
Dua pekan sudah usia pernikahan mereka yang terjadi secara dadakan, kebahagiaan demi kebahagian terus datang bertubi tubi pada rumah tangga keduanya. Namun tidak juga melupakan kewajiban keduanya sebagai seorang Dokter dan juga mahasiswi yang kini kian giat belajar. Prestasi yang mulai Cecilia raih karena rajin dan memiliki tujuan yang terarah saat ini, serta di dukung secara penuh oleh sang suami itu juga sudah mulai terlihat, posisi asisten dosen sudah terakui oleh teman teman satu almamater dengan nya maupun adik serta kakak tingkatnya, mahasiswi yang kerap bolos dan tidak terlihat oleh para dosen kini mulai jadi perhatian pihak kampus dengan penilaian yang lebih bagus lagi.
Hampir dua minggu pula Nita tidak tampak di kampus, selalu tidak ada jika dia cari ke apartemen, bahkan juga tempat tempat langganan mereka. Sila tetap membisu, entah dia tahu atau tidak tentang keberadaannya, gadis remaja itu selalu mengatakan tidak tahu jika Cecilia bertanya.
"Sudahlah ... Mungkin temanmu memang ingin sendiri lebih dulu, dan tidak ingin membuat mu cemas. Kau tahu kan seseorang akan lebih nyaman jika memiliki waktu untuk sendiri dulu."
Jawaban yang selalu Irsan berikan jika Cecilia berkeluh kesah tentang sahabatnya itu. Tapi itu bukan Nita, dia tidak terbiasa sendiri, bahkan tidak pernah marah sekalipun mereka memiliki kesalah fahaman, mereka selalu punya cara untuk berbaikan.
"Sepertinya Nita memang punya masalah dengan mu, dia ingin kau sadar hal itu sendiri." jawaban yang selalu diberikan Agnia saat mereka berhubungan di sambungan telepon.
Sementara Cecilia bahkan tidak tahu kesalahan apa yang dia buat sampai Nita sebegitu marah seperti ini padanya kecuali tentang ke beratannya jika sahabatnya itu memiliki hubungan dengan Carl,
Semenjak kepulangan mereka dari Bali pun, sampai hari ini Cecilia tidak pernah sekalipun bertemu Carl lagi, sesekali dia hanya melihat Toni yang mengunjungi Ines di apartemennya, dan mereka tidak memiliki waktu untuk membahas masalah itu.
Ibunya Cecilia juga sudah lebih baik, kondisinya semakin banyak peningkatan walau masih tidak di ijinkan keluar dari rumah sakit, namun setiap hari, Cecilia selalu bisa menemuinya tanpa halangan, leluasa keluar masuk ke dalam kawasan rumah sakit walaupun identitas Irsan sebagai pemilik utama tetap tertutupi sampai hari ini.
Sampai hari dimana Cecilia seperti melihat Nita yang datang ke rumah sakit, namun setelah di ikuti dan di cari, orang itu hanya memiliki kemiripan saja.
Meski hidupnya kini sudah jelas bahagia, Cecilia terus berusaha mencari keberadaan Nita, bahkan dia menunggunya setiap hari di depan kampus, berharap Nita datang, atau pun datang ke apartemen dan menunggunya berjam jam namun tidak ada satu pun yang melihatnya.
Sebagaian dari mereka bahkan ada yang mengatakan jika Nita dan Sila sudah pindah dari sana dengan semua akses dirinya yang Nita blokir.
Cecilia berdiam diri dengan menatap semburat jingga yang tampak indah menghiasi langit sore itu, memikirkan kesalahan apa yang membuat hubungan antar sahabat baik itu kini rusak, tidak ada komunikasi, bahkan untuk menjelaskan apa yang terjadi sampai kemarahan berujung putusnya persaudaraan tanpa hubungan darah yang sudah terjalin belasan tahun.
Sampai gadis itu tersentak kaget saat ada tangan yang menyelusup melingkari pinggangnya, dengan hembusan hangat yang menerpa tengkuknya.
"Apa yang sedang kau fikirkan hm? Kau masih memikirkan temanmu itu?"
Cecilia lega saat mengetahui siapa yang membuatnya tersentak kaget lalu mengangguk lirih, "Aku udah lama gak ketemu Nita, dikampus juga gak ada, pihak kampus bilang kalau Nita mengajukan cuti semester ini untuk jangka waktu yang gak ditentukan."
"Aku juga sudah minta tolong pada Carl untuk membantu mencarinya, aku yakin dia akan melakukannya." sahut Irsan dengan menempelkan dagu pada bahu Cecilia, "Kita pasti segera menemukannya. Jadi kau tidak usah khawatir lagi. Hm."
Cecilia kembali mengangguk, walau dia tidak yakin Carl akan melakukannya, terlebih jika memang mereka berdua selama ini berhubungan dibelakangnya. Entah kenapa keyakinannya semakin kuat saja.
"Jadi Carl datang nemuin kamu?"
"Tidak, aku yang meneleponnya, sesuai dengan ucapannya, setelah berhasil mengurus pernikahan kita, Carl mengajukan cuti kerja dalam waktu yang tidak ditentukan."
"Apa Carl kerja ditempat lain?" tanya lagi.
"Ya dia memiliki perusahan dibidang advertising yang cukup terkemuka, dia hanya membantu perusahaan ku atau perusahaan Zian hanya dibagian hukum nya saja, karena dia juga sebagai pengacara yang cukup handal. Kenapa kau sepenasaran itu padanya, kau masih curiga pada Nita yang memiliki hubungan khusus dengannya?"
"Tidak mungkin, Carl itu sangat menyukai Laras, dia mengejarnya selama 3 tahun ini, dan Laras sepertinya juga sudah mulai luluh."
"Tante Laras? Ibunya Nia kan?" tanyanya memastikan.
Irsan mengangguk, "Hmm...."
Fikiran fikiran buruk terus berkecambuk dalam kepala Cecilia, kalau Carl memang menyukai Laras, wanita dewasa yang hot yag seperti Carl katakan sama gue juga, sudah berarti jika Carl tidak akan meladeni Nita, tapi gimana dengan kebalikannya, gue tahu gimana dia, Nita bakal jadi orang bego kalau udah suka sama cowok, astaga ... Nit ... Lo dimana sih,, kalau gue ada salah yang bikin lo marah banget kayak gini, bilang sama gue, karena gue sampai hari ini gak tahu salah gue apa sama lo sampai lo giniin gue Nit. Batin Cecilia
"Ayo kita masuk, banyak angin disini!" Irsan membawanya masuk, entah kenapa hari ini Cecilia menjadi tidak bersemangat, wajahnya murung sejak dia kembali dari apartemen milik Nita dan tidak juga menemukannya.
"Kita makan dulu ya. Aku udah membuat sup jahe ikan untuk mu," Irsan menyuruhnya duduk, dan tidak biasanya gadis berusia 20 tahun itu menurut saja dengan wajah yang ditekuk malas.
"Aku gak mau makan,"
"Kalau begitu kau makan supnya saja." Irsan sudah menyendok sup ikan ke dalam mangkuk kecil.
Cecilia menggeleng, "Aku gak mau. Aku gak selera makan,"
"Kamu ingin apa? Biar aku siapkan."
"Aku ingin tidur aja." ujarnya bangkit dari kursi dan melenggang masuk ke dalam kamar tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang disiapkan Irsan dengan susah payah itu.
Irsan hanya menghela nafas, tetap berfikir positif karena mungkin Istrinya itu tidak kunjung menemukan sahabatnya.
Cecilia memilih merebahkan tubuh di atas ranjang dan mencoba untuk tidur, selain tidak bersemangat, dia juga terus memikirkan Nita, terus merasa sedih dan tidak bergairah, namun juga tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang sampai dia hanya menatap langit langit kamarnya saja dengan beribu fikiran yang bercampur kusut di kepalanya.
"Aku harus nemuin Carl untuk mastiin kalau keyakinan gue selam ini salah, dan gimanapun caranya gue harus nemuin Nita supaya tahu salah gue apa."
.
.
Kayak judul bab, othor juga gak semangat ... butuh dorongan, butuh mood booster, apalagi kemaren rate novel Zian Nia kacau balau gegara satu reader yang kasih rate 1 atau buruk dan kecewa 3 kali dalam sehari dengan akun yang sama, dah kayak minum obat tuh orang gabut, sampe terpaksa othor blok akunnya karena tuh orang tetap baca. Maaf seribu maaf, andai kalian tahu kalau rate buruk itu sangat mempengaruhi penulisnya😔, kena mental dan bikin mood ancur.
Saran aja nih, kalau gak suka lebih baik skip dan ganti bacaan, atau komen langsung dengan bahasa yang bisa di terima supaya penulisnya bisa memperbaiki tulisan atau apalahnya. Kalau suka bisa kasih apresiasi dengan like saja ataupun sama komen. gak minta banyak kok. ... Itu aja. (Curhat othor wkwkwk)
Buat kalian Cecelover, semoga bisa dukung cece sampai akhir ya, lope lope badag pokoknya. Makasih makasih makaaaasihhhh (emoticon dua mata berkaca kaca dengan bibir melengkung kebawah)
Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih