
"Sialan lo, gak sekalian lo bilang rektor sana!"
Brak!
Nita berdiri dengan menggebrak meja, membuat sekelilingnya menatapnya tajam. Apalagi Cecilia yang langsung menariknya untuk segera duduk.
"Apaan sih lo! Mabok lo."
"Gue baru inget, gue tadi nyusulin lo ke mobil itu kan mau bilang sesuatu yang penting masalah rektor. Kenapa gue lupa."
"Apaan?"
Nita mencondongkan kepalanya, dengan setengah berbisik ke arah Cecilia. "Si Dirga dipanggil rektor tadi."
"Heboh bener lo, ya bodo amat lah dia emang brengsekk, pasti bikin masalah terus."
"Masalahnya ini sama polisi Ce!" tukas Nita dengan kepala yang dia angguk anggukan.
Sementara Cecilia terhenyak dengan kedua manik membola sempurna. "Demi apa lo? Jangan ngadi ngadi."
" Ya tuhan! Lo gak percaya sama gue. Demi nenek gue dan tulang belulangnya. Puas lo!" jawabnya dengan mendengus.
Ceculia bangkit dari duduknya menyambar tas lalu berayun keluar dari kelas, sementara Nita melongo di buatnya.
"Heh ... Kau mau kemana?" tanya Dosen yang kebetulan tengah berjalan masuk.
"Toilet Pak ... Mules!" seru Cecilia acuh.
Nita gelagapan, dia berlari hendak keluar dan bertabrakan dengan dosen killer yang sudah berada di ambang pintu.
"Nah tidak mungkin kau juga mules?"
"Maaf daddy! Eeh pak..."
Nita terkikik lalu melengos setelah keceplosan bicara dan membuat Dosen killer itu terbelalak sempurna namun juga tidak bisa berlaku keras padanya.
Nita menyusul Cecilia yang berjalan cepat ke arah ruangan rektor.
"Ce lo jangan gila deh! Kalau lo kesana cuma pengen liat doang mending nanti deh. Lo mau kebawa bawa juga? Didalem masih ada polisi." Ujar Nita yang berhasil mencekal lengan sahabatnya dengan nafas terengah engah
Cecilia terdiam cukup lama, benar yang dikatakan Nita. Dia pasti dibawa bawa karena selama ini mereka tinggal bersama, dia tahu kalau Dirga punya masalah dengan Narkoba bahkan dia tahu dimana dia membelinya. "Lo bener Ce! Haiiisshh ... Gue bunuuh diri namanya kalau gue kesana sekarang."
"Makanya ... Ngaku lo sekarang kalau lo kadang bego!" ucap Nita yang menarik Cecilia dan membawanya menuju kantin.
"Nit ... Lo gak ke kelas aja sih! Daddy lo kan itu."
"Sumpah ya Ce ... Gue gak nyangka kalau dia ada di situs online para Daddy. Gue fikir dia bersih." jaabnya terbahak.
"Seenggaknya lo tenang Nit! Nilai lo gak bakal ancur ancur banget lah akhir semester ini. Lo pertahanin deh dia kalau bisa sampe lo lulus."
Keduanya tertawa, "Bener juga lo! Siapa tahu dia lulusin gue tanpa gue harus mikir yaa. Paling gue ganti nanti sama goyangan gue di ranjang."
"Sialan lo! Eh tapi siapa yang berani laporin Dirga ke polisi ya? Kacau sih ini. Lo tahu gak?"
Nita menggelengkan kepalanya, "Gue gak tahu! Bahkan temen temennya aja gak ada yang tahu. Mereka juga dipanggil semua tadi sama rektor juga. Bahkan ada yang baru dateng. Makanya jangan telag mulu deh! Lo jadi kehilangan gosip kan."
Cecilia mendudukkan tubuhnya di kursi begitu juga dengan Nita, memesan es jeruk dan semangkuk siomay, mereka lupa jika kelas baru saja dimulai.
"Lo ada kelas lagi gak hari ini?"
Cecilia mengeleng. " Gak tau gue. Kelas pertama gue masih tidur, kelas ke dua kan gue keluar barusan. Boro boro lah sama kelas yang lainnya. Absenin sama lo deh nanti."
"Kebiasan sih lo! Masa gue terus yang absenin lo! Gantian dong. Gue mau pergi nih."
"Gue pergi dulu! Lo kabarin apa apanya sama gue kalau Dirga udah keluar dari ruangan rektor." ujarnya beranjak pergi.
"Ce ... Sialan lo ini siomay lo gimana?"
Cecilia yang sudah berjalan kembali menoleh ke arah Nita.
"Buat lo aja! Biar lo gak tepos tepos amat."
***
Sementara Irsan datang ke rumat sakit dengan wajah yang sulit diartikan, dia bahkan tidak menjawab sapaan para suster yang berpapasan dengannya di lorong rumah sakit menuju ruangan prakteknya.
Fikirannya benar benar kalut saat ini hanya karena ucapan Cecilia. Hanya main main katanya. Semudah itu setelah apa yang terjadi diantara mereka semalam.
Dokter Aji yang melihatnya mengerutkan dahi lalu mengikutinya masuk kedalam ruangan Irsan. Irsan mengambil jubah putihnya dan mengenakannya, mengambil stetoskop lalu mencari berkas pasien yang akan di operasi di atas meja.
"Kenapa denganmu hari ini? Sepertinya buruk sekali." tanya Dokter Aji.
Irsan menghela nafas, lalu terduduk di kursinya. "Aku tidak habis fikir dengan mereka!"
"Mereka. Siapa?"
"Kenapa wanita selalu menyebalkan, bertingkah semaunya, bicara seenaknya. Mereka fikir para pria tidak memiliki hati?"
Dokter Aji mengernyit, namun bibirnya terangkat sedikit karena baru sekarang Irsan kembali membicarakan tentang wanita. Menarik nih.
"Siapa yang kau maksud. Wanita mana?"
Irsan berdecak dengan menatapnya tajam, membuat sahabatnya itu sedikit terkekeh.
"Kau sudah lama tidak bicarakan soal wanita! Jadi aku penasaran siapa wanita yang membuat mu kusut seperti ini?"
"Tidak penting! Sudah lah aku tidak ingin membahasnya. Aku ada jadwal operasi." tukas irsan kembali beranjak dari kursi dan berjalan keluar.
"Temui aku kalau kau sudah selesai operasi!" seru Dokter Aji melambaikan tangan saat Irsan membuka pintu dan keluar dengan wajah mendengus kesal.
"Bagus lah, setidaknya kau sudah mulai move on dan melupakan dia." gumam Aji setelah pintu kembali tertutup.
Konsentrasinya terganggu, padahal pisau bedah sudah ditangannya, pasien juga sudah dibius total. Dokter anestesi sudah mengatakan semuanya normal dan siap. Namun Irsan tidak juga bergerak.
"Dokter Irsan!"
Bentakan Dokter anestesi membuatnya tersentak. Dia mengangguk dan mulai membedah pasiennya, konsentrasinya sudah terpecah pecah dan itu tidak bagus saat melakukan tugasnya sebagai dokter. Sampai akhirnya dia bisa mengendalikannya dan kembali fokus.
"Apa yang terjadi? Kau ada masalah?" tanya Dokter Ana saat semua suster sudah keluar membawa pasien setelah operasi.
"Tidak apa apa An. Fikiranku hanya sedang kacau sedikit dan itu benar benar tidak bagus." jawabnya membuka sarung tangan karet.
"Kau tahu kan Irsan! Kau sahabat suamiku dan juga temanku. Jangan sungkan kalau kau mau cerita, juga dokter Siska. Ingat kita pernah berjuang sama sama hingga berada di tempat ini sama sama. Kita sudah seperti keluarga kedua." ujar dokter yang memiliki wajah meneduhkan itu.
Semua orang sudah tahu jika Irsan pria tertutup, hanya sedikit bicara sekalipun mereka sahabatnya yang akan siap membantunya.
Irsan mengangguk, "Oh ya ... Menurutmu kenapa wanita bisa berkata seenaknya?"
Mereka berjalan bersama keluar dari ruangan operasi, dengan Ana yang mengernyit persis seperti ekspresi suaminya Dokter Aji tadi.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah melakukan sesuatu yang menurutku itu kesalahan besar, tapi dia mengatakan hanya main main denganku, bagaimana menurutmu?"