
...Hai hai Cecelover. ...
...Maaf othor baru update lagi abis ambil libur. Kemaren disini ujan gede banget plus dordar geledek dan bikin othor mager seharian. Wkwk. Semoga wilayah kalian semua baik baik saja ya, kita selalu di berikan perlindungan dan kesehatan dimana pun berada. Doakan juga buat saudara saudara kita yang terkena bencana....
.
Astaga!" Irsan mengerjapkan kedua matanya saat Cecilia melakukan hal yang tidak bisa dia duga. "Kau ini nakal sekali!"
"Tapi kamu suka kan?" Jemarinya mengelap ujung bibir Irsan yang basah. "Tadi aku bad mood banget, tapi karena ada kamu, aku udah gak bad mood lagi." ucapnya lagi dengan tersenyum.
Irsan membalas senyuman sembari mencubit mengguyel kedua pipi Cecilia.
"Turunlah, kita membuat mobil dibelakang menunggu!"
"Ish ... Mereka emang tahu kalau aku habis nyium kamu dan gak dapet apa apa!" desis Cecilia dengan melompat turun. "Dah sana gak usah diantar!" sindirnya lagi pada Irsan yang memang hanya berniat mengantarkannya sampai lobby saja.
Irsan berdecak, mengacak pucuk kepala Cecilia. "Istirahatlah dan tunggu aku pulang. Hm."
Cecilia mengangguk, lalu mengibas ngibaskan tangan pasa pria yang sikapnya masih sulit di tebak itu.
"Dah sana,"
"Aku pergi. Dan berhati hatilah, segera kabari aku kalau ibu menganggumu."
"Ibu?"
"Hm ... Ibu mengurungkan niatnya untuk kembali ke singapura, aku fikir dia akan menghubungimu lagi. Jangan lakukan apa apa dan tunggu aku. Oke!"
"Kenapa ibu menghubungiku. Apa ibumu masih gak mau anaknya dekat dekat sama aku?"
Irsan mengulas senyuman, "Itu tidak penting, yang penting aku sudah melakukan apa yang kamu sarankan. Aku sudah mencoba berbaikan dengannya, dan aku melakukan itu bukan ingin ibu merestui hubungan kita."
"Hah? Kok gitu ...?" Cecilia terbelalak.
"Bodoh! Tentu saja karena kau pilihanku sendiri, jadi terserah ibu memberikan restunya atau tidak aku tetap memilihmu."
Cecilia mengulas senyuman dengan memegangi tangan Irsan. "Kau yakin?"
"Kau ini! Kalau aku tidak yakin, untuk apa aku harus melakukannya. Alasanku sendiri terlalu kuat selama ini mendiamkan ibu, sampai kau datang dan membuatku berfikir dua kali."
Cecilia tampak celingak celinguk dengan bibir melengkung sempurna. "Iihh ... Pengen peluk kamu deh!"
"Sudah sana naik, jangan bertingkah yang aneh aneh!"
Cecilia mendengus pelan, "Ya udah sana kalau gak mau aku peluk, lagian mereka juga gak bakal peduli."
Irsan menggelengkan kepalanya, "Aku pergi!"
Setelah melihat mobil yang di kendarai Irsan semakin menjauh, Cecilia baru mengayunkan kedua kaki dan melangkah masuk kedalam lift.
Bibirnya tak henti hentinya melengkung tipis dengan menggelengkan kepala lalu menutup wajahnya, merasa salah tingkah sendiri dengan segala ucapan Irsan yang berhasil melambungkan hati dan fikirannya.
"Bisa bisa dia bilang kayak gitu! Gemes kan jadinya." gumamnya sendiri.
Langkahnya semakin pasti menuju unit apartemen yang dia tinggali saat ini, unit atas nama dirinya sendiri dan itu pemberian Irsan. Pria yang merubah cara berfikir dan penilaiannya terhadap cinta.
Drett
Drett
Ponselnya kini berbunyi, dengan semangat dia mengangkat sambungan telepon dari sepupu Irsan itu.
'Cecilia. Kau dimana?'
'Kenapa Kak? Aku baru pulang ini.'
Cecilia membuka pintu unit apartemen miliknya, dan segera masuk.
'Pulang ke unit. Lebih baik jangan ... Kau ke unitku saja dan tunggu aku.'
Cecilia tidak bisa menjawab lagi, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang membuat Ines melarangnya pulang. Sambungan telepon darinya juga masih terhubung, terdengar memanggil namanya berulang kali.
'Cecilia ... Halo Ce, kamu masih di mana?'
'Cecilia?'
'Halo....'
'Ya kak ... Aku gak apa apa, oke nanti aku ke tempatmu ya. Aku lagi di jalan bye kak.' Cecilia yang mematung baru tersadar dan langsung mematikan sambungan teleponnya, dengan pandangan yang masih teetuju pada wanita yang duduk di sofa yang tengah mengupas buah.
"Ibu?"
"Bagus juga kau ini, masih bisa datang kemari dengan tidak tahu malunya. Ku fikir Irsan hanya memberikanmu satu unit di apartemen ini, tapi ternyata kalian tinggal bersama." ujar Embun tanpa mengalihkan pandangannya pada buah yang tengah dia kupas.
Cecilia masih terdiam tak menjawab, dia melihat koper koper miliknya berjejer rapi di luar kamar.
"Oh itu ... Barangmu sudah aku keluarkan dari lemari,"
Cecilia berdecih, "Ibu usir aku?"
"Mengusirmu. Kenapa aku harus capek capek mengusirmu, kau memang sudah seharusnya pergi dari sini karena ini bukan tempatmu. Aku tidak sudi anakku memberikan unit ini padamu, dan soal kau yang menyuruhnya berbaikan denganku. Aku rasa kau juga tidak perlu melakukannya. Jangan cari muka padaku." kata Embun yang masih enggan menatapnya, dia hanya memotong motong apel yang sudah dia kupas ke dalam piring.
Dengan lesu Cecilia menyimpan tas nya di atas sofa juga menghempaskan tubuhnya. "Ya ibu benar, kenapa aku capek capek ngelakuinnya ya."
Embun menoleh ke arahnya dengan tajam, masih memegang pisau buah di tangannya.
"Pisau itu tajem lho bu, hati hati! Tanganku pernah berdarah banyak, tapi juga sembuh karena anak ibu yang kasih aku obat." ujar Cecilia yang menyandarkan punggungnya. "Gak jadi soal kalau aku harus pergi dari unit ini, gak jadi masalah juga kalau aku harus jauhin Irsan gara gara ibu gak suka sama aku. Tapi apa hubungan ibu bisa semakin baik dengannya kalau aku pergi? Aku rasa enggak. Justru akan makin jauh dan Irsan bisa benci sama ibu." ujarnya lagi menohok.
"Kau terlalu percaya diri. Apa istimewanya dirimu sampai Irsan akan membenciku?" Embun semakin erat memegang pisau.
"Aku cantik, aku menarik, aku pintar, aku juga baik hati. Dan itu sebabnya anak ibu menyukaiku bukan. Oh satu lagi, aku ini asisten dosen lho bu. Patut untuk diperhitungkan." Cecilia terkekeh dan mengjentikkan jari dengan bangganya.
Ada untungnya juga aku jadi asisten dosen ya, bisa aku banggain sama nih orang tua sombong ini. Batin Cecilia.
Embun berdecih, "Kau hanya pembawa masalah! Itu bukan kebanggaan dan tidak membuatku luluh."
"Oh iya ... Aku lupa!" Cecilia menepuk jidat.
Membuat Embun semakin naik darah saja melihat tingkah lakunya. Gadis itu bangkit dan secara sengaja duduk disamping Embun. "Tapi asal Ibu tahu saja ya, Irsan gak akan peduli kalau ibu merestuinya atau tidak. Dia udah bilang gitu tadi."
Embun terbeliak menatapnya. "Jangan asal bicara!"
"Aku gak bohong, ibu bisa lihat nanti apa yang akan dia lakukan setelah tahu aku pergi dari sini." Cecilia bangkit dari duduknya, menyambar kembali tasnya lalu menoleh ke arah Embun.
"Tapi aku bisa membuatnya berubah, aku juga bisa membuat hubungan ibu dan Irsan kembali membaik. Bahkan kembali hangat layaknya ibu dan anak, itu juga kalau ibu mau kalau enggak ya gak apa apa. Aku bisa pergi sekarang. Aku males bertengkar dengan ibu. Aku capek dan banyak tugas yang harus aku urus sekarang karena aku asisten dosen."
.
.Wkwkwk, si Cece sombong amat baru jadi asdos doang. Mana dibangga banggain lagi ya sama tuh gardu listrik.