
"Lah ... Siapa yang sewot duluan? Maaf ya Dokter Aji, harusnya yang kau tanya seperti itu bukan aku, tapi Dokter Irsan. Tanya padanya kenapa dia menyukaiku." Cecilia mendengus lalu menghempaskan tubuhnya di kursi. "So gak usah cape cape ikut campur!" Gumamnya lagi.
"Mungkin kau harus berkaca, kau tidak pantas untuk Dokter Irsan, dia terlalu sempurna untuk gadis sepertimu. Kau hanya akan memberinya masalah saja."
"Oh ya? Terus siapa yang pantas untuknya. Apa dia harus perpendidikan tinggi, punya etika dan sopan santun. Bukan gadis seperti ku yang hanya kasih dia masalah?"
"Jelas! Sangat jelas, kau tahu Cecilia, Irsan bisa saja mendapat surat peringatan dari direktur rumah sakit karena kinerjanya yang asal asalan, seenaknya mengganti jadwal praktek hanya karena dirimu."
Cecilia tersentak, Irsan memang kerap mengganti jadwal prakteknya. Tapi dia selalu mengatakan tidak apa apa padanya.
"Kau tahu! Awalnya aku mengira kau gadis yang cocok untuknya, karena dia sedikit berubah, tapi aku lihat perubahannya bukan ke arah yang baik, melainkan ke arah yang buruk."
"Dokter Aji gak usah asal bicara ya! Tahu apa Dokter dengan hubunganku sama dokter Irsan, hanya karena dia sering minta bantuanmu untuk menggantikan jadwal prakteknya kan. Kalau Dokter ngerasa keberatan, ya tolak dong. Gak usah ngeluh di belakang." Jawab Cecilia tidak mau kalah.
"Enak aja nyalahin orang, membawa ke arah yang buruk. Dokter Irsan udah dewasa dan bisa nentuin sendiri pilihannya, dia bisa aja pergi dan gak usah berhubungan denganku kalau dia merasa aku membawa pengaruh buruk dan dia tidak suka. Tapi dia gak ngelakuinnya tuh. Kau tahu karena apa? Udah jelas kan? Jadi gak usah asal ngomong." ujarnya lagi semakin menohok.
"Kau! Berani sekali kau bicara seperti itu padaku!"
"Ya kenapa aku harus takut. Memangnya kau siapa?"
Tiba tiba Irsan masuk, dia mengernyit melihat keduanya tengah berdebat hebat, pria itu menatap Dokter Aji dengan tajam.
"Kau sedang apa di sini?"
"Aku mengambil catatanku yang tertinggal. Dan aku tidak tahu kalau kau kemari membawanya, kalau aku tahu, aku tidak mungkin kemari dan harus bertemu dengannya."
Irsan berjalan ke arah kursi, "Memangnya kenapa kalau dia aku ajak kemari. Ada masalah?"
"Tidak ada!" Aji beranjak pergi, menutup pintu dengan keras dan meninggalkan mereka.
"Dasar mulut lemes! Cowok kok udah kayak cewek, banyak cingcong."
"Apa yang dia katakan?"
"Gak penting! Dia cuma kasih tahu kalau kamu bisa aja dikasih surat peringatan karena sering mangkir dan bolos."
"Ya aku tahu itu,"
"Iih ... Kenapa gak bilang sama aku, dokter Aji bilang itu karena aku. Kamu banyak mangkir karena aku. Iya kan?"
"Tidak juga! Aku memang banyak urusan yang harus aku selesaikan. Tidak masalah kalau hanya di beri surat peringatan."
Cecilia mendelik ke arahnya, "Kau yang taat aturan jadi gak masalah, pasti bener gara gara aku."
"Astaga bukan Cecilia!"
"Kalau kamu dipanggil direktur rumah sakit, aku ikut. Biar aku yang jelaskan kalau kamu itu gak asal asalan dalam pekerjaan, kamu juga gak mangkir tanpa sebab."
Irsan mengulas senyuman, "Kau berani bicara begitu pada Dokter Sam?"
"Hah. Dokter Sam? Direktur rumah sakit ini Dokter Sam?"
Irsan mengangguk, dengan masih mengulum senyuman. "Ya ... Saat ini dialah direkturnya. Kau tidak takut padanya?"
Cecilia tampak diam, kedua maniknya melebar. Entah apa yang dia fikirkan saat mengingat Dokter Sam, yang jelas saat itu juga dia mengingat Serly.
"Aku juga ingin bertemu dengannya! Dia susah dihubungi akhir akhir ini. Padahal aku sudah lama tidak bertemu dengannya."
"Untuk apa kau bertemu dengannya, yang ada nanti dia kasih surat peringatan."
Irsan terkekeh lagi, "Tidak akan. Percaya padaku."
"Kenapa?"
"Ya karena itu tidak akan terjadi. Untuk apa dia memberiku surat itu. Sudahlah, jangan kau hiraukan Dokter Aji. Dia memang begitu, sifatnya seperti perempuan." tukasnya lalu mengambil kertas resume yang harus dia isi.
"Lagian kamu lama banget sih! Nyebelin banget tahu. Aku jadi harus ketemu dokter Aji, ku fikir dia baik dan menyenangkan. Kayak pertama ketemu, lama lama nyebelin tuh orang."
"Kau bisa menghandle nya tadi. Itu sudah bagus." Irsan terkekeh, mengingat dia mendengar semua yang di katakan Cecilia karena sejak tadi dia berdiri di belakang pintu.
"Pengen ku robek robek tuh mulutnya." selorohnya kesal.
"Ih ...! Kamu juga nyebelin. Bagian mana yang buruk, masalah itu doang kan."
Irsan kembali bangkit, "Ayo kita pergi, urusanku sudah selesai."
"Benarkah? Jadi kita pergi kencan sekarang?" Kedua mata Cecilia berbinar. Lalu menghampiri Irsan yang tengah membuka jubah putih yang dikenakannya.
"Hmmm."
"Pinjem ponselmu." Ujarnya dengan tangan menengadah ke arahnya.
"Untuk apa?"
"Sini, pinjem aja sebentar. Jangan banyak protes. Sekali ini aja. Oke." ucapnya lagi dengan tangan masih dia tengadahkan.
Irsan menghela nafas, lalu memberikan ponsel miliknya pada Cecilia. Dia juga melihat dengan seksama apa yang akan Cecilia lakukan.
"Kamu gak akan marahkan kali ini?"
"Tidak! Untuk apa aku marah."
"Gak akan kesel? Protes atau berteriak sambil manggil aku dengan keras."
"Tergantung apa yang kau lakukan."
"Sekali ini aja please." Cecilia menatapnya dengan sendu, "Please Doksay. Ya...ya...."
Irsan kembali mengela nafas, tidak bisa menolak permintaan gadis yang kini terlihat menggemaskan itu. "Oke sekali saja."
"Yes!" Ujarnya dengan bersemangat dan dia langsung mematikan daya ponsel Irsan.
Irsan tentu saja terbeliak melihatnya, dia tidak pernah sampai mematikan ponsel apapun yang terjadi. Melihat Irsan sudah melebarkan kedua matanya, Cecilia langsung mengangkat tangan ke atas.
"Eit ... Kamu udah janji gak akan marah, Gak akan teriak dan gak akan kesal!"
"Bagaimana kalau rumah sakit yang menghubungiku Cecilia."
"Ada Dokter Aji di sini, sekalian saja dia gantiin kamu lagi." Dengus Cecilia lalu menarik lengan Irsan keluar dari ruangannya. "Biar dia tahu rasa! Banyak ngeluh udah kayak emak emak kalah arisan."
"Kau ini!"
"Sekali aja Doksay. Kita akan kencan pertama, besok besok mana bisa kau kembali mangkir. Ya kan. Hari ini juga hari liburmu kan." Tukasnya dengan terus melingkarkan tangan pada lengan Irsan, bak anak kecil yang tidak sabar ingin pergi.
"Ya baiklah. Tapi dengan satu syarat."
Cecilia berdecak, "Pake syarat segala."
"Hari ini aku turuti semua keinginanmu. Tapi setelah hari ini, kau harus rajin kuliah."
Cecilia semakin menarik tangan Irsan dengan antusias, sampai saat melewati station nurse dan hampir semua suster perawat melihat ke arah mereka. Gadis itu bahkan melambaikan tangan ke arah mereka.
"Aku pinjam Dokter Irsan seharian, jangan hubungi dia atau kalian akan aku buat menyesal." Serunya kemudian, para perawat itu hanya saling menatap saja, ada juga yang mendelik ke arah keduanya.
"Kau kan sudah mematikan ponselku, bagaimana mereka bisa menghubungiku. Dasar gadis nakal!"
Cecilia terkekeh, "Benar juga ya."
"Ya harus kau fikirkan itu penawaranku tadi!"
"Masalah itu mah gampang! Yang pasti kita kencan dulu hari ini. Kuliah masih bisa besok besok."
.
.
Wkwkwk... 3 chap lagi buat kalian Cecelover. Terus dukung Cece dan Doksay yang gak pernah jelas ini. Cece gak bisa di gertak ya, anjim emang, gimana caranya biar dia kapok. Dokter aji aja di lawan.
Ce ... Ce.. hadeuuh.