I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.150(Semua berantakan)



Cecilia mengulas senyuman, memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Irsan yang hanya fokus pada ruas jalan. "Kita. Contohnya apa aja tentang kita itu?"


"Kau ini."


"Yang indah indah begitu. Masa depan atau apa?" pancing nya terus tanpa henti sampai dia puas mendengar jawabannya.


"Masa depanmu Cecilia!"


"Masa depanku. Ya udah pasti, masa depanku itu ya kamu." Cecilia terkekeh.


Irsan menoleh sekilas, setelah itu kembali menyetir, tidak tertawa dan tentu ekspresinya yang datar saja.


"Ish ... Gak seru!" Cecilia membenturkan punggungnya ke belakang seat mobil.


"Kamu mau kita kemana lagi?"


"Aku laper, mau makan." ketusnya.


"Jadi kita mau ke restoran mana?"


"Ya mana aja!" Tukas Cecilia lama lama semakin kesal saja.


"Bukankah aku hanya akan mengikuti semua kemauanmu hari ini? Jadi katakan saja kau mau makan di mana."


"Kesana!" Tunjuknya dengan asal asalan.


"Makan apa?"


"Ya terserah, yang penting enak."


Irsan mengangguk, lalu melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran.


"Kita makan di sini?"


"Ya udah ayo." Cecilia segera keluar, lalu berdiri menatap restoran yang cukup ramai itu.


"Ayo!" Irsan mengulurkan tangan ke arahnya, membuat rasa kesalnya sedikit hilang, ditambah kini senyuman terbit di bibir Cecilia. "Ayo ... Tidak usah senyum senyum begitu. Katanya tadi kau lapar."


Mereka berdua akhirnya masuk, sejak awal bertemu sampai saat ini, inilah pertama kalinya Irsan mengikuti semua kemauan Cecilia tanpa banyak bicara.


"Kamu mau pesan apa?"


"Apa saja." tukas Irsan,


"Oke!"


Cecilia bahkan memilih tempat paling pojok, tempat yang tidak terlalu di lewati banyak orang. Gadis itu menarik kursi, namun dengan lebih cepat Irsan menarikkannya untuknya.


"Tumben. Sweet banget." Celorohnya. "Karena hari ini kencan pertama kita ya."


"Hm ...!" Ujar Irsan memanggil waiters dengan melambai ke arahnya.


Namun karena suasana resto cukup ramai saat itu, tidak ada seorang waiters yang menghampirinya.


"Nyebelin banget sih. Kita di cuekin."


"Tunggulah sebentar lagi, mereka pasti sangat sibuk." Irsan bergumam, namun gumamannya itu masih bisa Cecelia dengar.


Gadis berusia 20 tahun itu berdecak lalu bangkit dari kursi.


"Irsan?"


Seseorang memanggil namanya, Cecilia ikut menoleh pada sumber suara dan semakin berdecak setelah tahu siapa orang yang memanggil.


"Kau disini juga?"


"Hm. Kau sendiri sedang apa di sini dokter Aji?" tanya Irsan.


"Aku sedang makan siang dengan dokter Siska dan juga Istriku. Disana." tunjuknya pada meja yang tidak berapa jauh dari meja Irsan. "Kita gabung?"


Irsan mengulas senyuman, lalu dia mengangguk dan menileh sebentar pada Dokter Siska dan Dokter Sila yang tengah melihat ke arahnya juga.


"Dih apaan sih, pake ngangguk segala. Ini kan kencan, masa iya mau gabung sama mereka." gumam Cecilia yang kembali harus kesal.


Dokter Aji melambaikan tangan dan menyuruh kedua dokter wanita untuk bergabung, Dokter Aji juga mengulas senyuman pada Cecilia.


"Kau tidak keberatan bergabung dengan para dokter hebat bukan?"


Irsan menariknya untuk duduk disampingnya, tak lama Siska dan Sita pun duduk bergabung. Siska yang beberapa kali sempat bertemu dengan Cecilia pun tersenyum dan sedikit mengangguk.


"Kau tidak bilang akan kemari Dokter Irsan."


"Kenapa harus bilang segala. Memangnya dia anak kecil apa?" sahit Cecilia mengambil buku menu dari seorang waiters yang akhirnya menghampiri mereka.


"Bicara yang sopan. Dokter Siska hanya bertanya padanya, bukan padamu." seloroh Aji yang duduk paling dekat dengan Irsan,


"Kenapa kau yang sewot? Dokter Siska juga gak masalah kalau aku yang jawab. Iya kan Dokter?"


Siska tampak bingung, dia mengulas senyum pada Cecilia lalu tersenyum pula pada Aji.


"Ya tetap saja---"


Sita menyentuh tangan suaminya agar dia diam dan tidak terus bicara, mempermasalahkan hal yang tidak penting. "Sayang, sudahlah."


Sementara Irsan hanya terdiam saja, dia hanya melirik sebentar ke arah Cecilia lalu menatap teman sejawatnya di sebelahnya.


"Menyebalkan!" ketus Aji.


"Ya kenapa mau bergabung, kenapa gak duduk disana kayak tadi. Kalau pun bergabung setidaknya gak usah usak usik segala." Desis Cecilia yamg tidak mau kalah.


"Kau!"


"Sudahlah Aji. Kita di sini mau makan siang bukan?" Siska menggelengkan kepalanya. "Maaf, dokter Aji memang begitu orangnya, kau harus maklum" ujar Siska pada Cecilia.


Cecilia hanya mendengus dengan menatap Aji begitu juga sebaliknya. Gadis itu tersentak saat Irsan menggenggam tangannya lalu mengangguk, "Kita pergi saja. Hm?"


Membuatnya terkesiap, "Tapi ...!"


"Tidak apa apa, mereka pasti mengerti." ujarnya lagi, dia bangkit dan menarik Cecilia agar ikut dengannya. "Maaf, tapi sepertinya kita berdua harus pergi, agar sama sama nyaman saat makan. Dokter Aji,"


"Kenapa harus pergi segala?"


Sita memukul lengannya, "Ini semua gara gara kau! Coba tidak usah mengatakan hal hal tidak berguna seperti tadi."


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya! Bukankah yang bertanya itu Siska, kenapa aku yang salah." sahut Aji menatap Irsan dan Cecilia yang berjalan keluar.


"Istrimu benar! Kau ini bikin masalah saja. Seperti tidak tahu seperti apa Dokter Irsan." timpal Siska sembari berdecak ke arah Aji lalu menatap kedua orang yang sudah masuk ke dalam mobil.


Sementara Irsan menghela nafas saat masuk kedalam mobil. Dia menoleh ke arah Cecilia yang mencebikkan bibirnya.


"Kita pergi ke tempat lain saja?"


"Aku gak mau! Kita pulang aja. Nyebelin banget."


"Lalu tiketmu?"


"Ya udah gak apa apa! Lagian kalau kita nonton, bakal gak seru. Aku udah bad mood."


Irsan mengulas senyuman, "Karena dokter Aji?"


"Orang orang itu kenapa sih pada manggil Dokter Aji, Dokter Siska, Dokter Sita. Semua pake embel embel Dokter. Nyebelin tahu. Gak seru. Kalau berteman ya harusnya panggil nama aja. Sombong banget. Pengen semua orang tahu kalau yang lagi makan itu semuanya bergelar dokter. Iya?"


"Kenapa kau sekesal itu hanya karena embel embel yang kau sebutkan. Dokter Aji memang begitu orangnya."


Cecilia mendengus mendengar Irsan menyebutkan nama Aji dengan embel embel Dokter. Pria bertubuh tinggi itu mengulas senyuman. "Magsudku Aji."


"Kita pulang aja, biar gak ada yang ganggu lagi."


"Bukankah kau ingin kencan di siang hari, bisa bebas kemana pun pergi?" cibir Irsan yang membuat Cecilia semakin mencebik saja.


"Gak jadi, aku gak mau kencan lagi. Yang ada berantakan semua."


Irsan masih mengulas senyuman, "Kalau gitu kita kencan ulang tapi aku yang putuskan kita akan pergi kemana. Hm."


"Mana ada yang begitu! Kamu itu gak peka sama sekali."


"Kalau aku gak peka sama sekali, untuk apa aku membawamu pergi dari sana?" tunjuknya pada restoran yang baru saja mereka tinggalkan.


"Ya ... Itu hanya karena ada dokter Siska kan? Cowok lemes itu bilang dia lebih cocok untukmu dari padaku."


Irsan tergelak kali ini, "Benarkah? Pantas saja Aji ingin bergabung, ternyata dia sengaja. Dan sengaja pula membuat gadis pawang ini marah."


"Apaan ... Gadis pawang. Iiih....!"