I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.233(Belum perawatan)



Cecilia tampak tenang, kedua kakinya yang berontak kini juga diam, Irsan dibuatnya heran namun tetap mengulas senyuman saat Cecilia justru melingkarkan tangan di lehernya.


"Kenapa diam. Kau tidak takut aku lemparkan ke laut?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Aku gak yakin kamu lakuin hal itu."


"Kenapa?"


"Ish ... Kamu cinta mati sama aku, mana bisa kamu melakukannya, yang ada kamu akan terus pegangin aku kenceng kenceng."


Irsan menggeleng tipis,


"Biar ku buktikan!" gumam Cecilia pelan.


Secepat kilat Cecilia melepaskan kedua tangan dan dia menyondongkan kepalanya ke belakang hingga hampir terjatuh, seperti yang dia lakukan saat melakukan tarian pole danse, dengan kepala yang hampir menyentuh tanah.


"Kau gila!" Irsan yang kaget langsung menahannya sekuat tenaga.


Suara kekehan Cecilia terdengar lembut, dia langsung kembali melingkarkan kedua tangan pada leher Irsan.


"Aku bilang apa, kamu tuh gak akan bisa melihatku jatuh, mana berani kamu lempar aku ke lautan, kamu juga gak dengerin apa kata Ibumu tapi kamu langsung setuju pas aku yang bilang. Kalau bukan cinta mati, apa itu namanya. Bucin banget kan."


Irsan menggeleng tipis lagi, menurunkan Cecilia dan dia kembali berjalan. "Hanya kau yang melakukan hal gila seperti itu hanya untuk membuktikan cinta seseorang."


"Ooh jelas, i'm a sugar ba----" ucapannya terjeda sendiri, lalu terkekeh, kebiasaan lama yang masih sulit dia hindari, pengakuan dan rasa bangga saat mengucapkannya, dan kini dia malu sendiri. "I'm your!" ralatnya dengan cepat dia juga menyusul langkah suaminya.


"Paling bisa kalau membela diri!" gumamnya dengan tersenyum tipis,


Tiba tiba Irsan menghentikan langkahnya, saat melihat bayangan bulan dengan lingkaran penuh membayang di air laut, dia memandanginya tanpa kata.


"Indahnya ...." cicit Cecilia.


"Hm ... jauh lebih indah jika aku lihat dari sini," ujarnya dengan beralih memandangi wajah Cecilia yang tengah memandang lautan.


"Hm ... Baru kali ini aku mandangin laut kayal gini, adem banget kan."


"Kau tidak pernah ke laut?" Irsan masih terus menatap wajah Cecilia yamg semakin bercahaya, melihatnya menggeleng lalu terkekeh gemas. "Kenapa kau ini?"


"Ya aku gak pernah sengaja ke tepi pantai begini dan menatap bulan. Aku menantap keduanya dari jendela kamar hotel."


Irsan berdecak, lalu melangkahkan kakinya lagi. "Kau merusak moment!"


Cecilia kembali mengejarnya dari belakang dengan tertawa lalu berputar putar dengan tangan yang dia rentangan, untung saja gaun pengantinnya sudah dia ganti kembali, kalau tidak, sudah pasti dia akan terjatuh karena menginjak gaun dengan gerakannya yang tidak karuan.


"Hentikan kau akan jatuh nanti."


"Ya enggak lah, mana aaa---"


Bruk!


Gadis itu kini terhuyung kedepan dengan posisi ambruk ke tanah karena kakinya tersandung, Irsan menoleh sekilas lalu kembali melangkah saat gadis yang dia lihat justru tertawa.


"Suami ... Heh, diam aja lagi istrinya jatoh!" Cecilia bangkit sendiri, menepuk kedua tangannya yang kotor. "Untung aku gak apa apa, kalau sampe patah tulang atau berdarah kamu gak akan bereaksi juga kayak gini."


"Itu berbeda, orang yang jatuh justru malah tertawa, jadi aku tidak perlu membantumu, ayo cepat."


Mereka kembali berjalan sepanjang tepi pantai dengan Cecilia yang terus berceloteh tiada henti, Irsan yang memang pembawaan dirinya yang tenang dan Cuex menjawabnya dengan singkat dan padat.


"Hm...."


"Iya...."


Tiga kata yang paling sering keluar dari mulutnya sepanjang pembicaraan Cecilia. Sampai mereka melewati Paviliun yang siapkan oleh Carl.


"Ehh ... Kok dilewat?"


"Tempat kita bukan di sana."


"Hah?"


"Bukankah ini malam pertama kita? Semuanya sudah siap, tapi setidaknya ada salah satu yang aku siapkan sendiri."


Cecilia melingkarkan tangan pada lengan Irsan, bergelayut manja dengan gerakan gerakan aneh setelah mendengar ucapannya yang menghangatkan,


"Aaahh ... paling suka deh kalau kamu udah manis kayak gini."


"Cecilia hentikan, kau seperti cacing kremi!"


Dan tiba tiba Cecilia menghentikan langkahnya, sejurus kemudian menatap ke arah belakang.


"Aku mau ke paviliun aja! Ayo." Dia menarik tangan Irsan dan mengajaknya berbalik arah.


"Kenapa?"


"Pokoknya aku gak mau malam ini, nanti saja."


"Apa maksudmu?"


"Malam pertama kita! Aku gak mau melakukannya malam ini. Nanti aja,"


"Kau ini ...!"


"Kita ini kaget karena gak ada persiapan kan?"


Irsan mengangguk.


"Jadi untuk yang satu itu, kita harus siapkan dengan sempurna, menjadi malam pertama yang tidak bisa di lupakan." ujar Cecilia dengan berbinar.


"Kita sudah pernah melakukannya, tidak akan jadi aneh ... Mungkin!" Entahlah ... Aku juga tidak tahu bagaimana rasanya, yang pasti mungkin aku lebih leluasa karena kau istriku sekarang.


Kini mereka sudah berada di depan Paviliun yang didominasi oleh kayu, cahaya lampu lampu redup membuat tempat itu semakin hangat walaupun berada di tepi pantai, dengan deburan ombak yang sesekali menghantam bebatuan di sampingnya.


"Justru itu, aku ingin ada yang beda, aku juga belum perawatan, belum mempesiapkan segala sesuatunya untuk malm pertama ... Aku harus memberikan yang terbaik untukmu." Sahut Cecilia dengan suara yang lebih rendah serta kepala yang di angguk anggukan.


"So?" Irsan ingin tahu apa yang akan di lakukan gadis yang kini jadi istrinya itu,


"Kita lakukan nanti, sekarang kita habiskan waktu dengan ibu ibu kita saja." Cecilia melangkah masuk kedalam Paviliun.


"Aku ingin lihat apa kau bisa kuat untuk tidak menggodaku dan bertahan lama dengan ocehanmu yang tidak masuk akal itu!"


.


.Sabar sabar ... Ninaa ninuuu tahun depan wkwkwk... Jangan lupa like dan komen. Sayang banyak banyak buat kalian Cecelover.


Happy new Year ....