I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.114(Bertukar bakteri)



Irsan meletakkan piring yang dia pegang begitu saja, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Cecilia, hingga mereka kembali saling bertatap tatapan. Tak lama Cecilia mengenggamkan tangan mungilnya pada kedua tangan Irsan yang entah kapan jika harus menunggu Irsan yang melakukannya.


"Penurut kan aku?"


Irsan akhirnya merekatkan jemari kecil Cecilia pada sela sela jemarinya. "Kau menurut hanya gara gara kunci password, kalau kau tahu password unit ini. Kau pasti sudah kelayapan."


"Jadi kau sengaja hm. Mengurungku di sini?" kedua mata Cecilia terbeliak dengan senyum yang dia kulum.


"Anggap saja begitu! Ayo makan, bukankah kau lapar?" Irsan kembali mengambil piring berisi cumi crispy saus madu buatannya dan menyimpannya di atas meja makan dengan satu tangan masih menggenggam tangan Cecilia.


"Ish ... gitu deh, kapan mesra mesraannya!" desis Ceciilia dengan pelan.


"Kau saja belum mandi! Jorok sekali...." Irsan menekan pelan kedua bahunya hingga gadisnya itu terduduk di kursi.


"Ya minimal kamu kasih aku morning kiss gitu kayak orang orang, kan itu di lakukan sebelum mandi." Terkekeh dengan kedua mata berbinar saat melihat hidangan yang dibuat Irsan.


"Saling menukar bakteri maksudmu? Sudah ... Ayo makan! Jangan banyak bicara lagi. Kita akan pergi ke suatu tempat setelah ini."


Cecilia mendelik ke arah pria yang masih sibuk mengambil piring dan menyimpannya di atas meja, juga mengisi dua gelas air putih kemudian baru duduk.


"Ihhh ... Menukar bakteri katanya, gak ingat apa segimana nafsuu nya dia cium gue." desisnya lagi, kali ini sangat pelan sampai Irsan tidak mendengarnya.


Tidak diragukan lagi, masakan buatan Irsan sangat enak, sampai Cecilia menghabiskan semuanya tanpa sisa. Gadis itu tidak pernah menyangka pria lempeng dan kaku yang dia sebut tiang listrik karena postur tubuhnya juga yang tinggi itu pintar memasak, bahkan lebih pintar darinya, ah tidak. Dia merasa kalah saing dalam hal dapur.


Pantesan aja kulkasnya penuh bahan masakan, juga banyak tanaman tanaman apa itu yang malem gue gigit. Ternyata oh ternyata, idaman banget gak sih. Batin Cecilia, ditambah dia juga terkekeh dalam hati.


"Apa kau selapar itu Cecilia?"


Cecilia mengangguk, "Gak cuma lapar, ini sangat enak...."


Irsan mengangkat ujung bibirnya tipis, "Selain jadi seorang dokter, aku juga pintar memasak ... Aku jarang sekali makan di luar, aku lebih suka memasak karena aku bisa menyeimbangkan komponen pangan yang aku makan. Protein, karbo, vitamin dan...."


Cecilia terkekeh dengan menggaruk kepalanya. "Udah kayak mata kuliah ilmu gizi tahu gak!"


"Kau ini!" Irsan bangkit dari duduknya dan mengambil piring miliknya lalu dia cuci sendiri dan mengeringkannya, sementara Cecilia hanya menyimpannya begitu saja sambil terkekeh. Pria itu berdecak, serta menggelengkan kepala dengan kelakuan random sang pujaan hati, mengambil kesempatan yang ada karena dia sudah tidak terbiasa lagi. Bahkan dia jarang sekali mencuci piring karena selalu memesan makanan secara online, atau makan di restoran. Adapun piring piring di dapur miliknya hanya sebagai pajangan saja.


Ya, sejak terjun menjadi sugar baby dengan totalitas penuh, dan hidupnya berangsur membaik bahkan menikmati hidup dengan kemewahan, sejak itu pula dia menanggalkan semua pekerjaan sederhana seperti mencuci piring dan juga mencuci baju dengan dalih Kerjaan begitu udah gue lakuin sejak kecil, bahkan mencuci piring bekas orang lain demi sesuap nasi.


Mungkin bisa dikatakan ini lah pertama kalinya dia merasa dendam dalam kehidupannya, karena kerasnya perjalanan hidupnya sewaktu kecil.


"Kau tidak mencuci piringmu sendiri?"


"Nitip aja ya sayang ... Aku mau mandi." tukasnya menepuk lengan Irsan, lalu berjinjit ke arah wajahnya.


Cup


Tanpa ragu dia mendaratkan kecupan di pipi Irsan lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Sementara Irsan yang terkesiap hanya bisa terdiam mengikuti langkah kakinya.


Tak lama Cecilia menyembulkan kepalanya, membuat pria itu kembali terkesiap dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kamu bilang kita akan pergi? Kemana?"


"Kau akan tahu nanti ... Bersiaplah."


Irsan menghela nafas, kenapa dia bisa melupakan hal itu saat ini. "Aku akan mengaturnya."


"Oh oke!" Cecilia kembali masuk dan menutup pintu.


Seketika Irsan kembali mengingat perbuatan yang di lakukannya, pertama kali dalam hidupnya dan melepas keperjjakaannya di kamar yang telah tertutup keras. Suara rin tihan dan de sahan indah Cecilia kembali terngiang di kepalanya kini, membayangkan aktifitas menyenangkan yang dilakukannya bersama, bergelung dan keringat yang membasahi tubuh mereka yang saling bergesekan. Sampai Irsan harus memejamkan kedua matanya serta menggelengkan kepalanya agar fikirannya yang kini terkontaminasi kembali normal.


Huuh!


Pria berusia 40 tahun itu menghembuskan nafasnya panjang, lalu menenggak segelas air putih, merogoh ponsel miliknya di dalam saku dan menghubungi Ines.


Tak lama Ines datang membuka pintu sendiri dengan membawa sebuah paperbag ditangannya dengan tersungut.


"Kau ini semakin berani ya!"


Irsan yang tengah duduk menunggunya hanya mengulas senyuman tipis. "Jangan bilang kau mau mengadukanku pada ibu."


Ines mendengus, "Untuk apa? Kau ini memang sudah waktunya dewasa, bahkan sudah pantas punya anak wahai kakak sepupu. Kau tidak ingin aku langkahi kan?"


"Kau sudah kembali berkencan?"


"Belum ... Tapi yamg jelas aku sudah move on, tidak seperti kau hanya butuh bertahun tahun untuk melakukannya. Tapi aku senang sekarang kau sudah memiliki wanita idamanmu sendiri. Walaupun aku mendengar rumor yang tidak mengenakkan akhir akhir ini."


Irsan meletakkan ponselnya di atas meja, dia mengambil paper bag berisi pakaian yang di siapkan untuk Cecilia. "Jangan kau dengar rumor apapun di luar sana, sebelum mereka bicara aku sudah lebih tahu."


"Jadi itu benar. Dia ... magsudku Cecilia?"


Irsan mendorong tubuh Ines menuju pintu keluar, "Kau pulang saja, bukankah kau akan pergi ke butik hari ini." Irsan membuka pintu dan mendorongnya hingga keluar, "Pergilah. Selamat bekerja." ujarnya lagi dengan kembali menutup pintu.


"Irsaaan! Aku belum selesai bicara." Ines terdengar berteriak di depan pintu,


Sementara Irsan kembali duduk di sofa dan menunggu Cecilia yang dia rasa cukup lama berada di kamar mandi.


Padahal Cecilia yang telah selesai mandi kini hanya bisa bersandar di belakang pintu, dia mengurungkan niatnya untuk keluar kamar saat mendengar Ines bicara rumor yang kini beredar. Tidak salah lagi, pengusiran dirinya dari unit oleh beberapa orang pria telah menimbulkan spekulasi tentangnya dan rumor bahwa dia adalah seorang peliharaan om om menyebar dengan cepat.


"Ini baru rumor! Gimana nanti kalau ada orang yang kenal gue atau lebih parah. Gimana kalau salah satu pelanggan gue dulu ternyata kenal sama Irsan, gimana reaksinya kalau dia denger sendiri. Bisa berabe urusan!" gumam Cecilia pelan, lalu meraup wajahnya.


karena terlalu lama, akhirnya Irsan bangkit dari duduknya dan mengetuk pintu kamar.


Tok


Tok


"Kau belum selesai?"


"Ah ... Iya sebentar." Cecilia membuka pintu kamar dan mendapati Irsan berdiri di depannya.


"Pakaianmu!" ucapnya dengan menyerahkan paperbag padanya.


Irsan berbalik kembali dan menutup pintu namun Cecilia menahan pintu dengan tangannya, hingga Irsan kembali menoleh ke arahnya.


"Tunggu. Aku ...."