I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.53(Nakal juga)



...Hai Cecelover. ...


...Maafkan othor karena baru up lagi. Maklum ya othor sibuk dulu wara wiri di RL dari kemarin, semoga kedepannya bisa terus lancar ya. Jangan bosen nunggu othor. Makasih juga buat semua dukungannya, maaf kalau belum sempet bales komen. ...


...Hati hati dengan bab ini, othor gak tanggung jawab kalau kalian makin ngamuk. Wkkw....


.


"Kenapa. Itukan pole Dance!"


"Kau fikir aku tidak tahu?" sengitnya kembali melajukan kendaraan roda empat miliknya.


Cecilia mengulas senyuman, "Ya terus apa masalahmu?"


"Tetap saja itu menjijikan, mempertontonkan tubuhmu pada semua orang. Bagaimana bisa kau lakukan itu didepan banyak orang, murahan!" sarkasnya lagi. "Sebegitu pentingnya uang bagimu, sampai kau rela melakukan hal itu."


Cecilia menatapnya dengan kedua manik hitam memicing, serta bibir sedikit melengkung ke arahnya.


Irsan meliriknya sekilas lalu kembali menatap ruas jalan.


"Apa? Kau fikir aku sedang bercanda?"


"Enggak!"


"Aku serius ... Itu sangat menjijikan, dan kau tidak tahu malu, tidak tahu diri. Kau benar benar seorang jaalang."


Bibir Cecilia melengkung sempurna saat Irsan mengatakan semua umpatan pada dirinya dengan kesal. Dia tidak berhenti memicing ke arahnya.


"Kau sadar ucapanmu dokter Irsan?"


"Apa maksudmu? Kau fikir aku mengatakan hal ini karena aku menyukaimu? Tidak ... Jangan salah, semua orang yang mengenalmu pasti akan mengatakan hal yang sama, apalagi aku. Kita bertetangga." kilahnya, lagi lagi dia merasa bodoh dengan segala tindakannya yang membawa Cecilia dari atas panggung hingga membawanya kini.


Celaka, aku lupa kalau Ines masih di klub. Aku bahkan meninggalkannya begitu saja. Tujuanku juga membuatnya cemburu. Kenapa justru aku yang dibuat kalang kabut olehnya. Dasar siallan. Batin Irsan, dia baru ingat telah meninggalkan sepupunya.


"Benarkah? Hanya sebatas kepedulianmu sebagai tetangga apartemen. Kau mengatakan aku tidak tahu diri, tidak tahu malu, murahan, gila uang ... Terus kurang ajar, wanita brengsekk, wanita siallan, sampe wanita jaalang. Tapi kau bisa lupa kalau kau sendiri meninggalkan wanitamu di klub demi seorang wanita yang kau umpat habis habisan ini." ucap Cecilia mengurutkan semua umpatannya dengan jari jemari yang dia lipatkan. Dia menggelengkan kepalanya seraya berdecak, perlahan lahan mencondongkan tubuhnya ke arah Irsan yang tengah menyetir. "Delapan nih, sebutan yang buruk." ujarnya dengan menunjukan kedua tangannya dengan delapan jari mengacung. "Terus kapan kau sebut aku kesayangan. Hm?" kekehnya lagi menangkup kedua tangannya menjadi satu.


Uhuk


Irsan tersedak ludahnya sendiri, mendengar ucapan Cecilia disertai hembusan nafasnya yang berbau alkohol. Irsan menoleh ke arahnya dan menatap gadis itu tengah tersenyum dengan kedua mata yang memicing. Jujur saja, hatinya kini bergetar hebat hanya karena melihatnya begitu manis. Kecantikan yang luar biasa serta suara lembutnya mendayu dayu. Berbanding dengan sifatnya yang gila dan nekad. Juga prilaku nakalnya.


Mobil masuk ke basement Apartemen, Irsan kembali membisu. Dia sibuk berperang batin, entah harus mengakui jika dia memiliki perasaan pada gadis nekad disampingnya.


"Benar benar gila." desisnya sendiri seiring melambatnya laju kendaraan yang dia bawa.


Pria berusia 40 tahun itu membuka seat belt dan segera keluar dari mobil, fikirannya benar benar dibuat kacau. Berjalan memutar ke arah pintu sebelah kanan dan membukanya kasar.


"Keluar!"


"Panggil sayang dong!" Cecilia terkekeh, dengan membuka seat belt.


Irsan hanya menatapnya saja, walau hatinya mengatakan ingin sayang, tetap saja lidahnya kelu. Dia tidak ingin gegabah karena semua kegilaan yang dilihatnya hari ini, dan juga gerakan impulsifnya sendiri.


Cecilia melompat turun dari mobil, saking cepatnya dia tidak memperhatikan pijakannya sendiri hingga kedua kakinya tersandung.


Nyaris saja dia terjatuh karena kecerobohannya sendiri, untung saja Irsan berada tepat di depannya. Hingga gadis itu tidak memperlihatkan kekonyolannya lebih parah.


"Apa kau gila! Keluar dengan melompat begitu. Kau fikir kau anak anak?" ketusnya dengan kesal, dan tanpa dia sadar kedua tangannya berada di pinggang Cecilia.


Sepersekian detik, keduanya terdiam, saling menatap satu sama lain. Manik manik bercahaya itu saling menelisik, saling menyelami sanubari namun berakhir dengan saling menunggu.


Perlahan lahan Irsan memberanikan diri dengan memajukan wajahnya, menyambar bibir Cecilia yang tengah sedikit terbuka dan menyisirnya lembut. Mendapat serangan tiba tiba seperti itu, tentu saja Cecilia senang, dia berjinjit dengan kedua tangan melingkari leher pria tinggi itu.


Kedua benda basah itu kini bertemu, saling melumaat dan tentu saja berbagai rasa yang tercipta dikeduanya. Tidak bisa dipungkiri lagi, Irsan telah menyerah, dia tidak bisa membohongi dirinya lagi jika dirinya sudah jatuh cinta pada gadis gila macam Cecilia.


Cecilia menendang pintu mobil dengan ujung high hill yang dikenakannya, lalu mendorong tubuh Irsan dengan tubuhnya sendiri hingga keduanya terus berjalan masuk ke dalam lift basement yang terbuka tanpa melepaskan tautannya.


Cecilia menekan tombol bernomor tiga sementara Irsan menekan nomor lima. Keduanya mengulum senyuman lalu kembali saling memagut. Kali ini lebih dasyat dari sebelumnya. Mereka bahkan lupa jika di lift itu terpasang CCTV.


Lift terbuka dilantai tiga, Irsan menariknya keluar lalu kembali berputar dengan terus melumatt bibirnya, has ratnya semakin liar dan tidak terkendali. Sampai dia menarik pinggangnya lalu dengan sekali tarikan saja gadis itu sekarang berada di gendongannya, dengan kedua kaki jenjang membelit pinggang Irsan.


Kedua tangannya mengalung, sesekali meremass rambut Irsan dan membuat desiran keduanya semakin memuncak. Sementara tangan Irsan berada tepat di gundukan daging dibokong Cecilia.


Beruntung koridor lantai tiga cukup sepi malam itu, hanya CCTV yang menjadi saksi dan merekam ke liar an mereka berdua.


Irsan menekan kunci pasword pintu dan segera masuk ke dalam, dengan Cecilia yang masih berada dipangkuannya, hingga dia membaringkannya di meja. Serangan serangan kecil dari Irsan membuat Cecilia bersorak. Akhirnya tuh tiang listrik konslet juga. Batinnya dengan terus membenamkan kepala Irsan yang kini tenggelam di ceruk leher miliknya.


Semakin lama, Irsan semakin tidak terkendali, dia kembali membawa Cecilia ke dalam kamar miliknya, melucuti semua pakaiannya satu persatu dengan nafas yang semakin memburu.


Namun dia sempat menghentikan gerakannya saat melihat Cecilia kini berada di kungkungannya tanpa sehelai kain. Menatap tubuh indah gadis berusia 20 tahun itu dengan tatapan nanar.


"Kenapa?" tanyanya dengan menggigit bibirnya sedikit. Menahan gejolak yang semakin membahana.


Cecilia tidak tinggal diam, dia menarik kedua bahu Irsan dan membalikkannya. "Apa kau sedang menyesal?" tanyanya lagi.


Irsan terkesiap sulit menjelaskan. Dia hanya mengulas senyuman dengan jari menyempilkan rambut Cecilia yang ke telinga nya.


"Aku tidak akan menyesal."


"Ya ... Besoknya kau akan berubah fikiran lagi kayak di rumah sakit."


Irsan kembali membalikkan keadaan, kini dia yang menarik Cecilia dan mengkungkungnya di bawah tubuhnya. "Sudah aku katakan tidak!"


"Benarkah?"


Irsan mengangguk, merapikan rambut Cecilia yang berantakan di wajahnya.


"Kalau begitu kita lak--- Aagghk!"


Belum sempat mengucapkan semuanya, Cecilia tersentak kaget saat senjata Irsan menyentuh daerah intinya dengan perlahan lahan. Memberinya sensasi menggelitik.


Irsan mengangkat satu bibirnya ke atas, membiarkan Cecilia semakin menuntut lebih tanpa berdaya.


"Dokter bisa nakal juga?"