
"Sialan Dirga! Duit gue diambil semua." gumam Cecilia menatap lipatan dompet yang kini kosong.
Semua uang cash diambil Dirga, dan dengan bodohnya dia tidak bisa melakukan apa apa. "Mana Reno gak bisa gue hubungi kalau ada di rumahnya lagi. Apes banget gue." gumamnya lagi dengan menepuk nepuk pakaiannya yang kotor.
"Itu karena kau bodoh! Kau membiarkan pria itu terus meremehkanmu, kau tidak bisa menolaknya bahkan kau tidak bisa melakukan apa apa saat dia mengambil semua milikmu!"
Cecilia membalikkan tubuhnya, terbeliak saat melihat Irsan yang berdiri mematung dibelakangnya. Pandangannya ke arah lain, namun apa yang dia ucapkan jelas untuknya.
"Kau. Lagi lagi kau? Dunia ini luas tapi aku lagi lagi bertemu denganmu? Ah ... Sepertinya ucapan itu kini berbalik sendiri, dan aku lebih cocok yang katakan itu. Kau pasti sengaja nungguin aku kan?" ujar Cecilia yang terkesiap, sebenarnya dia juga kaget sendiri karena Irsan harus mengetahui semua masalahnya dengan Dirga. "Harusnya tadi kita pulang bersama saja. Iya kan Dokter?"
Setelah mengatakan hal itu Irsan menyesal, harusnya dia bisa pura pura tidak melihatnya, dan pura pura tidak mendengarnya. Namun justru kebalikannya, saat melihat semuanya di depan mata.
"Bodoh!"
Irsan merutuki dirinya sendiri, dan berlalu pergi tanpa ingin melihat ataupun mengucapkan apa apa pada gadis yang terus menatapnya.
"Heh ... Kenapa dia?" Ucap Cecilia saat melihat Irsan berjalan melewatinya begitu saja.
"Dok ... Tunggu dong!" Cecilia mengikuti Irsan dengan berjalan di belakangnya. Kedua alisnya berkerut, seingatnya, unit Irsan berada di lantai tiga. "Dokter sengaja naik ke lantai ini cuma pengen lihat aku kan. Hem...?" serunya dengan percaya diri, walaupun Irsan tidak menyautinya sedikitpun.
Irsan terus berjalan, sementara Cecilia terus mengikutinya hingga unitnya berada dan Irsan melewatinya juga.
Eeh ... bukannya dia kesini ngikutin gue? Cecilia membatin di depan unitnya, melihat punggung Irsan yang terus berjalan.
Tak lama dia pun kembali mengikutinya, ikut berbelok saat Irsan melewati lorong, namun tetap menjaga jarak dengannya.
Irsan menghentikan langkahnya disebuah pintu, memencet bel lalu menunggu. Kedua tangannya yang dia masukkan kedalam saku menjadi ciri khasnya, karena Cecilia kerap melihatnya seperti itu.
"Jadi dia bukan ngeliat gue tapi ke unit itu?" gumamnya sendiri, ada rasa kecewa tapi bukan masalah besar.
Irsan melirik sebentar ke arah Cecilia dengan satu alis yang dia naikkan ke atas. Tak lama pintu terbuka dan Irsan barulah menatap seseorang yang membuka pintu, bahkan tersenyum tipis.
"Kau sudah datang? Masuklah."
"Hm ...!" Irsan masuk kedalam unit itu, membiarkan Cecilia yang saat ini mencelos sendiri.
"Apa apaan! Setia sama istri di rumah, nyatanya dia sama aja! So tidak tergoda sama gue, nyatanya pemain juga! Sialan emang lo, dokter kampret bisa bisanya senyumnya manis begitu sama tuh cewek! Sedangkan sama gue aja gak pernah senyum." gerutunya saat melihat seorang wanita yang membuka pintu dan menyuruh Irsan masuk.
Cecilia kembali ke unitnya sendiri dengan perasaan yang dongkol, dia benar benar merasa dipermainkan karena sikap Irsan yang dingin dan tidak acuh walau dia sudah menggodanya sedemikan rupa. Namun nyatanya Irsan sama brengsekk nya dengan pria pria dewasa lainnya. Yang bosan pada istrinya di rumah dan memilih bermain main dengan wanita lain.
"Brengsekk juga dia! Gue gak nyangka, lihat aja ... Gue bakal lebih keras lagi buat dapetin lo Irsan, gue pengen tahu sejauh mana lo bersikap sok setia. Padahal lo sama bejadnya." Cecilia melemparkan tasnya sembarangan, lalu menghempaskan bokongnya di sofa.
Cecilia terus menggerutu, bahkan kekesalan pada Dirga dan kehilangan uangnya cukup banyak hari ini tidak sebanding dengan sikap Irsan yang baru saja dia lihat.
"Penghinaan ini namanya, gue ngerasa harga diri gue sebagai penakluk pria tercoreng hanya gara gara dia." dengusnya dengan kasar.
Selama berada di dalam unitnya, fikirannya hanya pada Irsan yang berada di kamar di lantai yang sama dengannya. Apa yang dia lakukan, apa yang mereka lakukan saat ini. Membuatnya fikirannya melayang layang kemana mana, hingga waku terus bergulir dan Cecilia nekad keluar untuk mencari tahu.
Waktu memang selalu berpihak padanya, saat itu juga Irsan muncul dengan menenteng jas ditangannya, bertepatan saat Cecilia membalikkan tubuhnya. Irsan yang tidak menyangka bertemu lagi dengan Cecilia hanya mengernyit.
"Wah kebetulan sekali! Aku fikir kita memang berjodoh, karena terus menerus bertemu." Cecilia menyunggingkan senyuman termanis miliknya. Dia juga berjalan ke arahnya.
Untung gue udah mandi dan pake make up.
"Kita berada di apartemen yang sama, dan jelas pertemuan sudah tidak lagi di anggap kebetulan belaka." jelas Irsan menohok.
"Hey ... masih aja formal gitu! Apa menurutmu ini bukan takdir? Kita selalu bertemu tanpa sengaja walau satu gedung kan."
"Kalau begitu apa aku juga berjodoh dengan petugas kebersihan yang setiap hari bertemu disini?"
"Itu kan jelas beda, aku kan---"
"Jangan bertele tele! Katakan apa yang akan kau katakan." ucap Irsan melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Harga diriku tercoreng oleh mu!"
"Gadis gila! Sejak kapan aku mencoreng harga dirimu, yang ada sebaliknya." Irsan melangkah pergi.
"Kau masih bersikap sok cool gitu, padahal sama bejadnya. Kenapa? Jelas itu mencoreng harga diriku sebagai---" Cecilia menggantungkan ucapannya sendiri, ikut melangkah mengikuti Irsan.
"Apa maksudmu?" Irsan berbalik kembali menghadap ke arahnya, "Kau ... Sebagai ... Apa? Kau fikir aku sama bejadnya dengan siapa? Pria pria yang menukar tubuhmu dengan uang? Atau pria yang mengambil keuntungan dari pekerjaan mulia mu!?"
"Galak banget!" Desis Cecilia dengan menarik bibirnya ke atas. "Tapi aku suka yang galak galak begini!" gumamnya lagi dengan kepala yang dia anggukkan.
Irsan melangkah maju mendekati dan terus mendekatinya, tentu saja Cecilia merasa senang jika pria pria mulai tergoda oleh pesonanya, merasakan kepuasan tersendiri saat pria itu mendatanginya apalagi sampai bertekuk lutut padanya.
"Katakan sekali lagi dengan jelas!"
Cecilia melangkah lebih dekat, tentu saja dengan wajah menggoda dengan sesekali menggigit kecil bibirnya yang tipis.
"Kau keliatan tidak tertarik padaku karena ternyata kau punya mainan lain. Benarkan?"" ucap Cecilia dengan suara serak.
Irsan menarik sudut bibirnya, saat Cecilia kembali mendekatinya, dan segala kesimpulannya. Terlihat terang terangan dia menggodanya sedemikian rupa.
"Jadi kau kecewa karena aku memiliki mainan. Begitu? Sementara aku tidak tertarik oleh mu?"
Cecilia mengangguk manja, dia semakin berani dengan terus mendekat, bahkan hampir tidak ada lagi jarak di antara mereka. "Betul ... Dan aku sedikit kecewa."
Irsan tersenyum, mencapit dagunya dengan jari telunjuknya hingga pandangan mereka bertemu.
"Sayang sekali. Aku memang tidak tertarik olehmu!"