
Carl mengangkat kedua tangan untuk menangkis pukulan Irsan yang kembali melayang ke wajahnya. Namun ternyata Irsan masih kalah cepat dengannya, dia membalikkan tubuhnya serta memiting lehernya.
Carl meronta, saat lengan Irsan kuat melingkar dilehernya, membuat tenggorokannya sakit dan juga sulit bernafas.
"Hey ... Kau curang!"
"Tidak usah banyak alasan, untuk apa kau disini bahkan sampai menyewa unit ini kalau bukan untuk memata mataiku dan juga kekasihku?"
Carl berusaha menarik tangan Irsan dan membalikkan tubuhnya, hingga keduanya sempat saling menangkis.
"Kau salah paham! Aku di sini karena ada urusan, bukankah aku bekerja pada ibumu sebagai ganti agar kau bisa terbebas dari beban mu itu?" sangkalnya dengan kembali membalikkan tubuh. "Kau harusnya berterima kasih padaku."
Bugh!
Bugh!
Irsan menendangnya satu kali, lalu kembali memukulnya.
"Terus saja menyangkal! Aku akan terus memukul sampai kau bisa jujur, dan untuk apa aku berterima kasih padamu? Kau bekerja dan di bayar dengan tinggi di sana, bukan cuma cuma atau hanya kerja sosial."
"Kau gila! Aku tidak melakukannya." Carl masih menyangkal semuanya.
Bugh!
Irsan terus melayangkan pukulan, semakin Carl menyangkal, pukulannya pun semakin kuat.
"Kau melakukan tindakan kekerasan dan itu ada proses hukumnya!"
Bugh!
"Ujung bibir Carl sedikit sobek, begitu juga pelipisnya, Irsan memang sangat menakutkan jika marah, orang yang tidak suka bercanda apa lagi berbasa basi itu memang paling disiplin dan taat aturan, tapi berbeda kali ini karena Irsan terlanjur marah dan juga emosi terlebih apa yang dialaminya saat ini, bagaiamana dia berjuang mempertahankan orang yang dia cintai dan bagaimana dia tidak ingin kehilangan lagi.
" Ya ... Oke ... Oke baiklah, aku yang melakukannya. Aku yang melaporkannya pada ibumu." ujar Carl dengan meringis kesakitan karena pelipisnya berdarah dan sobek.
Irsan memang pendiam dan tidak banyak tingkah seperti yang lain apalagi Carl, dia yang kerap acuh terhadap masalah apapun itu semakin berubah saja, kali ini dia tidak ingin di usik dan merasa tidak nyaman.
"Mati aku! Habislah perkara." gumam Carl.
"abislah perkara. Tubuh tinggi dengan perawakan tegap serta tenaga full power, bak air sungai yang tenang namun mampu menghanyutkan bahkan menenggelamkan tanpa riak.
Bugh!
Carl memejamkan mata saat pukulan itu melayang ke arah wajahnya, namun tidak ada rasa sakit maupun perih diwajahnya karena ternyata kepalan tangan Irsan berada di sampingnya. Tepat di daun pintu di belakang Carl.
Carl menghela nafas sambil mengurut dada, percuma saja terus menyangkal dan mencari alasan. Toh Irsan tidak mudah di bohongi, lebih baik jujur dan apa adanya pada sahabat yamg menjadi dokter itu.
"Oke ...!" Carl menarik nafas sebelum bicara, "Jadi begini, aku akan jujur semuanya padamu. Ini demi kebaikanmu sendiri Irsan, dan juga kebaikan ibumu, gadismu juga."
"Alasan apa yang kau katakan! Kau justru memperkeruh keadaan." sentaknya dengan marah.
"No ... No! Keruh di awal tapi akan jernih pada akhirnya, kau akan melihat betapa indah didalam sana saat air yang ku keruhkan itu sudah jernih, bukan hanya ikan dan terumbu karang, kau akan melihat apa yang tidak kau lihat selama ini."
Carl masih berusaha menyusut ujung bibirnya, lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam unit yang sengaja dia sewa selama beberapa hari ini. Irsan merangsek masuk mengikutinya, tidak sedikitpun pandangannya dia alihkan dari gerak gerik Carl yang kini berjalan ke arah lemari es guna mengambil es cube untuk mengompres luka di wajahnya.
"Jangan membuang waktu Carl. Brengsekk!"
"Hey ... Jaga bicara mu dokter?" tukas Carl menarik satu bibirnya keatas, merasa heran karena Irsan sangat jarang mengumpat.
Pria berparas kebulean itu menghempaskan tubuh di sofa lalu mengompres lukanya sendiri. Sedangkan Irsan hanya menatapnya saja tanpa mau membantu apa apa.
"Katakan tujuanmu brengsekk, gara gara kau semua semakin kacau, dan gara gara kau, ibuku mengetahui semuanya."
Carl terkekeh, "Tenang saja! Jangan bilang aku Carl jika aku tidak memiliki solusi untuk masalah itu! Kau hanya perlu mengikuti alurnya saja, maka semua akan baik baik saja. Ibumu tidak butuh apa apa, dia hanya butuh kau."
Persis yang dikatakan Cecilia tempo hari, kalau ibunya memang hanya membutuhkan kasih sayang dan perhatiannya saja. Tapi kali ini ibunya sudah bersikap keterlaluan. Alih alih membiarkannnya hidup tenang, justru kembali merongrong bahkan selalu ikut campur masalah pribadinya itu, dan membuatnya semakin tidak ingin dekat lagi.
"Apa magsudmu?"
"Cepat atau lambat semua akan terkuak, masa lalu pacarmu sangatlah berbeda dengan gadismu yang lain, dan kau benar, semua info mengenainya telah aku berikan padamu."
"Kau memang berengsekk!"
"Kau justru akan berterima kasih padaku nanti!" Carl terkekeh lagi lalu meringis kesakitan.
Irsan menatapnya dengan tajam, entah apa yang di rencanakan Carl sampai dia rela melakukan hal seperti itu padanya.
"Kita kan buat kesepakatan, yang akan membuat ibumu tidak akan berani menolaknya dan menjadi keuntungan bagimu dan gadismu."
"Kau fikir aku peduli pada restu ibu? Aku sudah dewasa untuk memutuskannya sendiri!" tukasnya dengan suara tegas.
"Ya aku tahu itu! Tapi apa kau juga peduli pada gadismu? Yang membutuhkan pengakuan dan diterima dengan baik. Sisi kelamnya tidak akan mungkin bisa hilang begitu saja. Ibumu bisa saja mengetahuinya dari orang lain, atau media suatu hari nanti. Maka aku lakukan sekarang saja dari pada terlambat. Bukankah kau harusnya berterima kasih?"
"Cih! Alasan."
"Terserah padamu, yang pasti aku peduli kalian, aku peduli ibumu karena selama ini dia memperlakukanku dengan baik, begitu juga denganmu, kau sahabatku dan otomatis aku akan peduli pada gadis yang kau cintai juga dokter Irsan. Rasa peduliku tidak akan berubah walau usia kita semakin bertambah, kau, Zian dan Kim adalah sahabatku sejak dulu sampai hari ini. Begitu juga dengan keluarga kalian dan anak cucu kalian nanti, percayalah ... Yang aku lakukan ini untuk kebaikan kalian!" terang Carl panjang lebar tapi tanpa memberikan jawaban yang jelas mengenai kesepakatannya.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya Carl? Kau bicara panjang lebar ini dan itu tapi aku benar benar tidak mengerti!"
Carl mendengus kasar, "Dasar payah, emosimu sejak tadi dan membuatku babak belur tapi kau tidak juga mengerti apa yang aku katakan sejak tadi?"
Irsan melemparkan bantal sofa ke arah Carl. "Kau fikir kau mengatakan apa sejak tadi? Karangan bebas, dan itu bukan kesepakatan yang kau rencanakan! Brengsekk."
Carl mengangkat kedua tangan ke atas tanda menyerah saat melihat Irsan kembali emosi padanya.
"Woooh ... Tenang! Kau akan tahu nanti, sekarang bisakah kau obati luka luka ku ini lebih dulu?"
Irsan yang bertambah kesal itu bangkit, percuma saja bicara dengan Carl, semakin lama dia semakin tidak mengerti saja.
"Obati sendiri! Itu akibatnya jika kau bertindak sendirian, jangan bawa bawa persahabatan kita. Karena seorang sahabat tidak akan menghancurkan sahabatnya sendiri!"