketagihan itu terus saja melakukannya tugas barunya.
"Tadi kau bilang mau masak dan jadi koki terbaik malah, aku udah laper ni!"
"Aku juga sangat lapar," tukas irsan terkekeh dengan menurunkan tubuh cecilia,
"Laparnya beda ini mah, bukan perutmu yang lapar tapi itu mu," tunjuk cecilia tanpa malu lalu tertawa dengan menunjuk senjata yang kian menegang itu.
Irsan tidak marah kali ini, justru dia berdecak namun juga mengangguk kecil. "Kau benar, yang lapar bukan lambungku, tapi dia," ujarnya dengan meraup wajah Cecilia hingga gadis itu menengadah kearahnya, membuatnya mudah untuk mellumattnya lembut dan juga dan meneroboskan lidahnya ke dalam rongga mulut Cecilia dan menyisir setiap bagian bagian di dalamnya.
Irsan menyandarkan tubuhnya di tembok tanpa melepaskan pagutannya, dengan satu tangan yang bermain main di benda bulat dan meremassnya lembut.
Tinggi tubuh mereka jelas berbeda hingga Irsan menggendongnya di depan, dengan kedua paha yang membelit di pinggangnya, Cecilia jelas tersentak kaget saat senjata tajam milik Irsan kembali melesak tanpa aba aba.
Gadis itu kembali melenguh hingga hebat saat irsan menggerakkan bokongnya maju mundur, perlu stamina kuat dan tenaga ekstra untuk melakukannya, namun Irsan melakukannya dengan mudah, hingga gadis itu bergerak perlahan maju mundur dengan kedua tangan Irsan yang menahan pinggulnya, saling bekerja sama untuk menuju tujuan. Ruangan kamar mandi kini dipenuhi suara suara bercinta yang terdengar merdu, desaaah manja geraman lirih, menyertai gerakan dua benda tanpa tuang yang saling bergesekan lembut.
Tak sampang di situ, Irsan kini memilih duduk di atas kloset yang tertutup, dengan Cecilia yang masih berada di pangkuannya, hingga gadis itu kini lebih leluasa bergerak.
Eeeuughh!
Cecilia kembali menjadi seorang alpha, memimpin permainan dengan hebat, Irsan bahkan tidak kuasa menahan hasratnya kali ini karena pergerakan Cecilia yang lincah, dengan kedua tangan yang melingkari leher Irsan.
Dia juga bergerak naik turun dengan perahan, pelan pelan yang membuat mabuk kepayang lalu tiba tiba mengubahnya jadi gerakan cepat.
Aaarghhk!
Geraman kembali terdengar dari mulut Irsan yang merasa gejolak yang kembali menyeruak dari ujung kaki dan mulai berkumpul di pangkal paha, sampai akhirnya Irsan bangkit kembali dan mengangkat tubuh Ceciia tanpa mengubah posisinya.
Ritme kembali cepat, Irsan menghujamnya bertubi tubi sampai tubuh Cecilia sedikit condong sedikit kebelakang, pria itu tidak hentinya memacu dengan cepat, hingga rintihan yang keluar dari mulut Cecilia membahana karena hasrattnya kembali membumbung tinggi, melayang layang sampai akhirnya keduanya kembali menuju puncaknya bersama.
Semburan hangat berkali kali keluar dari peraduannya selama ini, menuju tempat seharusnya. Hangat dan juga nikmatt. Lolongan dan erang panjang dari keduanya tidak lagi tertahan lagi, hingga akhirnya suara berubah menjadi lirih dan lembut.
aaaahhgghhkk
"I love you Cecilia." Irsan menarik tengkuk Cecilia dan memeluknya dalam,
Keduanya tidak juga merubah posisinya sejak tadi, senjata tegang milik Irsanpun masih bersemayam di dalam sana, dan Irsan kembali duduk di tepian bathtube yang kini airnya sudah meluber kemana kamana.
"I love you too mas dokter," Cecilia terkekeh merekatkan tubuh polosnya.
Gadis itu melupakan rasa laparnya kali ini, kegiatan itu lebih membuatnya senang, Irsan yang selalu dia goda agar mau melakukannya kini tanpa melakukannya tanpa paksaan dan juga trik trik licik.
"Ternyata kamu juga doyan sebenarnya ya, tapi gengsi." kelakar Cecilia tertawa.
"Terus kenapa masih menolak saat Ibu melakukan rencananya, kamu bahkan marah marah dan gak mau nikah hari itu juga." dengusnya dengan kedua mata memicing melihatnya.
Irsan terkekeh, masih membelai wajah Cecilia yang berkeringat, "Entahlah, aku tidak bisa berfikir saat itu."
"Dih ... Aneh!"
Keduanya lantas tertawa lagi, lalu mengurai pelukannya, dan kini masuk ke dalam bathtube yng sudah penuh dengan busa sabun, Irsan duduk menghadap ke arah Cecilia, begitu pun dengannya, dia terus memandangi Cecilia yang tertawa saat menceritakan konyolnya rencana operasi yang gagal saat di rumah sakit, rencana yang dimana ditentang Irsan dan membuat nya malu.
"Kepikir gak sih kalau aku ngelakuin hal itu?"
"Ya dan jelas kau bodoh karena berkonsultasi dengan Dokter siska, kau harusnya datang ke dokter bedah kecantikan kalau mau melakukannya," Gelak tawa Irsan terdengar kali ini.
"Iya iya ... aku bego," Cecilia juga tergelak, mencipratkan air ke arah Irsan dan merusak momen terbaik saat irsan yang sejak tadi menatapnya dalam dengan penuh cinta.
"Apa aku boleh terus kuliah?"
"Memangnya kau mau berhenti?"
"Ya enggak, aku hanya tanya!"
"Terserah kau saja berarti,"
Sungguh diskusi yang tidak perlu diutarakan pada Irsan sebenarnya, walau bagaimanapun Cecilia tidak akan menurut begitu saja kalau dilarang, atau pun sebaliknya. Tapi entah kenapa Cecilia selalu ingin bertanya pada walau tahu jika jawabanya tidak akan sesuai dengan harapannya.
"Orang orang biasanya akan bertanya duluan setelah itu didukung penuh. Kamu mah gak nanya dan gak peduli, tapi anehnya aku suka pengen denger jawaban kamu!" dengus Cecilia dengan wajah merengut.
"Karena aku juga tidak peduli kalau kau ingin berhenti atau pun tidak, kalau pun kau memilih cuti atau berhenti, tidak membuat perasaanku berubah, apapun pilihanmu yang penting tidak memberatkan dirimu sendiri." terang Irsan.
"Ya aku tahu itu. Kamu emang aneh." Tukas cecilia yang kembali melempari tubuh polos Irsan dengan busa sabun.
Irsan tertawa, ternyata pernikahan tidak seseram yang dibayangkan olehnya, bahkan sangat menyenangkan.
Irsan bangkit dan membilas tubuhnya di bawah kucuran shower, sementara Cecilia menatapnya dari arah belakang, menatap tubuh tegap dengan otot otot yang kuat, yang mampu menopang, mengangkat bahkan menjungkir balikkan dengan mudah. Bayangan permainan demi permainan yang terjadi beberapa menit yang lalu membuat bibirnya melengkung.
"Cepatlah! Kau bisa kedinginan kalau terlalu lama, aku akan menyiapkan makan malam kita." Irsan menyambar bathrobe dengan cepat, menutupi tubuh polosnya lalu keluar dari kamar mandi.
Cecilia yang terus mengulum senyuman justru menyandarkan kepalanya serta membenamkan seluruh tubuhnya di dalam air.
"Gue gak nyangka bisa jadi Nyonya Mahendra."