I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.295(Mood berubah cepat)



Kebahagian tidak hanya dirasakan mereka berdua, kedua wanita paruh baya yang tinggal bersama pun merasakan hal yang sama. Mereka sama sama bahagia karena mendapati jika Cecilia dan Irsan akan memberikan keduanya cucu untuk pertama kalinya.


Beruntung karena keduanya tengah mengikuti acara amal dari kelompok orang tua yang kebanyakan harta yang berpusat diluar kota.


Dan Irsan harus berusaha dengan keras agar Embun serta ibu Anna yang kian sembuh dari sakitnya itu pun tidak memaksakan diri untuk segera pulang, akan sangat repot jika keduanya pulang karena dipastikan mood Cecilia akan kembali buruk.


Dan Cecilia menolak untuk menginap di rumah sakit, dia ingin segera pulang ke rumah dan tidur di atas ranjangnya sendiri. Sekalipun Irsan memaksanya namun bukan Cecilia jika menurut begitu saja. Terlebih dia merasa baik baik saja.


"Segera katakan kalau kau merasakan hal hal yanv aneh di tubuhmu, atau kau merasa tidak nyaman. Ingat kata Dokter Siska kalau kandunganmu masih snagat rentan!" ucap Irsan saat membuka pintu mobil untuk Cecilia.


"Iya aku tahu kok! Aku gak akan ngeluh, tenang aja ... Aku akan nikmati masa masa seperti ini!" ujarnya dengan kedua alis yang naik turun, kehamilan yang tidak semenakutkan bayangannya. Fikirnya sekarang.


Astaga ... Bagian ini juga aku belum tahu, kenapa tidak seperti orang orang di mana para Istri justru akan minta diperhatikan saat hamil, rasanya hamil maupun tidak sama saja, justru semakin galak saja. Dan anehnya karena aku tidak bisa membantah sedikitpun padanya. Batin Irsan saat berjalan menuju pintu kemudi.


"Sayang, apa kita bisa mampir ke butik kak Ines?" ucap Cecilia saat Irsan sedang mengencangkan seat belt miliknya.


"Sekarang?"


Cecilia mengangguk, "Ya sekarang, masa tahun depan!"


"Baiklah ... Kau yakin ingin kesana. Bukankah kau bilang tadi ingin segera pulang dan tidur?"


Gadis itu pun menggelengkan kepalanya, suasana hatinya berubah ubah dengan cepat. "Aku mau kesana!"


"Ok ...! Tapi kalau kau lelah katakan padaku. Hm?"


"Tentu saja aku akan bilang, enak aja kalau aku harus menderita dengan perubahan mood hamil ini sendirian, kamu juga harus ikut ngerasain dong,"


Irsan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saja,


"Dengan senang hati, berbagilah denganku!" sahutnya antusias.


"Aku ingin makan soto maknyuss, tempatnya gak jauh dari butik milik kak Ines. Jadi kita bisa sekalian kan?"


"Soto apa?"


"Soto maknyuss, langganan aku dan Nita ke sana hampir setiap hari hanya untuk cari makan, sampai yang punya sekarang di nantikan anaknya rasa kuahnya gak pernah berubah." ucapnya dengan langsung terdiam, lagi lagi dia mengingat Nita.


"Baiklah ... Kita kesana!" tukas Irsan yang segera mengalihkan perhatian Cecilia.


Hingga mobil yang dikendarai sesuai petunjuk arah dari Cecilia kini tiba di sebuah tempat yang cukup ramai, kedai soto yang di penuhi banyak sekali pengunjung yang datang.


Dan tanpa sengaja Cecilia melihat seseorang yang dia sangat kenali walau dari kejauhan.


"Nita?"


Wanita itu turun dari mobil dan berjalan menyusulnya dengan langkah tergesa gesa, dan Irsan terlihat panik saat melihat langkah Cecilia yang bisa saja jatuh.


"Hey ... tunggu! Nita..." teriaknya dengan terus berlari bahkan tidak ingat jika dirinya sedang hamil muda.


Namun seseorang yang dia duga adalah Nita sudah hilang entah kemana dalam sekejap saja. Irsan mencekal lengannya dan menghentikan langkah Cecilia.


"Nita ... Tadi aku lihat Nita kesana! Ayo kita cari dia."


"Enggak ... Aku gak salah lihat, tadi aku lihat Nita, aku gak bohong!" Cecilia terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Irsan yang menahannya. Namun Irsan juga tidak mungkin mengambil resiko jika melepaskan Cecilia begitu saja.


"Oke tenang, kita akan cari sama sama tapi tidak berlari, tidak tergesa gesa apalagi memberontak. Kita akan sama sama mencari mulai dari dalam. Ok?"


Cecilia terdiam dan mulai tenang, mencoba mencerna kalimat yang di lontarkan suaminya. Dan akhirnya dia mengangguk pelan.


"Good ... Kau tidak hanya memikirkan dirimu sendiri Cecilia, kau juga harus memikirkan kondisi kehamilanmu. Tidak bisa berlari seperti tadi, bagaimana kalau kau jatuh hm?"


"Iya aku tahu! Aku lupa dan yang ada di otakku cuma Nita jelas jelas aku lihat tadi!" ketusnya.


Sampai mereka berdua masuk dengan menyisir ke segala arah untuk mencari sosok Nita namun tidak menemukannya.


"Bagaimana ...? Apa kau melihatnya?"


Cecilia menggelengkan kepalanya dengan lirih, rasanya menjadi tidak karuan karena terus berharap jika dia menemukan Nita tapi gadis itu entah pergi kemana.


"Aku berjanji akan mencarinya sampai ketemu, tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh gegabah, ingat calon anak kita!"


Cecilia menatapnya nanar, kedua manik hitamnya berkaca kaca dengan menahan agar tidak lagi menangis. Sialnya, gadis kuat dan pemberani itu kini gampang sekali menangis.


"Janji?"


Cecilia mengangguk, mengusap air mata di ujung pelupuk yang terlihat mulai menganak pinak.


"Maaf ... Aku ... Aku....!"


Irsan pun menggenggam tangan Cecilia. "Aku mengerti tapi kau harus bersabar sedikit saja, beri aku waktu dan aku akan menemukan nya untukmu."


Gadis itu pun semakin menahan air mata agar tidak terus meluncur dengan bebas, dia bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri.


"Aku tidak pernah melihatmu sesedih ini Cecilia, kau pasti sangat kehilangan."


"Gak cuma ngerasa kehilangan, tapi aku rasa Nita gak lagi baik baik aja! Aku bisa ngerasainnya, dan lagi aku gak tahu kondisi dia sekarang, si brengsekk Toni gak bilang apa apa lagi!"


Dua mangkuk soto khas maknyus telah terhidangkan di atas meja, asap yang mengepul dan aroma rempah rempah yang membuat selera makan Cecilia muncul.


"Makanlah ... Anak kita perlu mencoba soto yang kau bilang enak ini!" ucap Irsan dengan tatapan hangat dan jemari yang menyeka wajahnya yang basah.


Cecilia mengangguk, tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Bahkan dia tidak lagi bisa menyembunyikan titik lemahnya di hadapan Irsan yang terus menerus peduli padanya walaupun suasana hatinya naik turun dan tidak karuan. Mereka sama sama saling menatap, diantara kepulan asap di hadapannya.


"Maaf kalau aku pasti akan terus bikin kamu repot sayang, dulu setiap aku punya masalah atau gak karuan kayak gini. Aku pasti minum dan pergi ke klub. Tapi sekarang mungkin gak bisa kan?"


"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku yang akan jadi tempat pelarianmu saat kau punya masalah dan tidak karuan. Hm?"


Cecilia mengangguk, tiada hentinya menatap Irsan yang menggenggam tangannya dengan erat. Seseorang yang hadir sebagai pelipur lara dan juga pengobat luka hatinya.


"Makanlah yang banyak agar anak kita tumbuh besar dan sehat!" ucap Irsan.


"Apa aku boleh tambah?"