
"Benarkah?"
Cecilia mengangguk, kepalanya tertunduk lesu, "Ya ... Aku fikir caraku berlebihan, sampai bikin kamu kesakitan dan itu juga membuatku repot sendiri."
"Jadi kalau kau tidak repot kau tidak akan menyesal?" Kedua alis Irsan mengernyit.
Cecilia membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah meja makan, seraya terkekeh. "Ya kalau enak, gak mungkin aku nyesel juga."
"Kau ini!"
Irsan berjalan menuju dapur, membuka lemari es dan mengambil dua buah telur, juga jamur. Cecilia tampak lesu, wajahnya pucat setelah digempur habis habisan, entah sudah berapa kali dirinya menguap, dia juga duduk dengan mata menyipit menahan kantuk. Sementara Irsan yang meliriknya diam diam sedikit bingung, apa yang harus dia katakan selain minta maaf, walau tahu ini semua bukanlah kesalahannya sendiri.
"You ok?"
"Kau fikir?" Sahut Cecilia dengan hanya bergumam. "Aku capek ... Plus gak enak sama sekali." gumamnya lagi dengan kedua mata terpejam.
"Lain kali kau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi, kesalahanmu tidak termaafkan. Kau mencampurnya ke dalam kopi ... Kau tahu kalau kopi saja meningkatkan stamina seorang pria?"
"Benarkah?"
"Hm ... dan kau mencampurnya dengan obat sialan itu! Bisa kau bayangkan seperti apa pada akhirnya?" Dengus Irsan lalu kembali mengiris jamur.
"Terus sekarang itu mu gimana?" tanya Cecilia tanpa basa basi.
Irsan menarik bibirnya keatas, "Kenapa. Kau ingin melihatnya?"
"Ish ...!"
"Ku beri tahu, jika kau mau, kau bisa membuatnya dari bahan alami, bawang putih, ginseng, cinamomun atau kayu manis, jahe." Ujarnya dengan berbalik arah dan mengabsen satu persatu yang dia sebutkan dengan jari yang dia lipatkan.
"Apaan. Yang penting itu partner nya mau gak? Percuma kalau gak mau dan mesti dipaksa." dengus Cecilia.
"Benar juga!" Irsan gelagapan dengan kembali menghadap ke belakang.
"Aku ingin di kocok!" seru Cecilia mengagetkannya.
Irsan menoleh, "Apa?"
"Telur dokter Irsan! Kau fikir yang lain apa yang di kocok." terang Cecilia yang diakhiri senyuman tipis, membuat Irsan menggelengkan kepalanya.
Topik pembicaraan macam apa yang terjadi di dini hari seperti itu, keduanya tidak ada yang jelas karena faktor kelelahan, juga tubuh yang rasanya lemah tidak berdaya.
"Tidurlah setelah ini!" Irsan meletakkan sepiring omellet didepan Cecilia.
"Kamu gak makan?"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Nanti saja, aku ingin tidur."
Pria itu mengayunkan langkah masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar, dia bisa tidur tepat jam 3 pagi, masih ada 2 jam kedepan untuknya sebelum pergi ke rumah sakit.
Sementara Cecilia yang makan sambil mengantuk akhirnya meninggalkan meja makan lengkap dengan piring yang belum dia bereskan, dia juga masuk ke dalam kamar.
Melihat Irsan terlelap begitu saja, gadis itu mengulas senyuman, perlahan lahan naik ke atas ranjang dan terbaring, juga mengambil tangan Irsan yang dia lingkarkan sendiri di pinggangnya.
Irsan menggeliat, merapatkan tubuhnya semakin erat, hingga keduanya larut dalam alam mimpi masing masing.
***
Pria berusia 40 tahun itu menggeliat, merasa lengannya menjadi kebas, telinganya juga menangkap suara gedoran kencang dipintu. Sesaat kemudian dia mengerjapkan mata dan terbeliak saat melihat Cecilia nyenyak berbantalkan lengannya.
"Gadis ini! Nakal dan tidak ada kapok kapoknya." gumamnya, dia ingat betul kalau semalam dia tidur sendirian, dan Cecilia masih berani mendekatinya setelah apa yang terjadi pada mereka semalam.
Gedoran di pintu semakin kencang, juga dering ponsel miliknya yang terus menjerit nyaring, Irsan mengangkat kepala Cecilia pelan pelan agar tidak terbangun lalu turun dari ranjang, pria itu mencari ponselnya dan membuka pintu.
"Kau ini bagaimana. Kau tidur atau mati Irsan?" Carl merangsek masuk dengan sedikit mendorong bahu Irsan. "Berapa kali aku menghubungimu, dan tidak ada satupun yang kau angkat! Aku juga ke rumah sakit, mereka menunggu kabarmu juga!" Carl kesal lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. "Gila kau ... Seharusnya kau kabari aku sebelumnya!" Ujarnya lagi saat melihat Irsan yang hanya berdiri dengan rambut acak acakan. "Jam berapa ini!"
Irsan baru menatap jam yang berada di dalam ponselnya, lalu tersentak kaget. "Sial! Aku harus ke rumah sakit."
Irsan melangkah masuk ke dalam kamar, lalu kembali setelah menyadari jika bisa saja Carl ikut masuk ke dalam kamar dan melihat Cecilia tertidur di ranjangnya, apa yang akan di fikirkannya.
"Kenapa?" tanya Carl. "Sudahlah, kau tidak perlu malu. Aku tahu semua." Carl yang tengah kesal itu terkekeh juga. "Kau ini satu satunya manusia yang tidak pernah terlambat, tidak pernah bolos walau ada badai sekalipun, tidak pernah membuat kesalahan apapun dengan pekerjaan muliamu itu, lalu ...." Carl terkekeh lagi, "Mantap!" ucapnya lagi dengan mengacungkan kedua ibu jari.
"Apa yang kau katakan!"
"Berapa ronde semalam sampai kau terlambat ke rumah sakit?"
Irsan menghela nafas, dia urungkan masuk ke dalam kamar dan kembali duduk. Dan Carl langsung tergelak melihatnya.
"Ada masalah apa?"
"Sial ... Aku jadi lupa kalau aku kemari karena aku harus mengatakan sesuatu. Dengar Irsan, Irene sulit sekali diajak berdamai, dia menolak penawaran yang aku berikan kemarin, dia tetap akan melanjutkan kasus ini."
"Benarkah?"
Carl menyerahkan dokumen pada Irsan, pria itu mengambilnya dan membacanya.
"Kasus penipuan, pencemaran nama baik." tukas Carl lagi.
"Aku akan menemuinya langsung!" Irsan melemparkan dokumen itu ke atas meja.
"Kau tidak seharusnya melakukan itu Irsan, dia akan mempersulitmu juga. Mal praktek atas kematian suaminya."
Irsan tersentak mendengarnya, Carl melanjutkan ucapannya lagi. "Aku sudah bicara pada Jo, orang yang juga memberi informasi padamu. Dia mengatakan hal itu jika kau ikut campur."
"Aku tidak peduli! Kau fikir aku akan bisa diam saja seperti ini Carl?" Irsan bangkit dari duduknya.
"Jangan Bodoh dan bertindak gegabah! Itu tidak akan menyelesaikan masalah Irsan, kita harus cari cara lain! Kasus ini akan melebar jika kau ikut campur langsung."
Sementara Cecilia yang sudah teebangun sejak tadi tengah mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu.
"Aku tidak melakukan mal praktek! Kematiannya murni kematian biasa. Gila saja kalau aku harus menghilangkan nyawanya, sekalipun aku membenci prilakunya."
"Tenanglah! Aku akan mencari cara lain. Asal kau tidak ikut campur demi kebaikanmu juga. Biar aku yang selesaikan." tukas Carl yamg membuat Irsan terdiam menatapnya.
Cecilia mengepalkan tangannya, amarahnya pada Irene benar benar besar, dialah penyebab semuanya, akar dari masalah dan tidak harus melibat semua orang terlebih Irsan.
"Gue harus lakuin sesuatu! Jangan pernah sentuh pacarku. Kita lihat saja tante, gue gak bakal diem aja kayak gini!"
.
.
Ce tobat Ce ... Jangan lakuin apapun please. wkwkwk