I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.79(Katakan!)



"Sebenarnya siapa yang berurusan dengan Psikolog dan memiliki riwayat gangguan mental?"


"Ya Dirga lah, siapa lagi. Udah jelas jelas kan ditemukan di Dirga. Masa aku." Cecilia mengerdikkan bahu, dengan jantung yang masih berdebar debar juga kaki yang bergerak tidak karuan.


Irsan meletakkan sendok dan pisau makan diatas piring, lalu melipat kedua tangan menyandarkan punggung di sandaran kursi. "Kalau begitu aku tidak bisa membantu. Aku tidak bisa mencabut laporan itu. Kita pergi temui Ines sekarang."


"Hey ... Mana bisa gitu! Kau sudah janji kan!" Seru Cecilia pada Irsan yang sudah beranjak dari duduknya. "Hei ... Gimana sih! Malah pergi gitu aja lagi."


Cecilia mengejar Irsan yang sudah keluar dari kafe menuju mobil, wajahnya sangat datar dengan tatapan tajam, dia menoleh sekilas ke arah Cecilia yang berlari keluar barulah dia masuk kedalam mobil.


Maaf, aku tidak bisa bersikap lembek padamu seperti pria lain Cecilia. Kau terlalu kuat.


Cecilia segera berhambur masuk ke dalam mobil saat deru kendaraan sudah menyala. Irsan tidak hanya bersikap datar, dia benar benar bersikap tidak peduli padanya hanya karena Cecilia masih enggan bercerita. Semakin membuatnya curiga.


"Heh ... jahat banget! Kita kan baru jadian, tapi sikapmu nyebelin banget."


"Memangnya kau mau aku bersikap seperti apa?"


"Ya pacar lah!"


"Pacar seperti apa?"


Cecilia menyipitkan kedua matanya, "Memangnya kalau aku bilang, kau mau melakukannya?"


"Tidak!" ucap Irsan melajukan mobilnya.


"Tuh kan! Jadi buat apa nanya kalau gitu?"


Irsan meliriknya dengan ujung mata saat Cecilia mendengus sambil melipat kedua tangannya, menggemaskan dengan bibir mencebik. Rasanya ingin sekali menyambar bibir sen sual miliknya, tapi Irsan sedang berada di mode datar karena Cecilia tidak juga memberikan keterangan yang sebenarnya.


"Polisi saja bisa kau kelabui, apalagi aku." desisnya pelan.


"Aku udah bilang kan, yang punya bipolar itu Dirga! Orang jelas jelas dia kok, catatan psikolog juga atas nama dia, dan itu udah lama. tiga tahun yang lalu. Jadi mungkin Dirga udah sembuh." terangnya dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Dengar Cecilia! Kemungkinan penyakit illness untuk sembuh total itu sangat kecil. Kalau kau tidak memberikan penjelasan yang benar, mana mungkin aku bisa membantu. Walaupun itu terjadi sudah lama, kemungkinan kambuh itu ada. Jadi kalau kau ingin aku membantu laki laki brengsekk itu, katakan yang sebenarnya, baik padaku atau pada polisi."


Cecilia mendengus kasar, "Udah gak akan kambuh lagi! Aku bisa jamin itu!"


"Kenapa kau seyakin itu?" Irsan mulai kesal karena sikap Cecilia benar benar terlihat sangat membela Dirga, gadis itu tidak tahu jika Irsan kepalang terbakar api cemburu.


"Ya karena aku kenal Dirga udah lama!"


Cecilia menoleh ke arahnya dengan bengis, bagaimana bisa pria yang jadi pacarnya baru beberapa jam yang lalu itu selalu se frontal itu padanya.


"Ya aku tahu aku sama aja sama Dirga. Sama sama orang brengsekk!"


Irsan menepikan mobilnya, perdebatannya yang terus menerus terjadi hanya karena Cecilia terlalu condong pada Dirga. Dirga dan rasa bersalahnya pada Dirga.


Mesin kendaraan telah dia matikan, wajah tegasnya semakin keras dan tajam menatapnya. Bukan hanya kesal sekarang, melainkan juga marah.


"Kalau kau merasa kau brengsekk! Tidaklah kau punya keinginan memperbaikinya Cecilia?"


"Sok Suci!"


"Aku bicara seperti ini bukan merasa aku suci! Aku juga brengsekkk, tapi aku bisa lebih brengsekk lagi kalau kau bersikap begini terus."


"Ya udah! Eamng gue takut. Sorry ya, sekalipun aku menyukaimu. Aku tidak akan segan buat pergi. Kau mungkin lebih tua dari ku! Tapi ingat, hidupmu gak seberat aku. Gak usah berusaha membuatku berubah, kalau pun aku ingin, aku akan berubah dengan sendirinya. Dan soal Dirga juga riwayat penyakitnya. Kau tidak perlu membantu kalau kau tidak ingin. Jadi lebih baik kita putus aja." Cecilia keluar dari mobil, membanting pintu mobil dan berjalan menjauh.


Irsan meraup wajahnya dengan kasar, dia ikut turun dan mengejar Cecilia. Gadis itu benar benar membuatnya pusing. Mengatakan putus padahal jadian saja baru beberapa jam yang lalu.


"Cecilia! Aku belum selesai bicara!"


"Apalagi. Informasi mengenai Dirga?"


"Kenapa kau selalu membela Dirga ... Dirga, terus saja Dirga! Kau bahkan memintaku membantu tapi masih menyembunyikan sesuatu dariku. Apa kau benar benar menyukaiku atau hanya memanfaatkan ku saja seperti kau memanfaatkan pria pria lain demi kesenanganmu sendiri. Atau jangan jangan kau menikmatinya bersama Dirga!"


Cecilia tersentak mendengarnya, selama ini dia memang banyak memanfaatkan pria pria tua demi kesenangannya sendiri, juga benar. Menikmatinya bersama Dirga yang pernah dia cintai itu. Tapi sekarang, perasaannya pada Irsan murni karena menyukainya. Walaupun pada awalnya hanya main main saja.


Cecilia yang tidak pernah peduli ucapan buruk orang lain kini jadi sentimentil saat ucapan buruk itu dilontarkan oleh pria yang dia suka. Kedua matanya mulai berkaca kaca menatap nyalang pria tinggi didepannya.


"Kau ingin tahu siapa yang bipolar hah? Kau juga ingin tahu kenapa aku memilih pura pura pingsan di kantor polisi dan milih gak jawab pertanyaan itu. Kau ingin tahu Irsan?"


"Ya ... Katakan!"


.


.


Ribet banget sih mereka.... Wkwkwk


Maaf yaa othor baru up lagi, kemaren othor sibuk jualan amplop di kondangan. Wkwk.