I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.133(Aku nyesel)



Tidak sampai di situ, Irsan kembali membalikkan tubuh Cecilia dan tidak memberikan kesempatan baginya untuk bergerak, dia menyandarkannya di tembok, masih dengan kaki yang dia angkat satu ke atas, dan kembali meneroboskan senjata miliknya ke bawah sana.


"Kau!" Cecilia menyalang, "Lakukan pelan pelan bisa kan?"


"Tidak bisa. Arrgghh ....!"


Percuma saja sejak tadi Cecilia mengumpat, umpatan yang keluar dari mulutnya justru membuat adrenalin Irsan semakin meningkat, bergejolak hebat tanpa bisa dia tahan, pria itu tidak lagi mampu menguasai dirinya sendiri, logikanya kalah oleh nafsu yang sengaja di undang.


Tidak ada cara lain selain menikmatinya, benar. Tapi sungguh menyakitkan bagi Cecilia, dia bahkan tidak diberikan ruang gerak sedikitpun, tangannya di kunci begitu juga dengan kakinya, bahkan pinggangnya kini mulai panas.


Irsan membuatnya tidak lagi berdaya, hingga geraman kuat menggema keluar dari mulutnya saat sesuatu yang hangat menyembur keluar. Hal itu digunakan Cecilia melepaskan cengkraman Irsan, dia mendorongkan hingga Irsan mundur.


"Kau. Gak kasih aku kesempatan!"


Irsan kembali melangkah, kali ini membopong tubuh Cecilia hanya dengan satu tarikan saja, menghempaskannya di atas ranjang.


"Hei ... tadi udah keluar!"


"Belum. Kau tidak lihat ini?" tunjuknya pada senjata yang masih berdiri dengan sempurna, bahkan Cecilia bisa melihat dengan jelas seberapa tegang daging dengan otot milik Irsan.


Pria itu kembali menghujam, menghentak maju mundur berkali kali sampai Cecilia berulang kali menjambak rambutnya.


"Kau gila!"


"Ya ... Kau yang membuatku gila seperti ini Cecilia! Kau lupa. Aaaggghhhh!" geraman panjang kedua yang keluar dari mulut Irsan.


"Udahan! Aku gak mau lagi. Itu ku sakit!" ujarnya kembali mendorong dada Irsan.


Namun Irsan seakan tidak ada puasnya, dia kembali menghujami Cecilia, membolak balikkan posisi Cecilia dengan berbagai macam cara. Yang keluar hanya geraman panjang dan kata maaf yang dia ucapkan pada akhirnya.


Hingga gadis itu terkulai lemas tak berdaya dan juga tanpa pelepasan dari nya.


"Kau brengsekk!" ujarnya mendorong Irsan ke arah samping pada saat geraman panjang ke 4 keluar.


Pria itu mengatur nafas, tergolek lemas namun senjatanya masih juga menegang keras. Sudah tidak bisa di hitung lagi seberapa banyak peluh yang bercucuran dari tubuhnya, dadanya naik turun dengan terengah engah.


"Lalu bagaimana dengan ini?"


"Aku gak tahu!" ketus Cecilia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang kini polos, entah dilemparkan kemana pakaian yang dia pakai. "Aku aja sakit!"


"Maaf Cecilia!"


"Maaf maaf terus!" gerutunya pelan. "Udah 4 kali keluar, lah gue?" gumamnya lebih pelan. "Harusnya ini jadi menyenangkan, bukan malah jadi gini!"


Tak lama, Cecilia beranjak turun dari ranjang, rasa perih bercampur sakit dia rasakan di inti miliknya. Hingga dia meringis seraya mendelik ke arah Irsan.


"Kau mau kemana. Ke kamar mandi? Biar aku antar." Irsan bangkit dan meraih bathrobe untuk dia pakai sendiri. "Tunggu aku!"


"Stop. Jangan kemana mana! Sana ... Sana, aku gak mau di antar! Aku bisa sendiri."


Irsan mengernyit, "Kau bisa sendiri?"


"Ya ... Aku bisa! Kalaupun gak bisa, aku gak akan minta tolong padamu. Sudah cukup! Aku bisa mati gara gara kau."


Cecilia terus menggerutu kesal. Pasalnya, bukan kenikmatan yang dia rengkuh, justru kebalikannya. "Sialan, ini semua gara gara Si Nita." gumamnya saat masuk ke kamar mandi dengan susah payah, hanya untuk buang air kecil saja dia merasa ragu ragu karena rasanya sangat perih.


Permainan cukup melelahkan itu menghabiskan waktu hampir 4 jam, namun benda tanpa tulang milik Irsan masih menegang sampai sekarang. Dia sudah kelelahan, kedua matanya sudah mengantuk tapi tidak bisa dia pejamkan, sama halnya dengan jantungnya yang terus berdebar debar kencang karena efek dari obat yang dia minum.


Segala macam dia coba, namun tidak juga benda miliknya itu melemah, sampai akhirnya dia keluar dari kamar dan duduk di sofa. Mencoba menenangkan dirinya sendiri, dia juga mengambil obat pereda nyeri lalu meminumnya.


Apa yang di lakukannya benar benar keluar dari batas, dia merasa menjadi pria paling brengsekk karena melakukan hal tersebut pada Cecilia. Ucapan yang keluar dari mulutnya beberapa jam yang lalu kembali dia ingat. Menjaganya. Itulah alasan dia tidak melakukan hal tersebut, tapi kini. Semua berbanding terbalik.


Begitu juga Cecilia yang merasa kesal dan marah, dongkol dan tentu saja tidak merasakan kepuasan. Dia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas ranjang.


Malam semakin larut, keduanya kini sibuk dengan fikirannya masing masing, Cecilia maupun Irsan tetap ditempatnya lagi tanpa saling menemui setelah apa yang terjadi cukup mengguncangkan keduanya.


Sampai Cecilia tertidur semakin nyenyak, begitu juga Irsan yang berada di ruang tamu.


Tak lama, pria tegap itu masuk ke dalam kamar, mendapati Cecilia yang kelelahan akibat ulahnya. Dia menghampirinya dan duduk di tepi ranjang, membenahi selimut yang berantakan, juga merapikan rambut Cecilia yang menutupi wajahnya.


"Maafkan aku Cecilia! Padahal aku sudah mengatakan padamu aku akan menjagamu. Tapi, apa yang sekarang aku lakukan itu Cecilia?" Ujarnya dengan lirih, mengelus rambut Cecilia dengan lembut.


Tak lama dia kembali keluar setelah mengambil pakaian miliknya.


Irsan tidak dapat lagi memejamkan mata, walau penglihatannya sudah tampak tidak jelas, kepalanya masih terasa berat dengan jantung berdebar debar. Dia hanya duduk termenung di balkon, menatap hamparan langit hitam pekat tanpa ada nya bintang bintang yang selalu jadi penghiasnya.


Kepulan asap putih juga keluar mulutnya, sebatang rokok yang dia bakar dan dia hisap. Sebungkus rokok yang dia temukan dari koper milik Cecilia yang sudah diacak acak polisi. Padahal Irsan tidak pernah merokok, berbeda dengan kali ini, dia sudah menghabiskan 5 batang rokok sejak tadi. Entah dia hisap ataupun hanya dibiarkan begitu saja di sela jari nya.


Sementara Cecilia harus berkali kali mengerjap karena merasa perutnya berbunyi keroncongan, Cecilia pun terbangun dan turun dari ranjang, keluar dari kamar dan mencari pria yang telah membuat tubuhnya ringsek dalam waktu beberapa jam.


Tidak ada siapapun diruang tamu, begitu juga di dapur, namun pintu balkon terbuka dan angin malam yang dingin menerobos masuk.


"Kenapa bangun. Hm?" Irsan muncul setelah mendengar langkah kaki Cecilia yang terdengar jelas.


"Aku lapar!" cetusnya dengan wajah kaget karena kemunculan Irsan yang tiba tiba.


"Duduklah ... Aku akan membuat makanan untukmu."


Cecilia melihat rokok menyala di sela jari Irsan, "Sejak kapan kau merokok?"


"Sejak dulu!"


"Itu punya ku kan?"


"Aku akan menggantinya Cecilia."


"Maksudku, aku gak pernah lihat kamu ngerokok! Kembalikan." Cecilia merebut rokok dari tangan Irsan lalu melemparkannya keluar balkon. "Aku gak mau bikin kamu tambah gila. Kau kan dokter, aku udah bikin kamu jadi kayak gitu tadi, aku juga gak mau bikin kamu tambah gila."


"Jadi kau menyesal, bukankah kau sendiri yang ingin meng observasiku untuk mendapatkan fakta?" Irsan melipat kedua tangan di dadanya.


"Ya ... Aku nyesel, bukannya enak malah sakit tahu gak!"


.


Syukurin. Kapok kan lo Ce ... Wkwkwk


Jangan lupa terus dukung karya othor ini, like, komen, gift dan rate kalau kalian Cecelover. Wk, jangan lupa juga tonton iklannya biar othor dapet recehan.