
Tristan mengangguk dengan semangat yang membara, seakan dia benar benar siap jika harus berhadapan dengan Irsan. Pria berusia 30 tahun itu pun merengkuh bahu sang kekasih.
"Tenang aja, aku akan menghadapi senior. Kau tidak perlu takut oke. Aku yakin senior akan merestui kita. Sekarang kita pulang dulu, aku lelah sekali."
Tristan mengambil tas miliknya dengan terus memeluk Ines dan berjalan ke arah pintu dan tidak lupa melambaikan tangannya pada Cecilia.
"Hey ... Kalian gak bisa pulang sekarang. Suamiku mau bicara! Siap kan? Gak pake nanti nanti, seniormu itu ingin bertemu denganmu hari ini juga!" seru Cecilia pada keduanya yang baru saja melangkah keluar.
Tristan menoleh kembali ke arahnya, begitu juga dengan Ines yang membelalakkan kedua matanya.
"What sekarang?"
Cecilia mengangguk, "Yuk ... tempatnya deket kok gak jauh jauh dari sini."
Tristan dan Ines benar benar terbeliak sempurna, bagaimana mungkin secepat ini Irsan menanyakan keseriusan Tristan terhadapnya.
"Tidak bisa! Kenapa harus sekarang, memangnya tidak ada nanti?" Sentak Ines.
Cecilia mengerdik dengan kedua alis yang turun naik. "Lebih cepat lebih baik, jadi kalian bebas ngelakuin apapun nanti. Ya gak Tris?"
"Tetap tidak boleh! Aku akan bicara dengannya." Ines menepis tangan Tristan dan berjalan keluar lebih dulu.
Sementara Tristan dan Cecilia menyusulnya dari belakang.
"Dikasih yang enak malah nyolot,"
Tristan menoleh ke arah suara di sampingnya. "Senior terlalu buru buru, padahal aku tidak mungkin melangkah lebih jauh dari apa yang kau lihat!"
Bugh!
Cecilia memukul lengan Tristan, "Kalau gue gak masuk, lo udah nyosor kemana? Udah jelas jelas kok tinggal dikit lagi itu mah!"
"Heh ... kenapa senior bisa tahu apa yang terjadi, berarti kau yang bicara padanya. Kau bilang ingin jaga rahasia."
"Heh bego ... Itu udah gue jaga, tapi senior juga tahu kali, ya kali dia bego pas lihat bibir lo belepotan lipstik!" Ucap Cecilia, lantas dia melangkah lebih cepat menyusul Ines dan meninggalkan Tristan.
Sementara Ines sudah berjalan ke arah ruangan praktek Irsan, pria itu baru saja hendak keluar dan tanpa sengaja melihat Ines yang berjalan dengan cepat.
"Nes?"
"Masuk, aku ingin bicara!" Ines menarik lengan Irsan dan membawanya kembali masuk ke dalam ruangan.
Cetrek!
Pintu tidak lupa dia kunci agar Tristan dan Cecilia tidak ikut masuk dan ikut campur. Irsan sendiri mengernyitkan dahinya saat lengannya terus ditarik menuju ke arah kursi.
"Ada apa?"
"Kenapa kau ingin bicara pada Tristan? Tidakkah ini terlalu buru buru?"
Irsan menghempaskan bokongnya di kursi lalu menghela nafas. "Itu demi kebaikanmu Ines, kenapa harus berlama lama dan menunda lagi. Bukankah Tristan yang selama ini kau tunggu. Hm?"
"Ya ... Tapi tidak secepat ini, kita baru bertemu lagi beberapa hari dan ... Dan...."
"Dan apa. Kau tidak yakin padanya?"
"Bukan, tapi ini terlalu cepat?"
Irsan kembali menghela nafas, "Aku sudah berjanji untuk mencarikanmu teman kencan bukan, yang lebih baik dari pria mana pun yang selama ini mendekatimu dan selalu gagal. Dan itu Tristan. Jadi tunggu apa lagi?"
"Irsan!"
"Apa ... Kalau Tristan memang benar benar ingin bersamamu maka dia tidak akan mundur kalau aku bicara. Jadi apa yang kau takutkan?"
Ines terdiam dengan menatap kakak sepupunya itu, begitu juga dengan Irsan yang terus menatapnya.
"Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan tadi pagi, tapi aku seorang pria Ines, dan aku tahu apa yang ada di fikiran seorang pria, kau mungkin bisa mengendalikan dirimu sendiri. Tapi kau tidak mungkin bisa menjamin Tristan bisa mengendalikan dirinya. Percaya padaku Ines."
Ines masih terdiam, kedua matanya berkaca kaca menatap Irsan. Tapi tetap saja, ini terlalu cepat.
"Nes!"
"Please ... Aku tidak mau mengikuti jejakmu dalam pernikahan, aku memiliki gaun pengantin yang aku rancang sendiri dan aku ingin memakainya dengan bahagia!"
"Tapi Nes!"
Ines menangkup kedua tangannya di depan dada, dengan tatapan sendu menatap kakak sepupunya itu. "Tolong, aku tidak mau!"
Irsan menghela nafas, "Dengarkan aku dulu, aku bicara pada Tristan soal hubungan kalian bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama seperti ibu saat menikahkanku dan Cecilia dulu Ines! Kau boleh merancang pernikahanmu sesuai dengan apa yang kau impikan. Aku tidak akan melarangmu apalagi bertindak semauku soal itu. Kau terlalu jauh berfikir!"
Ines mengerjapkan kedua matanya yang sayu, "Terus untuk apa kau ingin bicara pada Tristan hari ini?"
Irsan menghela nafas lalu bangkit dari duduknya. Pria berusia 40 tahun itu memegang kedua pundak adik sepupu satu satunya itu.
"Dengar, kau adikku satu satunya dan aku ingin pria yang baik yang akan menjadi pendampingmu nanti. Dan aku hanya akan bicara pada Tristan sebagai seorang pria. Kau paham? Aku sudah meyakinkan diriku sendiri jika Tristan memang yang terbaik untukmu, tapi aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutnya kalau dia akan menjagamu dengan baik."
Ines semakin berkaca kaca, Irsan tidak pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya hangat. Pria itu selalu dingin dan to the point namun kali ini ucapannya menggetarkan hatinya.
"Cecilia membuatmu bisa sehangat ini!" cicitnya pelan.
Irsan mengulas senyuman. "Apa aku buruk?"
Desainer muda berbakat itu menggelengkan kepalanya dengan lirih. "Aku ingin menangis mendengarnya, aku merasa bicara dengan seorang ayah sungguhan!"
"Kau ini!"
Ines memeluk tubuh Irsan dengan erat, dan membuat Irsan kalang kabut, tubuhnya tersentak karena selama hidupnya dia tidak pernah saling berpelukan dengan Ines, bahkan tidak pernah mengungkapkan secara gamblang perhatiannya seperti sekarang.
"Cecilia benar benar hebat, dia bisa merubah manusia dingin dan kaku ini jadi seperti ini!"
"Kenapa kau terus memuji Cecilia, aku ini yang hebat." Irsan mengelus kepala adiknya itu.
"Ya memang itu kenyataannya, kau tidak akan sehangat sekarang jika tidak bertemu dengannya bodoh!"
Mereka berdua akhirnya terkekeh dan menyadari jika pintu ruangan di ketuk beberapa kali.
"Bukalah. Aku tidak mau membuat istrimu cemburu karena kau mengunci pintunya!"
Ines mendorong dada Irsan hingga pelukan mereka terurai. Dia juga mengelap kedua matanya yang basah.
"Kau fikir kita apa. Kita itu saudara, lagi pula Cecilia tidak akan cemburu padaku karena memelukmu!" ujarnya dengan berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya.
"Lama banget sih, bikin kesel aja!" Cecilia merangsek masuk di ikuti oleh Tristan.
Ines hanya mengulas senyuman dan memeluknya dengan erat.
"Thank ya Cecilia ...!"
"Buat apaan? Aku gak buat apa apa kok."
"Udah bikin si tiang listrik jadi manusia seutuhnya, aku tidak pernah merasa hatiku seharu ini sebelumnya. Padahal aku hidup dengannya sejak kecil." Terang Ines dengan pelukan yang semakin erat.
Sementara Tristan menghampiri Irsan dengan wajah yang tidak karuan.
"Senior?"
"Hm....!" gumam Irsan dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Senior tenang saja, aku benar benar tulus padanya. Bukan hanya karena Ines sepupumu. Tapi dia cinta dalam hidupku!"
"Bagus! Sekali kau sakiti dia, aku akan buat lisensi kedokteranmu di cabut!"
.
.Makin makin melehoy gak tuh si tiang listrik yang udah gak ada subsidi. Wkwkwk...Semoga othor kembali konsisten menulis ya, dan banyak lope lope buat kalian yang udah sabar pake banget.