
Cecilia terkikik saat mendengar semua keluh kesah sahabatnya itu, rangkulan dibahunya kian mengerat saat keduanya masuk ke dalam ruangan.
"Cuma lo yang bisa bantuin . Lo ngomong sama daddy lo biar naikin nilai gue. Hm!" Kedua alisnya naik turun.
Nita menyikutnya, sampai rangkulan dari Cecilia teruarai. "Nah itu masalahnya! Beban banget buat gue."
"Mana ada beban, yang ada lo bisa enak enak sama dia."
"Anjim lo ah! Itu sih lo bukan berusaha mati matian buat lulus, yang usaha itu ya belajar. Mana tugas tugas lo gue yang ngerjain lagi."
"Itu juga usaha kali Nit!"
"Usaha selang kangan lo!"
Keduanya tertawa dan menuju kursi mereka. Cecilia menghempaskan tas beserta bokongnya di kursi di susul oleh Nita disampingnya. Dia masih menyipitkan kedua mata ke arah samping dimana Cecilia saat ini mengeluarkan laptopnya.
"Gue masih gak percaya kalau lo mau tahan 3 jam di materi kuliah pagi ini."
"Eeh...." Cecilia melebarkan pupil ke arahnya. "Ya sama gue juga!" tukasnya menyalakan laptop miliknya sembari terkekeh.
"Siallan. Gue fikir lo marah!"
Keduanya kembali tertawa, seiring dengan datangnya satu persatu teman temannya yang lain yang juga heran melihat Cecilia. Disusul oleh sang Dosen yang sudah terlihat menyalang dan menganggapnya sebagai musuh karena kejadian tempo hari dimana Cecilia pergi begitu saja saat dia memberikan materi.
"Pagi pak. Masih marah ya?" serunya tanpa dosa dengan melambaikan tangan ke arahnya. "Jangan marah ya Pak, aku khilaf waktu itu." godanya lagi.
Suara riuh tampak terdengar dari kursi belakang, menyorakinya dengan tertawa.
'Jangan dimaafin Pak!'
'Maafin dia Pak.'
Dosen berkaca mata itu hanya menggelengkan kepalanya saja, lalu duduk. "Kita mulai, tapi sebelumnya bapak akan memberi tahu kalian sesuatu. Hari ini bapak sudah menentukan siapa yang bakal jadi asisten dosen bapak."
Semua orang tentu saja bertepuk tangan, belajar dengan asisten dosen mungkin akan sedikit berbeda dibandingkan belajar dengan dosen pengajar yang dikenal tegas dan kejam dalam memberi nilai, dan setidaknya mereka bisa sedikit santai saat asisten Dosen yang memberikan materi perkuliahannya. Dan akan menjadi keuntungan juga bagi yang terpilih karena selain bisa terkenal dengan cepat, dia juga akan mendapatkan uang saku yang cukup lumayan.
"Cecilia!"
Riuh tepuk tangan tiba tiba berhenti, mereka semua tercengang dengan pilihan yang di rasa tidaklah tepat itu.
"What?" seru Cecilia saat namanya dipanggil. Dia menoleh pada Nita yang juga tersentak kaget.
"Bisa bisa lo!" gumam Nita nyaris tanpa suara.
"Mana gue tahu!"
"Pak ... Bapak salah pilih orang!" celetuknya berdiri, temtu saja dia tidak mau dan merasa tidak kompeten dalam hal itu. Tugasnya saja dikerjakan oleh Nita, belum lagi absen kehadirannya yang berantakan.
Protes dari beberapa mahasiswa lainnya pun terdengar, namun tidak membuat keputusan Dosen itu berubah.
"Keputusan bapak tidak bisa diganggu gugat. Selama sementer ini, Cecilia yang akan menjadi asisten Dosen. Berkaitan dengan materi perkuliahan dan lainnya, silahkan hubungi dia." ujar Dosen yang membuat semuanya terdiam dalam kebingungan.
"Anjim ... Mana bisa gue. Gue mau protes!" gumam Cecilia yang hendak berdiri lagi, namun Nita menarik lengannya.
"Lo gak denger dia bilang apa? Lagian juga gak apa apa kali, itu juga bikin lo makin pinter nantinya."
"Males Nit. Elaah!"
"Yeee ... akhirnya hidup lo ada manfaatnya juga!" Nita terkekeh menyenggol lengan Cecilia yang mengerutkan dahi.
"Yang penting hidup lo ada faedahnya, bisa jadi balance sama dosa dosa lo nanti. ASDOS!" timpal Nita dengan penuh penekanan.
"Anjim lo ah, email yang lo kirim aja baru gue buka!" ujarnya dengan mata menatap layar laptop dan membaca email berisi tugas tugas yang diselesaikan oleh Nita.
"Udah ambil aja! Lo kan udah gak bisa ambil kerjaan, ini lumayan lho buat biaya hidup lo!" Cibir Nita lagi dengan tertawa.
"Mana ada! Biaya hidup gue gede, honor jadi Asisten dosen berapa lo tahu gak. Beli ****** aja kagak cukup. Parkir doang di toko ****** kayaknya."
Nita tertawa lebih keras, "Yang penting halal Say!"
Delikan kedua mata Cecilia semakin tajam ke arahnya, "Halal kata lo! Sejak kapan lo tahu mana duit halal mana duit haram. Kebangetan lo Nit."
"Ya ela ... Gue tahu kali Ce, lo sih gak pernah ikut ibadah lo! Seminggu sekali juga lo."
"Emang lo suka ikut?"
"Kagak juga!" Cicit Nita tertawa.
"Anjim lo!"
Suasana dikelas pun kembali sunyi saat dosen mereka memberikan materi kuliah, selama satu jam tak hentinya Cecilia menguap karena mengantuk.
"Dua jam kedepan, materi akan disampaikan oleh Asisten Dosen kita, Cecilia!" ujar Dosen itu tiba tiba melambaikan tangannya.
Cecilia yang dilanda kantuk dalam sekejap terbelalak kaget. Mau tidak mau dia harus melakukannya karena keputusan dosen yang satu itu mutlak hukumnya, tidak pernah ada yang namanya pilihan. Ambil kesempatan itu atau gagal dengan nilai D dan minus pula, jangan harap mendapat nilai dari nya apalagi bimbingan untuk semester kedepannya.
Perlahan Cecilia turun, berjalan ke arah depan dan di sambut oleh riuh sorak teman temannya, Hanya Nita yang bertepuk tangan dengan senang. Tentu saja, karena dengan menjadi asisten Dosen, dia akan melihat sahabatnya yang malas itu setiap hari datang ke kampus.
Dosen memberinya sebuah flash disk, semua materi yang harus dia sampaikan ada disana. Dia juga memberikan kelengkapan agar dia layak menjadi seorang asisten dosen.
"Bapak harap kali ini kau tidak menyia nyiakan kesempatan. Kau baca dan fahami sebelum kau berikan pada mereka. Nilai mahasiswa kelasku ada ditanganmu!"
Cecilia menghela nafas, itu benar benar beban berat yang kini harus di pikulnya. Tapi dia juga mengangguk walau kepalanya terasa enggan bergerak.
"Ya Pak! Gak ada pilihan lain kan. Sama aja aku mati." cicitnya lalu kembali ke kursi miliknya.
Pyuh!
Helaan nafas panjang terdengar darinya yang kini memejamkan mata. "Mampus aja deh gue!"
"Ya elaa ... Ringan ini mah! Lebih beratan masalah hidup lo yang lain Ce, udah sih terima aja dengan lapang dada dan iklas menjalankan semua demi sebuah pahala yang bakal bikin hidup lo berkah damai sentosa juga makmur." seloroh Nita dengan kedua alis yang sengaja dia naik turunkan serta bibir yang melengkung sempurna.
"Bacott lo Nit!"
Nita tertawa, sementara Cecilia merengut lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Mana gue tadinya mau ke rumah sakit! Kalau gini caranya gue gak bisa bolos jam!"
"Ya udah sih! Lagian mesti lo ketemu dia tiap hari?" tanyanya dengan heran. "Lo kan tinggal bareng dia. Nanti juga ketemu."
"Gue mau ketemu calon mertua ege!"
"Lah ngapain? Lo mau kawin sama dia, yakin lo?"
"Kagak! Gue mau ajak dia panjat pinang! Bego gue lama lama ngomong sama lo!"