I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.214(Bertemu tanpa sengaja)



Dari kejauhan terlihat berlarian tiga orang berseragam hitam hitam ke arahnya, membuat Cecilia yang sedang mençoba menenangkan bocah itu tersentak kaget dan mundur beberapa langkah hingga mendekati tembok.


"Ada apa nih?!"


"Maaf, tolong jangan kemana mana, berikan anak itu, ibu dan ayahnya sudah mencarinya sejak tadi." ujar seseorang pada Cecilia dengan kedua tangan terbuka ke arahnya meminta menyerahkan anak tersebut.


"Kau tahu anak ini. Ahh ... Syukurlah ...!"


"Biruuuu!"


Teriakan seorang perempuan yang berlari sekuat tenaga membuat Cecilia yang sudah kaget itu semakin tersentak saja, dari kejauhan, bahkan suaranya amat dia kenal dengan baik. Wajahnya serta rambut panjang milikinya.


"Biru ... kamu di sini rupanya!"


"Astaga!!"


Keduanya saling bertatapan tak percaya, suatu kebetulan yang tidak disangka sangka, bahkan untuk sepersekian detik mereka sama sama mematung


"Ce ...?"


"Nia ... ?"


"Ce ... Lo?"


"Nia ... Anak Lo ... Biru ... Maksudnya, ini anak lo?"


Agnia mengambil anak kecil dari pangkuan Cecilia sambil terus mengangguk dengan kedua manik yang berkaca kaca.


"Cecilia ....!"


"Nia ... Gak nyangka sumpah!"


Setelah tersadar jika putranya ditemukan dan orang yang berada di hadapannya adalah sahabatnya, Agnia berhambur memeluknya begitu juga Cecilia.


"Astaga ... Gue gak nyangka ketemu lo di sini Nia, lo apakabar?"


"Gue baik Ce ... Lo sendiri apakabar?"


Cecilia menatap Agnia dari atas sampai bawah lalu menggusel kedua pipinya dengan gemas.


"Curang lo ya ... Udah punya anak tapi gak keliatan punya anak."


Agnia terkekeh, masih memeluk Biru dengan erat, anak kecil yang kini berada di pangkuan sang Ibu pun tampak tenang, dengan terus memeluk Agnia walau dengan isak yang masih terdengar.


"Untung gue yang nemuin anak lo ini, kemana aja sih lo jagain anak aja gak becus!" seloroh Cecilia yang tiba tiba kesal namun tidak bisa dia pungkiri betapa senangnya bisa kembali bertemu dengan sahabatnya.


Agnia mendengus, "Nih gara gara laki gue, udah gue bilang buat jagain bentar aja. Gue kebelet tadi."


Cecilia menggelengkan kepalanya seraya berdecak, rasa lega pun dirasakan oleh beberapa security yang membantu mencari Biru.


"Makasih ya pak ... Maaf ngerepotin." tukas Agnia pada mereka sebelum mereka kembali ke posnya masing masing.


"Gue panik banget nyariin dia," Agnia memeluk putranya dengan erat.


"Makanya jagain yang bener. Gimana sih lo!"


"Makin galak aja lo Ce!"


Keduanya akhirnya tertawa dengan saling memeluk lagi, melepas rindu yang selama ini tertahan karena jarak keduanya. Agnia terpaksa harus ikut suaminya mengurus perusahaan di negara Singapure, walau berat karena harus pindah negara dan juga kampusnya dulu, termasuk kedua sahabatnya Cecilia dan Nita.


Akhirnya, keduanya keluar dari kawasan rumah sakit, mereka duduk disebuah kursi di dekat taman yang berada di area samping rumah sakit. Cecilia mengedarkan pandangannya mencari sosok Zian yang tidak terlihat.


"Lo gak ngabarin suami lo? Panik pasti dia nyariin Biru."


"Biarin aja, suruh siapa dia teledor dan terus ngurus kerjaannya ketimbang anaknya sendiri" tukas Agnia yang masih kesal.


Cecilia terkekeh, "Masih galak aja Non sama Daddy nya."


"Apaan sih lo!"


Gelak keduanya kembali terdengar renyah, sudah lama tidak bersua apalagi bercanda membuat keduanya lupa tujuan masing masing. Sampai seorang pria berkemeja putih dan jas navi yang ditengtengnya berlari ke arah Agnia dengan nafas terengah engah.


"Astaga ... Biru!" Ujarnya dengan langsung mengambil bocah berusia 2 tahun itu dari tangan Ibunya.


"Nih orangnya ... Nyebelin banget, Nia bilang jagain ... Jagain, udah tahu Biru baru bisa jalan. Meleng dikit ilang kan jadinya!" Gerutu Agnia dengan terus mencubit lengan kekar Zian.


"Baby ... Ahh, sakit baby! Aku minta maaf! Tadi aku sedang menerima telepon."


"Gak ada alesan alesan yaa ... Udah salah juga ih!"


"Aah ... Baby, hentikan ... Sakit! Biru ...!" Zian menatap Putra semata wayangnya minta pertolongan, Biru hanya tertawa melihat kedua orang tuanya ribut.


"Aaah ... Baby, iya aku tidak akan melakukannya lagi, janji."


"No ... No ...!" suara Biru terdengar diantara suara rintihan Zian dan sentakan Agnia.


"Janji ... Janji, awas aja ...!" Agnia baru menghentikan aksi cubit cubitannya setelah Biru bersuara.


"Iya ... Lain kali aku akan lebih waspada Baby. Biru maafkan Daddy ya! Daddy tidak menjagamu dengan baik tadi." Zian memeluk sang putra dengan erat. Tidak bisa dia bayangkan rasanya jika kehilangan Biru.


Agnia semakin terdiam melihat suaminya memeluk Biru, begitu juga Biru yang terlihat senang dengan menelengkupkan kepalanya pada ceruk leher sang Daddy dengan kedua kaki terus bergerak kegirangan.


"Dad ... Daddy!"


Cecilia yang melihat drama keluarga sahabatnya itu berkaca kaca, melihat kehangatan antara ayah dan anak serta ibu nya.


"Daddy harus bilang makasih sama Cecilia, dia yang udah nemuin Biru tadi," tukas Agnia yang membuat Cecilia yang terdiam kini mengerjapkan kedua mata karena Zian menatapnya tajam.


"Cecilia?"


"Huum ... Kebetulan banget kan. Awas aja gak jagain Biru lagi dan sampe ilang lagi."


"Iya Baby ... Maafkan aku," Ujar Zian dengan merengkuh bahu sang Istri dan memeluknya. "Cecilia. Terima kasih." sambungnya beralih pada Cecilia dengan senyuman tipis.


"Sama sama Om ... Eeeh pak." Kikuk sendiri dengan nama panggilan yang cocok untuk suami sahabatnya itu.


Pesona Zian tidak berubah dari dulu, bahkan lebih terlihat sangat menyayangi anak dan Istrinya, dan diam saja saat Agnia marah serta mencubitinya sejak tadi.


"Suami lo makin bucin sama lo." bisik Cecilia tepat di telinga sahabatnya. "Awww!" cicitnya saat Agnia menyikut lengannya.


"Oh ya Ce ... Lo ngapaian di sini?"


"Lo sendiri? Siapa yang sakit? Lo gak sakit kan ... Biru juga kan?" Cecilia memberondongnya dengan banyak pertanyaan padahal dia yang pertama ditanya.


"Gue gak apa apa, tadi gue buru buru kesini karena suami gue mau meeting, dadakan banget. Makanya gak sempet bilang lo kalau gue mau pulang."


"Elah ... Pebisnis emang beda ya, siap meeting di manapun." Cecilia terkekeh lantas teringat pada Irsan yang juga mengatakan akan pergi ke Singapure hanya untuk meeting.


Zian tampak bermain dengan Biru, dia tidak peduli pada dua wanita yang tengah sibuk dengan segala macam topik yang mereka perbincangkan. Sampai suara ponsel miliknya terus bergaung nyaring.


"Hubby ... angkat. Berisik tahu!" seru Agnia padanya, mengabaikan panggilan adalah kebiasaan baru yang kerap dilakukan Zian jika tengah bermain dengan anaknya.


"Biru ... Give Daddy five minutes to get on the phone. Oke?" Zian merogoh ponsel, mengernyit lalu menempelkannya pada daun telinga.


'Ya ...! Kau dimana sekarang?'


' ..... '


'Heh ... Kau gila! Untuk apa kau kesana, aku sudah di sini sejak pagi!'


' .... '


'Dia memang sialan. Cepat kemari! Anakku hampir hilang gara gara kau!'


Agnia dan Cecilia termangu melihat kearah Zian yang terlihat marah pada seseorang di ujung telepon, bahkan dia mematikan ponselnya secara sepihak.


"Hubby ... ada apa?"


.


.


Hayoloo siapa yang kangen ZiaNia? Kangen sama baby Biru nya juga. Othor sih kangen pake banget.