I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.70(Makin malu)



Dirga yang masih berjiwa muda tentu saja terpancing dengan tantangan yang diberikan oleh kekasih gelapnya, ditambah kini bukan hanya Serly yang berada dihatinya. Namun juga gadis yang lebih menggoda dan menggairahhkan yang kini membuat rasa cintanya terbagi dua.


"Oke! Siapa takut, gue emang cinta sama lo. Bahkan gue lebih cinta lo dibandingkan sama Serly. Gue bisa buktikan itu." Dirga mengambil alat alat yang sebelumnya Cecilia pergunakan.


Menyuntikkan zat adiktif itu kedalam tubuhnya, dan tidak lama dia merasakan efeknya. Serasa ada di dunianya sendiri dan memberikan sensasi berbeda. Membuatnya melayang walau tidak memiliki sayap, kesenangan yang belum pernah dia dapatkan dari mana pun. Hingga keduanya tertawa bersama.


Dan sejak itu, keduanya hanyut dalam lingkaran setan yang tidak bisa terputus jika tidak ada keinginan dirinya sendiri, jam tidur sudah mulai kacau dan tentu saja membuat semua hidupnya mulai berada dalam kekacauan, kuliah yang juga ikut berantakan padahal mereka termasuk mahasiswa yang cukup bisa diperhitungkan. Sampai pada akhirnya hubungan mereka di ketahui oleh Serly dan kejadian yang membuat keduanya mulai berubah.


Flash back Off


Cecilia menangis dipelukan Irsan, saat menceritakan semuanya pada Irsan, itu sebabnya dia mengatakan jika dialah penyebab Dirga berubah dan terus berubah menjadi Dirga yang sekarang dia kenal. Melunturkan rasa cinta yang bahkan sulit dibedakannya dulu. Apa itu cinta ataukah hanya main main belaka.


Itu sebabnya pula jika Cecilia tidak berani melaporkan Dirga walaupun dia saat ini berubah kasar padanya.


"Kalau aja dulu aku gak jerumusin Dirga, mungkin saat ini dia gak akan ada di penjara, atau--- atau."


Irsan mengelus bahunya lembut, "Itukah sebabnya kau tidak bisa berhenti peduli padanya. Walau sedikit?"


Cecilia mengangguk lirih, sambil menyapu kedua pelupuk matanya yang basah. Rasanya dia baru benar benar lega setelah menceritakan semuanya pada seseorang. "Ini semua salahku."


"Tidak! Kau tidak sepenuhnya bersalah. Karena bisa saja dia menolaknya kalau dia ingin. Tapi dia kan tidak menolaknya juga."


"Itu kan karena dia ingin buktikan cintanya sama aku. Padahal semua itu salah setelah aku fikir fikir sekarang."


"Cinta? Ya seumur kalian waktu itu mungkin cinta sebatas pembuktiaan seperti itu."


"Ya ... pasti kau juga pernah bodoh pada masanya. Iya kan?" ujarnya justru menohok. Karena itu benar. "Jadi gimana? Bisakan kau cabut laporanmu. Lebih baik dia direhabilitasi aja, toh dia bukan pengedar. Dia hanya pe candu aja."


Irsan mengambil sapu tangan dari balik saku nya, dan mengelap perlahan wajah Cecilia, "Proses hukum sedang berjalan, akan sulit waalaupun aku mencabut laporannya, tapi jika dia memang tidak terbukti sebagai pengedar, ya bisa saja dia hanya di rehab." ujar Irsan yang kini mengerti jika kepedulian Cecilia hanya sebatas rasa bersalahnya saja.


"Setidaknya kau sadar apa yang telah kau lakukan itu salah. Dan jangan di ulangi. Tidak ada cinta yang mengajarkan keburukan, justru cinta itu sebaliknya. Kepedulian dan rasa kasih sayang dan memperbaiki satu sama lain."


Cecilia tertegun menatap wajah Irsan yang semakin meneduhkan kala bicara itu, membuatnya semakin heran karena Irsan terus memperlihatkan sisi lembutnya dibandingkan Irsan yang kerap bicara seenaknya itu.


"Kenapa? Kau aneh melihatku begini?"


Cecilia mengangguk, "Kau kan biasanya hanya bisa bicara kasar semaumu. Ngejugde cacat mental lah... Inget banget aku itu."


Irsan mengulas senyuman, "Semua orang punya sisi buruk, masa lalu yang buruk dan sulit keluar dari sana. Tapi terkadang kita tidak sadar sisi yang lain dari kita akan keluar juga pada akhirnya, disaat yang tepat. Dan tentu saja pada orang yang tepat."


"Aku semakin mengerti, pengalaman buruk akan memperngaruhi seseorang hidup dimasa depan, banyak alasan seseorang yang kita tidak tahu. Tapi seburuk apapun kita di masa lalu, kita berhak mendapatkan masa depan yang cerah. Asal mau berusaha."


"Kenapa jadi kayak mamah dedeh."


"Siapa itu?" Dahi Irsan mengernyit.


"Ibuku sering nonton acara mamah dedeh, curhatan curhatan orang yang nanti di kasih nasehat gitu." Cecilia terkekeh, mengambil sapu tangan Irsan dari tangannya lalu dipakainya mengelap wajah serta hidungnya yang basah.


"Makasih! Seenggaknya aku lega sekarang. Ditambah kau janji akan membantuku."


"Ya ... Aku akan membantu selagi kau membutuhkannya dan kau tidak bersalah."


"Aku hanya minta buat keluarin Dirga dari penjara, aku akan membujuknya masuk rehabilitasi. Kasian dia."


"Kau hanya kasian padanya?"


Cecilia mengangguk, "Ya ... Hanya kasian! Kau fikir apa. Cinta?" Gadis itu kini menggelengkan kepalanya, "Jujur aja, belum ada yang bisa bikin aku tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Selama ini bagimu cinta is bulshit." ucapnya sembari mengembalikan sapu tangan basah pada tangan Irsan.


Irsan berseringai, dia justru merasakan hal yang sebaliknya, cinta teramat besar dia berikan seutuhnya pada seseorang yang salah. Yang telah di sia siakan nya dan berujung pada sebuah penyesalan.


Cecilia menghela nafas panjang, menatap hamparan langit dengan warna hitam bergelayut disertai kilatan kilatan petir yang mulai muncul. Udara dingin semakin menusuk hingga ke tulang, sementara Irsan menatapnya dalam diam di belakangnya.


"Kau tahu. Selain Nita, aku hanya bercerita ini padamu saja. Jadi itu artinya aku percaya kau." Ucap Cecilia dengan menyentuh dadanya sendiri.


"Kau bisa ceritakan apapun padaku. Tidak perlu sungkan."


Cecilia terkekeh, "Wah bahaya kalau semuanya aku ceritakan! Yang ada aku makin malu."


Irsan mengernyitkan dahi. "Memangnya ada yang lebih memalukan dari pada benda yang ditemukan didalam lemari pakaianmu itu?"


Tanpa disangka Cecilia mengangguk, "Ada ...!"


"Apa?"


"Berfikir kau itu jodohku, dan itu makin memalukan sekarang!"