
"Bukan begitu. Tapi aku merasa Irsan terlalu gila!"
"Sudah gila gimana. Emangnya kenapa denganku?" tukas Irsan yang lambat laun mendengar bisikan keduanya. "Lagi pula tidak ada yang salah!" tukasnya lagi.
Cecilia menganggukkan kepalanya dengan terus tersenyum, walaupun tatapan Irsan yang sulit diartikan itu menyorot dirinya. Irsan yang mulai mengerti arti senyuman Cecilia meraup wajahnya.
"Orang bodoh yang kau bilang keren itu?" desisnya.
"Hmm ... Merekalah orangnya, dan aku gak nyangka kalau kau ternyata mengenal mereka dengan baik!"
"Aku juga tidak menyangka mereka mengenalmu dengan baik!"
"Ya ... Kita semua sama sama tidak menyangka! Dunia ini sempit sekali, kalau kau berniat menikahinya kenapa tidak dari dulu saja! Kau malah menghabiskan waktumu dengan membujang." Zian tampak menyolot, dengan menyendok makanan dipiringnya.
"Mana aku tahu! Kau fikir aku harus mengenal semua teman teman Istrimu? Kau saja tidak berniat mengenalkanku padanya!" sentak Irsan yang kembali kesal saat ingat perkataan Zian mengenai Cecilia.
"Heh ... Kau! Memangnya kau mau aku kenalkan pada gadis gadis? Kau saja menutup diri." Zian juga masih terlihat kesal sedikit membanting sendok miliknya.
Cecolia menimpali perdebatan, "Om Zian gak ingat kan kalau aku pernah minta Om kenalin sama temen temen Om yang duren? Inget gak ... Pasti enggak kan?"
"Ya terus apa hubungannya?" sentak Zian kesal.
"Kau panggil dia apa?" Irsan menyela lalu tertawa. "Om?"
Agnia menggelengkan kepalanya melihat orang orang yang dia sayang berdebat dengan hal hal kecil dan tidak terlalu berarti. Bahagia juga rasanya melihat sahabatnya kini menemukan pria baik sebaik Irsan.
"Terus kau mau dia memanggilku apa? Apa salahnya dengan panggilan itu? Kau juga dia panggil Om?" Tukas Zian lagi.
"Hubby ... Udah dong!" Suara Agnia memecah perdebatan, ditambah Biru yang meniru.
"Sayang," Suara Cecilia membuat Zian muak. Dia masih tidak mau menerima jika Irsan sahabatnya yang paling baik dan juga alim mendapat gadis macam Cecilia.
"Baby ... Kau yakin temanmu sudah berubah?"
"Apa yang kau maksud?" Irsan membulatkan kedua maniknya tajam.
Entah kenapa keduanya terus berdebat, karena mereka terlalu kaget dan sama sama tidak menyangka, acara makan siang pun berubah lebih mencekam. Alih alih menikmati makanan masing masing, mereka juatru mengabaikan piring piring. Terkecuali Agnia, ibu muda ity terlalu lapar. Irsan bahkan hanya memainkan sendok.
Cecilia tak hentinya saling melirik dengan Agnia, lalu melirik kedua pria yang masih terus berdebat kesal disamping mereka.
"Nia ... kita tinggalkan saja mereka!"
"Ide bagus. Tapi mereka wajib di awasi!"
"Hah?"
"Lo tahu mereka berencana kemana setelah ini?"
"Kemana?" Cecilia menyondongkan tubuh ke arahnya.
"Klub malam!" bisik Agnia dengan kepala terangguk angguk.
"Malam ... Malam!" tiru Biru dengan suara lucunya.
Pupil hitam cantik milik Cecilia melebar sempurna, walaupun dia tidak yakin kalau Irsan akan bertahan lama berada di klub malam. Sejurus kemudian dia terkekeh.
"Gila lo ya!"
"Bukan gitu Nia ... Justru gue pengen lihat gimana dia kalau masuk klub."
Agnia menutup mulutnya sendiri."Sinting lo!"
"Yes i'm ... But not for now ... I love him!" ucap Cecilia meyakinkan.
"Lo yakin?"
"1000% ... Bahkan gue berani sumpah disamber gledek."
"Bacott lo Ce! Yang ada lo mati." Agnia segera menutup mulutnya karena hilang kendali karena terus bicara kasar di depan Biru.
"Ibu ibu pea lo!"
"Gara gara lo!" Agnia menutup kedua telinga Biru dengan telapak tangannya.
Padahal Biru saja tidak mengerti apa yang tengah di debatkan ke 4 orang dewasa didepannya. Dia tenang saja dengan mainan barunya dan sesekali meniru ucapan Ibunya.
Cecilia mengangguk dengan bibir yang melengkung sempurna.
"Sumpah lo?"
Cecilia mengangguk lagi
"Jangan bilang lo ...?"
Cecilia mengangguk lagi. "Sutthhh ... Nanti gue ceritain sama lo."
Hanya mereka berdua yang mengerti kearah mana pembahasan yang tidak jelas itu namun akhirnya merasa lega, Agnia sebenarnya tidak ada masalah mengenai hubungan Irsan dengan sahabatnya terlebih Agnia memang senang saat melihat Cecilia sudah berubah ke arah lebih baik.
Waktu terus berjalan, kedua pria yang sama sama berusia 40 tahun itu urung pergi ke klub malam karena ada nya Biru, setelah puas menyusu pada sang ibu muda dia kembali lengket pada sang ayah dan tidak mau ditinggalkan.
"Sepertinya kalian akan gagal bersenang senang malam ini. Iya kan Biru?" celetuk Agnia dengan memainkan tangan Biru.
"Gak apa apa dong ... toh kalian sudah punya kesenangan sendiri kan?" Sindir Cecilia pada keduanya dengan kedua alis naik turun. "Ya gak sayang?" ujarnya lagi pada Irsan yang sejak tadi mengelus jemari Cecilia dengan lembut.
Irsan hanya mengulas senyuman tipis, sementara Zian berdecak. "Bisa bisanya kau menemukan gadis macam dia." gumamnya tanpa suara.
Irsan jelas tidak banyak bercerita mengenai hubungannya dengan Cecilia pada Zian, tapi terlihat dari sikap Irsan dalam memperlakukan Cecilia kalau pria itu sangat serius.
"Hubby ... Mereka gemesin ya!" Agnia menempelkan dagunya dibahu sang suami.
"Kau juga ingin aku mengelusmu Baby?"
"Iih ... Hubby!"
Cecilia terkekeh, begitu juga Irsan. Zian merengkuh sang istri dan mendekap putra mereka.
"Walau aku masih tidak percaya tapi aku harap yang terbaik untuk kalian."
Akhirnya Zian mengatakannya walau sulit, dia memang sulit yakin melihat hubungan keduanya akan berhasil mengingat Cecilia adalah gadis murahan yang dia tahu bagaimana sepak terjangnya, tapi melihat keseriusan Irsan dan juga terlihat Cecilia tidak separah dulu.
Agnia ikut mengangguk tanda setuju, dan Biru yang meniru apapun yang dikatakan maupun di lakukan kedua orang tuanya.
"Tapi aku akan ikut mengawasi kalian, terutama kau. Kalau sampai kau membuat temanku ini patah hati, ku patahkan seluruh tulang di tubuhmu!" tunjuknya pada Cecilia dengan tatapan khasnya yang tajam.
"Heh ... Jangan menakutinya!" sentak Irsan.
"Kamu tenang aja sayang, aku gak takut karena aku gak akan pernah matahin hati kamu." Cecilia mencuil hidung Irsan dengan gemas.
Membuat Agnia terkekeh dan Zian ingin muntah melihatnya.
"Kau dengar itu hubby?"
Zian mendengus, "Tinggal aku urus Carl si brengsekk itu! Dia pasti bersenang senang dengan wanita di Bali."
Cecilia terkesiap, dia baru saja ingat kalau ada mahkluk bernama Carl yang wajib di beri pelajaran.
"Dia di bali?"
"Iya Ce ...!"
"Kurang ajar emang dia, lihat aja ... Kalau sampe dugaan gue bener! Gue bakal kasih dia pelajaran." tukas Cecilia kemudian.
"Emangnya kenapa?"
"Si Nita sampe hari ini gak ada kabar, gue takut kalau dia yang ikut Carl ke bali." ujarnya menatap Agnia, beralih pada Zian lalu berakhir pada Irsan.
Ketiganya terdiam, itu mungkin saja terjadi mengingat Carl adalah pecinta wanita.
"Tapi bukankah Carl masih mengejar Ibumu Nia?" tanya Irsan.
Cecilia terbeliak, "Hah?"
"Gak tahu juga, sampai hari ini Mommy gak pernah cerita soal itu."
"Tentu saja Baby, Laras bukan tife yang gampangan, dia sangat berkualitas. Dan Carl yang hanya mengandalkan mulutnya saja hampir beberapa tahun itu selalu gagal." tambah Zian dengan menduga duga.
Cecilia masih terbeliak, Carl juga sempat bilang kalau dia memang gak pernah menyukai gadis dengan usia yang terlampau jauh, dia suka wanita dewasa dan hot. Jadi wanita dewasa maksud dia itu tante Laras. Astaga, dunia udah sempit juga kacau banget ini. Batin Cecilia.
"Kalau Nita bukan orang yang ikut dia ke bali, terus si Nita kemana?"