
"Veronica?"
Lahkah Cecilia terhenti, Irsan juga menghentikan langkah dan menoleh ke arah belakang.
"Jangan! Lebih baik kita pergi." Desis Cecilia yang sudah tahu diri jika seseorang sudah memanggilnya dengan nama tersebut.
"Kau Veronika bukan?"
Cecilia masih enggan menoleh, dia berdecak kesal kenapa harus bertemu seseorang yang mengenalinya di sana.
"Benar kau Veronika! Tidak salah lagi. Aku mencarimu kemana mana, ternyata kau di sini."
"Maaf!" Tukas Irsan.
"Ooh kau ... Kau orang baru yang mengencaninya?" ujarnya pada Irsan.
Irsan terdiam, namun rahangnya mulai mengeras. Cecilia memegang lengannya erat. "Kita pergi aja. Ayo!"
Pria itu tertawa, "Kau lupa padaku atau pura pura lupa? Berikan kontakmu, agar aku bisa menghubungimu. Tenang saja, setelah kau selesai dengannya baru kau hubungi aku!"
"Jangan harap!" Tukas Irsan dengan kesal.
"Kenapa? Kontrakmu masih lama. Aku bisa menunggu, atau aku bayar sisa kontrakmu dan berikan dia padaku."
Bhug!
Cecilia berbalik dan melayangkan pukulan tepat di kepalanya menggunakan tas yang dibawanya.
"Bacot! Pergi kau."
Cecilia lalu kembali membalikkan tubuhnya dan menarik pergelangan Irsan. Pria itu tersentak kaget setelah apa yang dilakukannya.
"Heh ... Kau jalaang brengsekk!"
Ini yang gue gak suka! Ketemu orang orang gak jelas. Apa gue harus operasi wajah biar mereka gak tahu gue lagi. Lagian dia siapa? Gue aja lupa, kenapa dia masih inget aja. Batin Cecilia.
"Kenapa kau memukulnya?"
"Terus apa aku harus denger curhatan dia begitu?" Sahutnya dengan kesal.
"Bukan begitu maksudku."
"Ya apalagi? Ini yang aku takutkan, ketemu mereka saat aku sama kamu."
"Apa yang kau khawatirkan? Kita memang bersama kan, aku juga tidak masalah. Kau hanya akan membuat masalah baru dengan memukulnya, bagaimana kalau dia melaporkanmu pada polisi?"
Cecilia mendengus, dia lupa jika Irsan adalah pria taat aturan, dia akan selalu bertindak setelah berfikir seribu tahun.
"Ya karena Kau! Siapa lagi. Aku khawatir padamu, khawatir sama ucapan mereka yang bakal bikin kamu sakit hati saat mendengarnya, bikin kamu malu nantinya."
Irsan tersentak mendengarnya, dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, walau pada awalnya dia sedikit kesal tapi dia juga tidak masalah kalau harus bertemu pria pria yang pernah jadi teman kencan Cecilia. Tapi mendengar Cecilia yang mengkhawatirkan perasaannya membuat hati Irsan semakin menghangat.
Pria itu berhambur memeluknya, mendekapnya erat dan menenggelamkan kepalanya ke dalam. "Maaf!"
"Kenapa meminta maaf! Yang harusnya minta maaf itu aku, bukan kamu." Cecilia memukul dada Irsan pelan. Namun Pria itu justru terkekeh, "Terima kasih karena mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak akan peduli hal semacam itu. Aku menerima masa lalu mu Cecilia. Tidak ada masalah dengan hal itu."
Cecilia tertegun, ucapan Irsan membuatnya merasa jadi manusia yamg beruntung. Beruntung ada pria yang mau menerimanya dengan masa lalunya yang kelam. Beruntung karena masih ada pria yang melakukannya di saat pria lain mungkin akan merendahkannya.
"Kita nonton?"
"Aku mau pulang aja." Lirihnya pelan. "Aku gak mau nonton bioskop. Kita nonton aja di rumah."
"Oke. Kita pulang."
Irsan membawa Cecilia menuju mobil, membukakan pintu untuknya dan menutupnya kembali. Sikapnya memang sedikit berubah dengan perlahan. Dan dia berjalan memutar dan masuk ke dalam pintu kemudi.
Tak lama mobil melaju dengan cepat, keluar dari pelataran parkir kafe an resto itu.
"Cari tahu siapa gadis itu?"
Seseorang yang berada di sampingnya pun mengangguk lalu menghubungi seseorang.
***
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Cecilia terdiam dengan tatapan lurus kedepan. Sesekali Irsan meliriknya.
"Apa yang kau fikirkan. Hm?"
"Gak apa apa! Aku hanya gak nyangka aja kalau apa yang aku takutkan benar benar terjadi."
"Kenapa kau jadi takut sekarang?"
"Ya aku takut sekarang, takut kalau kamu terganggu dan takut kalau hal itu bakal bikin kita jauh."
Irsan menggenggam tangannya, "Selama kau tidak melakukannya lagi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hm,"
Cecilia mengangguk, merekatkan tangannya semakin erat, "Makasih."
Keduanya tiba di gedung apartemen, Cecilia keluar dari mobil pada saat Irsan berjalan hendak membuka pintu mobil untuknya. Gadis itu terkekeh karena perubahan yang semakin kentara dari pria selempeng Irsan.
"Aku baru saja akan membuka pintu untukmu. Kau sudah keluar!"
"Ku fikir pasti gak bakal ngelakuin hal itu."
"Ya sudah. Kita masuk."
Keduanya masuk melalui pintu lift yang terdapat di basement, menuju unit yang mereka tinggali saat ini.
"Mulai besok aku akan pindah, kau bisa tinggal di unit yamg sekarang jadi milikmu. Surat suratnya sudah selesai dan aku menyimpannya di dalam lemari."
"Yaah ... Kenapa gak tinggal bareng aja sih? Kita gak ngapa ngapaiin setiap hari kan. Aku janji deh gak bakal macem macem."
"Tidak Cecilia, lagi pula aku tidak tinggal jauh kok. Aku masih bisa melihatmu setiap hari begitu juga denganmu. Hm! Aku juga sudah buatkan janji dengan temanku untuk membantumu mengatasi ketergantunganmu pada alkohol. Kau bisa menemuinya kalau kau sudah siap."
Cecilia merengut, itu bagian tersulit dalam hidupnya. Tapi dia juga tidak ingin membuat Irsan sendirian yang berjuang membuatnya lebih baik, dia juga ingin memberikan yang terbaik, dan itu bisa di mulai dengan kebiasaan kebiasaan buruknya selama ini.
"Hm ... oke! Tapi kamu gak pergi malem ini kan? Aku bakal kangen." Ujarnya dengan memeluk pinggang Irsan dengan kepala menengadah, posisi tersulit bagi Irsan agar tidak terpancing gaiirahnya sendiri. Terlebih mereka berada di dalam lift yang hanya berdua saja.
"Aku pergi besok! Setelah memastikan kau pergi kuliah. Belajar yang benar oke, aku akan memberimu hadiah jika kamu lulus dengan nilai cumlaude."
"Apa hadiahnya?"
"Nanti saja. Itu akan jadi rahasia." tukas Irsan yang mengurai pelukannya karena dadanya mulai bergetak kencang disertai darahnya yang kembali berdesir.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan berjalan dikoridor menuju unit mereka, dengan terus bercerita tentang nilai cumlaude dan juga hadiah yang membuat Cecilia penasaran.
"Oke ... Aku akan buktikan kepintaranku dan dapet nilai cumlaude, dan aku akan nagih janji hadiah yang akan kamu berikan."
"Hm ... Aku janji!"
"Bagus! Aku akan menunggu hal itu."
Sementara Ines berjalan mondar mandir di depan unit Irsanz menunggu dengan resah kepulangan kakak sepupunya itu. Sesekali dia menggigit jari jarinya karena kepanikan yang menderanya. Dan alangkah leganya saat dia melihat Irsan dan juga Cecilia.
"Kak Ines. Kenapa?"
"Gawat Ce...! Gawat ini."
"Apa katakan yang jelas!"