I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 110(Sueee)



Kini Cecilia berada di depan pintu unit milik Irsan, berdiri tegak dengan sesekali menghela nafas.


"Ayo Ce ... Lo pasti bisa." gumamnya menyemangati diri sendiri.


Belum sempat mengetuk, pintu sudah terbuka lebih dulu. Pria tinggi dengan rahang kuatnya berdiri tegap membuka pintu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah dia sama sekali tidak kaget saat melihat Cecilia berada di depannya. Tanpa menghiraukan Cecilia, pria kaku itu melangkah keluar dan melewatinya begitu saja.


"Hey ... Kau mau kemana?"


Irsan sedikitpun tidak peduli, dia terus mengayunkan langkahnya. Sementara Cecilia mencelos karena di abaikan.


"Bener bener tuh tiang listrik! Marahnya udah kayak cewe, baperan banget. Padahal gue belum jelasin apa apa."


Cecilia mengikuti langkahnya, Irsan masuk ke dalam lift begitu juga dirinya, dia menekan lantai satu dimana lobby berada, sementara Cecilia memiringkan kepalanya.


"Masih marah ya. Kau tidak ingin dengar penjelasan dariku?"


Ting


Lift terbuka, Irsan melangkah keluar tanpa menyauti Cecilia, dia bahkan bersikap seolah tidak melihatnya. Melangkah lurus menuju sebuah ruangan. Membuat Cecilia mengernyitkan dahi karena ruangan itu adalah ruangan managemen.


"Eeeh kenapa dia ke sana." desisnya lalu ikut masuk.


Irsan hanya mendengus pelan saat melihatnya.


"Ada keperluan apa kau kesini. Kau gak berniat pindah apartemen karena sakit hati kan? Tenang aja ... Aku udah gak mau tinggal di sini lagi, aku akan pergi cari tempat lain."


Irsan menoleh, sedetik kemudian kembali membuang wajahnya ke arah lain, tak lama seorang petugas juga masuk, melihat ke arah Irsan yang berdiri di depan sebuah meja dengan banyak folder di atasnya. Juga pada Cecilia yang berdiri dibelakang Irsan seperti anak ayam mengikuti induknya.


"Ya pak?"


"Kau sudah siapkan berkas yang ku minta?"


Petugas itu mengangguk, tak lama dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map berwarna merah.


Cecilia semakin mengernyit, setaunya map merah itu adalah berkas pemilik unit di apartemen, semua perjanjian hitam di atas putih serta rincian pembayaran dan juga data pemilik yang bisa di ambil jika kita hendak menjual atau menyewakan, denah bangunan bahkan sertifikat yang dimiliki setiap pemilik unit. Dia pernah melihatnya saat Reno mengurus unit untuknya, namun dia hanya memiliki salinannya sementara yang asli di pegang sendiri oleh Reno.


"Kau mau apa dengan surat surat itu? Kau benar benar berniat pindah dan menjual unitmu?"


Tak satupun pertanyaan Cecilia di jawabnya, dia hanya berdiri dengan wajah datar.


"Bener bener nih manusia langka. Dia anggap gue arwah atau apa sih?" gumam Cecilia.


Setelah mendapatkan surat surat di dalam map merah itu, Irsan kembali keluar dan meninggalkan Cecilia begitu saja. Sementara gadis itu menoleh pada pria yang duduk di kursi.


"Kau tahu apa yang bakal dia lakukan dengan surat surat itu?" tanyanya serius.


"Aku tidak tahu!" jawab pria itu dengan mengedikan bahu.


"Iihhh ... Sama saja!" gumamnya lantas kembali keluar dan mengikuti Irsan lagi.


Irsan terlihat duduk di sebuah sofa di lobby apartemen, sementara di depannya seorang pria yang memakai kacamata. Irsan menyerahkan berkas map merah itu padanya dan menjabat tangannya, lalu kembali beranjak.


Cecilia yang terlambat menyusulnya tidak bisa tahu apa yang mereka lakukan, sampai pria berkaca mata itu juga pergi keluar dan Irsan sendiri kembali berjalan ke arah lift.


"Astaga ... Gue bener bener gak di anggap!"


Irsan melewatinya begitu saja, membuat Cecilia mendengus kesal.


Tak di sangka Cecilia berteriak dengan suara lantang dan juga keras, membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arahnya.


"Ya tahu gue salah, tapi apa cara harus gini? Lo bahkan gak kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya." teriaknya lagi.


Langkah Irsan tidaklah goyah, dia terus mengabaikan teriakan Cecilia yang berteriak memalukan. Melihat Irsan yang terus melangkah tak peduli, gadis setengah gila itu semakin berteriak.


"Kalau lo gak kasih gue kesempatan buat jelasin! Gue bakal lompat dari gedung ini!"


Semua mata terbeliak mendengarnya, ada juga yang kaget sampe menutup mulutnya sendiri dengan mata melebar sempurna. Tidak ada yang terhenyak saat mendengarnya, namun tidak dengan Irsan. Sampai semua orang melihatnya sekarang.


Pria itu terus melangkah, walau langkahnya tidak.juga cepat. Sampai Cecilia berlari ke arah lift juga. Hingga membuat semua orang berteriak. Dia berlari sekencang mungkin dan menuju lift yang terbuka lalu dengan cepat menekan tombol paling atas.


"Gue gak main main Irsan! Gue bakal lakuin apa yang gue katakan." desisnya menatap Irsan.


Teriakan orang semakin kencang dan juga berhambur ke arahnya. Begitu juga Irsan yang kini masuk kedalam lift.


"Jangan coba coba memancing ku Cecilia. Kau fikir aku akan peduli jika kau melompat. Melompat saja dan lakukan apa yang kau ingin lakukan." ujar Irsan tepat pada saat pintu lift tertutup.


"Ok ... kalau gitu lo keluar, ngapain lo ikutin gue. Lo bilang lo gak peduli kan sama gue?"


Irsan mendengus, melipat kedua tangan di dadanya da menatap tajam ke arah gadis gila yang membuatnya marah dan kecewa.


Sialan nih orang, bener bener susah bikin dia mau dengerin gue. Sueee banget jadi gue.


Irsan masih menatapnya tajam, dengan rahang yang semakin keras saja, dipastikan dia bertambah kesal melihatnya terlebih ucapannya yang nekad itu.


"Kau tahu, pertemuan pertama kita di dalam lift ini? Kamu gak bakal nyangka aku bisa ngelakuin apa aja kan. Termasuk mempermalukan diriku sendiri, sampai kauu menyebutku gadis gila. Ya ... Aku emang gila, tapi semua kegilaanku beralasan, termasuk saat aku memilih pergi bersama Reno."


"Ya ... Dan semua karena uang dan kemewahan!" dengusnya datar.


"Ya ... Uang dan kemewahan emang paling penting, tapi semua bisa berubah...."


"Cih ... Jangan kau bilang cinta yang merubahnya!"


"Enggak ... Tapi harga diriku yang lebih tinggi. Kau tahu alasan aku mengejarmu dan menggodamu pada awalnya?"


Irsan menatapnya, "Kau memang gila dan penggoda pria."


Cecilia menghela nafas, "Karena kau menyebutku gadis cacat mental. Kau tidak ingat itu?"


Irsan mulai mengingat ngingat.


"Ya ... yang ngendarain mobil dan berhenti ditengah jalan karena hampir menabrak orang. Kau menyebutku begitu. Dasar ... Ingatanmu payah." terangnya yang membuat Irsan kembali ingat. "Dan aku melakukan semua hal gila untuk membuktikan apa itu cacat mental dari generasi yang kau sebut rusak. Dan saat Reno mengambil semua yang dia berikan, maka aku membalasnya setimpal." jelasnya lagi.


Membuat Irsan mengernyit ke arahnya, hanya mengernyit saja.


"Aku dan dia terikat kontrak, dan semua yang aku miliki adalah hasilnya, tapi dia mengambilnya begitu saja. Aku bikin dia hancur karena kelakuannya. Itu adil kan." Ujarnya lagi yang membuat Irsan semakin mengernyit saja.


"Aku tidak ingin mendengar apapun alasanmu Cecilia. Kau sudah memutuskan pergi, dan aku tidak akan melarangmu."


.


Nah kan susah banget bikin Irsan denger. Elo sih gegabah mulu. Coba dia di ajak ke kamar. Terus lo perkoas aja. Wwwkkwkwk.


1 bab dulu aja yaa Cecelover, othor lagi kursus pole dance. wkwk.