
Walau terlihat keduanya saling menyerang secara halus, baik Cecilia maupun Embun yang tidak juga mengakui kalau sejak tadi mereka terlibat dalam percakapan yang begitu dalam, terlebih Embun yang masih berat untuk mengakui jika Cecilia mampu membuatnya Terpukau, perasaan yang awalnya terpaksa yang kemudian bisa dia nikmati. Keduanya duduk di satu meja yang sudah di reservasi terlebih dahulu untuk acara makan siang itu, makan siang pertama bagi Embun dan Irsan sejak beberapa tahun terakhir tidak pernah melakukannya lagi.
Sesekali Embun melirik kearah Cecilia, dia juga tersenyum melihat gadis yang terus bicara itu, sepertinya topik pembicaraan yang dia miliki sangat banyak, sampai sampai Embun bingung dibuatnya.
Keadaan yang awalnya dipaksakan pun lambat laun mencair, pembawaan dirinya memang patut di acungi jempol. Sampai Embun merasa jika Cecilia itu memang gadis yang cerdas.
Tentu saja Cecilia pun pada awalnya tidak mau mengalah dengan sifat wanita yang kini duduk di sampingnya itu, berkali kali dia membalas perkataan ketus Embun dengan cara yang sama.
"Sepertinya kau terlalu banyak bicara, sampai membuatku lupa belum memesan!" Embun memanggil pelayan yang sedari tadi hanya hilir mudik melewati mereka yang tengah asik mengobrol.
"Ibu, apa aku boleh pesan ini, ini dan ini?" Tunjuk Cecilia pada tiga menu yang dia inginkan dibuku menu.
Embun sempat menoleh namun cukup sekilas saja, rasanya tidak ada yang pernah bertanya pendapatnya. Bahkan Irsan pun tidak pernah melakukannya. Naluri keibuan yang sudah lama terkubur tiba tiba mencuat, hatinya pun sedikit menghangat.
"Tentu saja bo---," Ucapan Embun berhenti dengan sendirinya, saat dia sadar apa yang dilakukannya. "Memangnya kalau aku bilang tidak boleh kau tidak akan memesannya?" lanjutnya dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.
"Biasanya sih aku gak pernah mau nurut, tapi kalau Ibu yang bicara. Aku akan nurut." Sahutnya dengan terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya kesamping dan jaraknya semakin dekat dengan Embun. "Ibu tahu kenapa. Udah jelas karena Ibu mulai sayang padaku. Iya kan?"
Embun terbeliak sempurna mendengarnya, tidak terbayang jika setiap saat dia bersamanya. Pasti Embun sudah akan sangat luluh padanya. Karena tidak hanya banyak bicara dan membuatnya kagum saja, Cecilia begitu menyenangkan hati.
"Terserah kau mau pesan apa!" Ujarnya pada Cecilia.
Cecilia tersenyum dengan terus memilih apa yang dia inginkan dalam buku menu. Seraya melihat sekilas wanita disampingnya itu yang mengulum senyuman pulan. Kelakuannya yang terlalu terbuka dan bicara apa adanya terbanding terbalik dengan sifat Embun, terlebih selama ini pun Embun mengharapkan perhatian dari seorang anak.
"Kau ini terlalu banyak bicara dan basa-basi,"
Cecilia terkekeh, "Ibu orang ke seribu lima ratus yang bilang aku kayak gitu, dan iyalah bu untuk apa aku harus malu, ya sifatku emang begini."
Tanpa mereka sadari jika seseorang tengah memperhatikan mereka dari jauh, melihat interaksi keduanya yang terlihat lebih akrab dan sangat dekat membuat hatinya lega.
"Kubilang apa, ikuti alurnya maka kau akan lihat sendiri, inilah rencana bagian terakhirku. Biarkan gadismu itu yang bertindak dengan sendirinya." Gumam Carl yang sejak tadi berdiri di samping Irsan. "Dia tidak aku setel, dia sudah memiliki skill yang tidak banyak di miliki orang lain." gumamnya lagi.
"Kau benar kali ini Carl! Bagaimana dia dengan mudah membuat Ibu mendengarkannya sedari tadi tanpa ikut menyela apalagi marah."
Tanpa sengaja Cecilia melihat kearah mereka, dia pun melambaikan tangan dan memberitahu Embun sampai wanita paruh baya itu menoleh ke arah mereka dan tersenyum.
"Doksay!" Serunya tanpa ragu.
"Hey ... Kau ini. Bicara saja pelan, tidak usah berteriak." Embun mengusap telinganya.
"Maaf bu,"
Irsan dan Carl pun akhirnya bergabung dengan mereka, Cecilia yang duduk disamping Embun pun bangkit.
"Sayang, duduk sini!" Tunjuknya pada kursi yang dia duduki sebelumnya.
"Aku di sini saja." sahutnya menunjuk ke arah kursi disamping kiri Embun.
"Disini aja, biar kau ada ditengah aku dan Ibu, ya bu. Dia milik kita kan?" tanyanya pada Embun.
Embun terdiam dengan kedua mata tajam melihatnya, "Kau fikir anakku barang?"
Cecilia menghampiri Irsan dan menarik lengannya, membawanya dan menyurihnya duduk di tengah tengah antara Embun dan dirinya.
"Kenapa kau memaksa dia untuk duduk disana, sementara dia ingin duduk disini."
"Ya biar gak cuma ibu yang dekat dekatnya, aku juga ingin dekat dengannya. Iya kan sayangku?" Tanya pada Irsan lagi yang hanya bisa diam melihat tingkah laki keduanya.
"Kalian ini!" Desis Irsan dengan kesal.
Carl terkekeh melihatnya, rasanya keluarga Embun kali ini menjadi ramai kalau ada Cecilia di antara mereka.
"Kau benar Nona cantik, aku bisa melihat dari sini kalau itu posisi paling tepat." timpalnya yang setuju saja dengan apa yang dilakukan Cecilia.
"Nah kan apa aku bilang," Cecilia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Bisa tolong fotoin kita?" Ucapnya lagi dengan menyerahkan ponsel pada Carl.
"Sangat bisa cantik!"
"Carl!" Sentak Irsan karena Carl terlalu mendukung apa yang dilakukan Cecilia walaupun terkesan konyol.
Cekrek
Cekrek
Carl terkekeh, tidak peduli tatapan Irsan yang menyuruhnya berhenti melakukan hal yang menurutnya tidak perlu itu. Sementara Cecilia melingkarkan tangan dilengannya dengan jarak yang sangat dekat. Namun kembali menoleh saat Embun hanya diam tidak bergerak dan terlihat kaku begitu pun Irsan.
"Ibu? Gini dong bu. Peluk gini."
.
.
Wkwkw ada ada aja kelakuan si Cece.
.
##
Tadinya Othor pilih 3 aja, tapi othor berubah fikiran, jawaban dari akak akak diatas berdasarkan keputusan othor yang gak bisa di ganggu gugat walaupun pake pengacara. Hahaha sebagai orang yang gak kenal kita emang gak tahu abang Tompi kalau bukan dari hasil wawancara yekan, tapi disekitar kita juga ada yang kasih informasi tentang bagaimana suasana di ruang operasi, dan segala macam pekerjaan udah ada porsinya masing masing, tergantung kita yang mengaturnya. Jarang banget yang bisa ngerjain dua pekerjaan sekaligus. Kecuali ya karena salah satunya adalah hobi. Kalau salah urat bisa berabe ya. Kalau Doksay udah pasti gak akan bisa nyanyi, secara dia lempeng beud kek tiang liatrik walau sekarang udah rungkad juga. Dan kebayang deh kalau dia nyanyi. Yeee kan. Wkwkwkw.
Kalau semua Dokter disuruh nyanyi dan mau ngelakuinnya. Fixs Dokter Idaman. Kebanyakan dari orang awam seperti othor ini cuma ngaangguk ngangguk aja di depan Dokter karena udah parno duluan. Yekan. Pura pura ngerti dan pura pura pintar ajalah. Biar cepet karena didepan dokter itu suka gugup kwkwkw. Padahal dia gak naksir othor ya.
Tapi apa kalian tahu kalau dokter Tompi pernah nyanyi di ruang operasi atas permintaan seorang ibu yang mau ngelahirin, dan membuat si ibu diam seribu bahasa saat Tompi menyanyi. Karena ternyata yang dia nyanyiin adalah lagu rohani tentang kematian Wkwk Kocak banget.
Untuk akak akak yang terpangpang diatas silahkan follow othor dan kirim no kontak yang mau di isi pulsa. Gak gede, karena ini bukan give away. Wkwkwk.