
"Duduklah, apakah aku sangat menakutkan?" tukas Embun yang tersenyum ke arah Cecilia yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Dengan terheran menatap wanita paruh baya yang tiba tiba muncul dan tersenyum.
Apa yang akan dia lakukan lagi setelah ini, gak mungkin banget dia tiba tiba baik dan orang yang Irsan bilang tadi ingin ketemu gue gak mungkin dia kan? Batin Cecilia berbicara.
Irsan menatap sekilas pada ibunya yang juga menatapnya dengan tersenyum, lalu dia berjalan melewatinya dan menghampiri Cecilia.
"Duduklah! Tidak akan terjadi apa apa."
What! jadi bener kalau Irsan udah tahu ibunya ingin ketemu gue, apa gue ketinggalan berita kemaren saat mereka bicara. Gue kan cuma denger awalnya aja. Cecilia kembali membatin.
Akhirnya dia menyeret langkahnha dengan berat, mendudukan bobot tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Embun, dan masih dengan menatapnya dengan penuh curiga.
"Ada apa lagi ini?" tukasnya dengn datar.
Embun tersenyum lagi, "Aku kemari untuk melihat kalian, tidak usah takut karena aku sudah putuskan akan menerimamu dengan baik sebagai wanita kencan putraku atau apapun itu namanya."
Cecilia menatap Irsan yang masih berdiri, lalu kembali menatap ibu kandung dari pria berusia 40 tahun itu. "Magsudnya?"
"Kemarilah?" Embun melambaikan tangan tanpa merubah raut wajahnya, masih terus tersenyum.
Apa apaan nih. Mereka masih mau ngerjain gue apa?
"Ayo kemari, Ibu tidak akan menggigit, masa ibu yang harus menghampiri mu yang muda." imbuhnya lagi dengan terkekeh.
Cecilia tidak serta merta mau menuruti perintahnya, dia masih terdiam di tempatnya. Dia menatap Irsan yang kini memganggukkan kepalanya, meyakinkan kalau tidak akan terjadi sesuatu diantara mereka.
Akhirnya Cecilia bangkit dan berjalan ke arahnya, lalu kembali duduk disampingnya.
"Ibu ingin minta maaf atas semuanya, atas sikap ibu yang keterlaluan selama ini padamu. Yang tidak mau mengerti dengan segala alasannya." tukasnya dengan menggenggam tangan Cecilia.
Gadis berusia 20 tahun itu mengerjapkan kedua matanya. Tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar. Dia hanya menatap wajah Embun yang terus mengulas senyuman manis dan hangat padanya.
"Apa kalian harus sebercanda ini?" tanyanya penuh curiga, tidak mungkin sifat Embun berubah dalam waktu semalam saja. "Gak lucu tahu!" ketusnya menepiskan tangan Embun. "Gak usah berpura pura baik atau berakting seolah ibu berubah dan menerimaku dengan segala keburukan yang sudah ibu ketahui. Aku gak sepolos itu bu." imbuhnya lagi.
Irsan terdiam tanpa kata melihat reaksi gadisnya yang sangatlah wajar, apa yang dilakukan Embun memang perubahan yang sangat drastis.
Kurang ajar memang si Carl, ini terlalu cepat dan tentu saja Cecilia tidak akan mudah percaya. Hanya semalam saja. Brengsekk kau Carl. Irsan mengumpat dalam hati pada sahabatnya itu.
"Ibu tahu kau kecewa nak, ibu juga tahu kalau kau tidak akan percaya. Tapi ibu katakan sekali lagi. Ibu sudah berubah, ibu minta maaf ya, kau juga boleh kembali ke apartemen itu nanti, Ibu sudah melihat dokumennya dan itu memang Irsan berikan padamu. Terimalah dengan baik." Embun kembali meyakinkannya dengan penuh kelembutan, kedua mata menatapnya sendu, lalu menatap Irsan. "Kemarilah putraku."
Irsan mengayunkan kedua kaki ke arahnya lalu duduk dihadapannya. Menyambut tangannya yang sudah dipenuhi kerutan dan menggenggamnya.
"Ibu benar benar minta maaf padamu, ibu terlalu keras selama ini dan menginginkan semuanya berjalan sesuai kehendak ibu sendiri tanpa memikirkan kau Irsan. Sekarang ibu tidak akan melakukannya lagi, ibu sadar ibu sudah tua dan egois. Ibu tidak ingin terus ribut denganmu."
Irsan asal mengangguk saja, fikirannya dipenuhi oleh ucapan Carl semalam. Apa ini yang dia bilang rencana yang akan menguntungkannya dan membuatnya berterima kasih nanti.
"Ibu akan kembali ke singapura lusa, kalian jaga diri kalian disini yaa. Tapi ingat Irsan, ibu tidak ingin memiliki cucu sebelum waktunya." ujarnua kembali terkekeh.
Sementara kedua orang terpaku ditempatnya, terdiam dan hanya saling menatap atas perubahan Embun yang sangat drastis itu.
Apa doa gue tadi dikabulkan, cepet banget ya tuhan sampai aku gak ngomong. Batin Cecilia.
***
Setelah kepergian Embun, Cecilia masih menopang dagu memikirkan perubahaan yang begitu kentara itu, sementara Irsan mengantarkan Ibunya kembali ke unit yang di tempatinya.
"Serem banget, apa ibu udah mau meninggal ya, kata orang kan gitu kalau mau meninggal, ngomong aja lembut begitu, gak kayak biasanya." Ujar Cecilia bergidig dengan kedua tangan menopang dagu. "Jangan jangan ini hanya sandiwara, gue gak bisa percaya 100%, masalah akting gue jagonya, tapi gue gak bisa menduga duga, dia juga gak keliatan akting, tatapannya penuh keyakinan. Ah ... Bego! Gue bakal kesiangan masuk kampus gara gara masalah ini."
Cecilia akhirnya bangkit, menyambar tas kiliknya dan juga tas berisi laptop serta tugas yang harus dia selesaikan lalu keluar dari unit.
Irsan baru saja hendak masuk namun berhenti saat melihat Cecilia yang keluar.
"Ih ngagetin aja!"
Pria jangkung itu mengacak pucuk rambutnya dengan terkekeh.
"Kamu akan ke rumah sakit?"
"Hm ... Sebentar lagi, aku harus bertemu Carl lebih dulu."
"Carl. Emangnya dia disini?" Cecilia mengayunkan kedua kakinya.
"Hm....!"
"Oh...."
Keduanya berjalan bergandengan tangan menyusuri koridor untuk sampai ke arah lift.
"Apa yang terjadi.Kenapa ibumu berubah dengan cepat gitu?"
"Bukankah itu bagus?"
"Aku gak tahu itu bagus atau enggak! Yang jelas, ini aneh." tukas Cecilia yang masuk kedalam lift di ikuti oleh Irsan.
Pintu lift tertutup, keduanya berdiri dengan bersampingan dan terus berpegangan tangan.
"Tidak usah difikirkan. Yang pasti semua akan baik baik saja seperti doamu tadi pagi."
"Eeeh ... Kau dengar itu? Ih nyebelin banget." Cecilia mencubit lengannya keras.
"Aku tidak sengaja mendengarnya saat aku ingin memastikan lagi dirimu pergi ke kamar mandi."
"Ish!" Cecilia mendengus namun dengan mengulas senyuman juga.
"Sekarang kau tidak perlu khawatir apa apa lagi tentang ibuku. Walau sebenarnya akupun tidak peduli akan hal itu, tapi itu bagus untuk hubungan kita."
Gadis dengan rambut dikuncir kuda itu melingkarkan tangan di pinggang Irsan, "Benarkah? Hubungan kita kedepannya?"
"Hm ...! Kedepannya."
Irsan mencapit dagu Cecilia dan menyambarnya sekilas, begitu lembut sampai rasanya bulu bulu yang di tengkuk Cecilia meremang seketika.
"Ah ... Cepet banget!" kelakarnya atas ciumaan secepat kilat dari Irsan.
"Kalau diteruskan akan bahaya, kau harus pergi ke kampus dan aku memiliki urusan yang sangat penting." jawab Irsan dengan mengguyel kedua pipi Cecilia.
Tentu saja hatinya kembali senang pagi ini, setelah semalaman menangis tiada henti.
Mereka sampai di lobby apartemen. Mobil BMW berwarna merah sudah terparkir dengan kaca jendela terbuka setengahnya, juga ada pita berukuran besar dengan warna warni dan juga balon disekelilingnya.
"Ini mobil siapa?"
.
.
Nah lho tuh gardu listrik keselek biji kedongdong apa gimana ya, setelah bikin Cece nangis sekarang dia baik banget kek ibu peri. Kwkwkw.