
...Hai Cecelover, maafkan karena baru up lagi setelah kerempongan RL di hari kemaren. Siapa yang kangen cung. Wkwk. Pede bener lo thor....
.
"Cinta. Cinta itu tidak ada asal kau tahu Irsan, terlebih pada seorang gadis yang tidak berkualitas seperti dia, Kau fikir aku tidak tahu apa apa. Seorang pelacur yang menjual tubuhnya pada seorang pria hidung belang, menjijikan. Dan apa yang kau lakukan? Kau membantu semua masalahnya, kau menyelesaikan kasus hukumnya, kau membantu dan tanpa sadar kau diperbudak olehnya." Tukas Embun dengan penuh emosi, meremass laporan mengenai seluk beluk Cecilia yang dia dapatkan. "Kau memberinya kenyamanan selama ini, kau begitu bodoh Irsan karena dibutakan oleh parasnya yang cantik, apa dia juga meladeni mu diatas ranjang selama ini. Hah? Sampai kau melakukan banyak hal untuknya. Menjijikan!"
"Ibu!"
"Diam! Kau tidak pantas membentak ibu mu demi membela gadis itu, kau fikir Ibu tidak memiliki bukti dan bicara sembarangan. Apa kau fikir Ibu hanya mengandalkan Toni saja? Kau salah Irsan .... Kau sangat bodoh melebihi ayahmu, kau benar benar seperti ayahmu. Sama sama bodoh!"
"Bu ... Apa ibu tidak juga berniat mengerti perasaanku? Kenapa ibu selalu menyangkut pautkan nya dengan ayah, apa ibu sebenci itu padanya?"
Embun terdiam, dengan tatapan menajam pada anak kandungnya yang bukan hanya sudah dewasa dalam memilih dan memberikan keputusan dalam hidupnya, tapi juga melihatnya seolah dia melihat mendiang suaminya, yang memberinya sakit hati, penderitaaan dan juga kesengsaraan batin nya.
"Tidak usah membelanya, dia sama saja! Begitu bodoh sampai tidak bisa melihat mana wanita yang pantas dan bukan! Ya seperti kau ini. Kau bahkan memberinya apartemen, kau juga menyuruh temanmu menjadikannya sebagai asisten, kau fikir dia akan mampu? Jangan bodoh Irsan anakku. Kau hanya akan membuat temanmu terseret masalah besar, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!"
Irsan tidak kaget saat Embun mengatakan semua yang dia lakukan untuk Cecilia. Itu artinya ibunya sudah berhasil menyelidikinya melalui seseorang dan orang itu jelas bukan Toni.
"Ingat Irsan, sampai mati pun ... Ibu tidak akan merestuinya. Kau boleh main main dengannya, tapi tidak untuk menjadi menantuku. Dia tidak layak menjadi anggota keluarga kita." tukas Embun semakin emosi, "Keluarga miskin dan berantakan, ayahnya saja seorang penjudi dan pemabuk. Bibit bebet bobot yang sangat buruk, aku tidak ingin dicemooh orang lain dengan kau berani mengambil resiko itu. Apa yang akan dikatakan mereka jika itu terjadi, rekan bisnisku, bahkan semua karyawan rumah sakitmu. Hah?"
Irsan terpaku ditempatnya, bicara dengan ibunya selalu membuatnya sakit hati dan kecewa. Fakta yang sudah dia ketahui benar adanya, tapi apa yang bisa Irsan lakukan jika hatinya yang sudah bicara, bahkan sebelum mendapat penolakan ibunya saja, dia sudah berusaha menolak hatinya sendiri, entah berapa lama dia berfikir dan berperang dengan hatinya sendiri mengenai perasaannya pada Cecilia, sampai menyadari jika perasaannya tidak bisa lagi mengenal logika.
Cinta, itulah yang dia sadari selama sekian lama harus berperang batin, seribu kali menyangkal pun justru membuatnya semakin yakin dengan apa yang dia rasakan.
Dan tanpa mereka sadar, seseorang dibalik pintu tengah bersandar dengan memejamkan kedua mata.
Sakit hati tiada terkira dia rasakan kini, terbangun dari tidurnya setelah pria yang kini terdiam di depan ibunya itu pergi. Dan memutuskan menemui Embun dengan niat sejuta harapan bisa tinggal bersamanya demi mendapatkan restu kini telah pupus setelah mendengar ucapan yang sungguh menyakitkan darinya.
Semua yang dikatakan Embun memang benar, itu lah kenyataan yang harus dia terima. Apa yang menjadi pekerjaannya selama ini, tapi rasa sakit tertoreh dihatinya saat ada orang yang mengatakan semuanya dengan hinaan, bahkan seseorang itu ialah ibu dari pria yang dia cintai, yang mengorbankan banyak hal untuknya, mencintainya, membantu semua masalahnya.
Tanpa sadar air bening kembali meluncur bebas dari kedua maniknya. Cecilia bersandar disamping pintu yang sedikit terbuka itu, sampai dia menyadari kalau sedari tadi suster yang tertidur di sofa kini terduduk disofa dengan menatapnya.
Cecilia menggelengkan kepala ke arahnya, mencoba memberi isyarat agar dia diam dan tidak memberi tahu Irsan maupun Embun jika dia telah mendengar semuanya. Dia juga menempelkan jari telunjuk pada bibirnya agar suster lebih mengerti bahasa isyaratnya. Kedua tangan menyapu bulir bulir basah di kedua pipinya, lalu dia beranjak pergi dari sana.
Cecilia keluar dari unit yang kini atas nama dirinya itu, berlari masuk kedalam lift dengan tangisan yang sudah tidak dapat dia bendung lagi. Menekan tombol teratas dimana root top berada.
Gadis itu kini berjongkok memeluk lutut, memikirkan Irsan yang melakukan banyak hal untuk kebaikan dirinya, berusaha melepaskan semua belenggu masa lalu yang mengingatnya kuat. Bahkan sampai terus berdebat dengan ibunya dan membuat hubungan keduanya semakin parah saja.
Ting
Lift terbuka, Cecilia masih terdiam memeluk lutut. Hingga pintu lift menutup kemudian kembali terbuka berulang kali barulah dia bangkit dan keluar.
Isak tangis terdengar lirih darinya, dengan menatap hamparan langit hitam tanpa satupun bintang yang dia lihat, kelam dan suram dengan desiran angin malam yang menusuk kulit ari.
Langit hitam nan suram bagaikan hidupnya selama ini, dan akan terus suram dan hitam sekalipun ada seseorang yang membawa benderang untuk menerangi jalannya. Cahaya kecil yang tidak akan merubah catatan hitam dalam hidupnya. Catatan yang akan terus dia pikul di pundaknya, catatan hitam yang membuatnya tidak akan memiliki masa depan. Kelam, itulah hidupnya.
Cecilia merentangkan tangan dengan memejamkan kedua matanya, apa dia harus melompat dari atas gedung dan mengakhiri hidupnya yang tidak berharga itu, dengan dirinya yang tidak memiliki kualitas itu. Bahkan satu satunya yang sempat dia banggakan sendiri pada Embun ternyata campur tangan Irsan yang menjadikannya asisten Dosen.
Satu satunya kebanggaan kecil yang juga telah pupus karena justru membuatnya terlihat lebih bodoh karena dirinya yang tidak memiliki standar yang seharusnya dimiliki seseorang yang di pilih.
Cecilia membuka kedua matanya, terjun dari ketinggian justru akan semakin membuatnya berdosa besar, tapi apakah ada kesempatan baginya untuk membalas semua yang di lakukan Irsan untuknya. Mati bukan caranya, apalagi pergi.
"Gue gak akan nyerah gitu aja! Seenggaknya gue bisa pergi setelah membalas semua kebaikan dan pengorbanan Irsan selama ini. Ya gue Cecilia ... Gue gak bakal biarin orang lain ngehina gue tanpa tahu apa apa, termasuk Embun. Gue Cecilia ... gak akan pergi sebelum membuat orang itu nyesel karena hina hidup gue, apa mereka gak pernah mikir kalau gue juga gak mau hidup begini, gue gak mau lahir dari keluarga miskin dan berantakan, gue juga gak mau hidup susah bahkan sejak kecil, gue juga gak mau nyari duit dengan cara begini. Apa gue bisa minta, enggak! Gue gak bisa minta dimana gue dilahirkan dan gimana gue menjalani hidup." Lirih Cecilia dengan terus menyusut air mata.