
"Astaga! Apa kau harus se frontal itu dalam bicara? Irsan mengusap wajahnya dengan kasar Seraya berdecak mendengar ucapan Cecilia yang terlampau blak blakan. Dia juga mulai melajukan mobilnya dan menanjapkan pedal gas dengan kecepatan tinggi, meninggalkan sang induk semang yang saat ini ditemani oleh Carl.
"Kau tahu kan Ibuku akan berpikir ke mana-mana!"
"Ya emangnya kenapa. Itu kan memang kenyataannya Kalaupun dia berpikir seperti itu ya gak masalah kali, lagian ya ... Anaknya udah tua kok masih aja khawatir, kalau anaknya maaih remaja terus misalkan anaknya cewek baru di wajib tuh khawatir."
Irsan berdecak, "Justru itu ucapanmu yang ambigu akan membuatnya berfikir yang tidak tidak! Walaupun ya kenyataannya seperti itu. Tapi itu bukan hal yang etis untuk diberi tahukan pada orang lain."
"Bikin ambigu ... terus aku harus bilang dengan jelas gitu? Ibu bu semuanya itu termasuk meniduriku?" Cecilia mendengus namun tak lama kemudian terkekeh karena melihat raut wajah Irsan semakin kaku dibuatnya.
"Astaga!"
"Ya udah sih gak apa apa, Ibu juga juga lama lama akan ngerti, lagian ya aku lihat ibu udah mulai luluh sama aku. Mungkin sedikit lagi waktu akan membuatnya benar benar luluh."
Apa kau tahu Cecilia, kalau ibu hanya melakukannya agar aku bisa kembali ke perusahaan. Kalau tidak mana mungkin itu terjadi, Alisha saja yang memiliki latar belakang bagus ditolaknya. Batin Irsan.
Namun sejurus kemudian Cecilia terhenyak lalu menoleh ke arah Irsan dengan kedua manik yang membulat sempurna. "Gimana kalau setelah ibu tahu dan berfikir kemana mana itu justru menyuruh mu untuk segera menikahi aku?"
Lagi lagi tingkat kepercayaan diri yamg sangat tinggi itu muncul, "Gimana dong. Apa yang harus kita lakukan?"
"Memangnya kau berharap apa?"
"Hah?"
"Kau berharap aku menikahimu atau tidak?" Irsan jusyru balik bertanya.
"Kau tanya aku?"
Irsan mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya pada ruas jalan.
"Kau sendiri mau nikahin aku emangnya?"
"Aku yang bertanya padamu Cecilia?"
"Ya aku tanya kau juga lah! Enak aja, kalau aku bilang aku mau ... Kamu nikahin aku, kalau aku bilang gak mau. Berarti kau gak akan nikahin aku gitu? Gak punya insiatif sedikit aja, kenapa harus ngelakuin hal yang fi minta terus. Kali kali kau yang ambil keputusan dong. Aneh!" Tukas Cecilia dengan kesal menghempaskaan punggungnya pada seat mobil.
Namun justru Irsan kini yang terkekeh, "Memangnya aku bicara apa?"
"Tahu ih nyebelin banget, gak punya inisiatif."
"Menikah bukan hal mudah sayang, bukan pagi bicara sore menikah. Bukan seperti itu."
"Ada ... Temanku begitu, pulang sekolah langsung diajak nikah ke kantor catatan sipil. Tahu tahu nikah aja."
Irsan tergelak, "Ada yang seperti itu? Apa dia otak sumbu pendek?"
"Heh ... Otak sumbu pendek apanya?"
"Ya iya ... Apa dia tidak memikirkan keluarga pihak wanita? Apa dia tidak memikirkan kedepannya apalagi masih sekolah, kau fikir menikah itu main main?"
"Itu sih namanya gentle ... Bukan berarti dia gak mikirin keluarga wanita, toh apapun yang terjadi dia gak peduli, mau dikasih restu atau tidak ... Dia tetap nikahin sahabat aku itu. Kali kali kau harus ketemu sama dia biar kau belajar bagaimana caranya membuat wanitamu senang dan bahagia."
Irsan kembali terkekeh, "Apa temanmu itu senang setelah dari kantor catatan sipil tanpa orang yang tahu?"
Cecilia diam sejenak, untuk hal itu memang Agnia tida sebahagia pengantin lainnya yang menikah secara wajar, dia masih sekolah dan pernikahannya disembunyikan. Bahkan gosip gosip tidak mengenakkan saat itu membuat suasana sempat kacau.
"Ya jelas dia bahagia bisa dinikahi oleh pria sejati dan berani mengambil resiko!"
Ckiittt!
Irsan menginjak pedal rem dengan sangat kuat sampai mobil tiba tiba berhenti ditengah tengah dengan bunyi kanpas rem yang terdengar mencekit.
"Kau fikir aku tidak berani mengambil resiko itu Cecilia. Hah? Pria itu ... pria yang juga tiba tiba jadi guru disekolahmu hanya untuk mengejar sahabatmu itu?"
Cecilia mengangguk. "Kenapa kau jadi marah!"
"Berhenti membicarakan pria bodoh yang menikahi sahabatmu itu! Kau fikir apa yang aku lakukan selama ini? Hah." Sentaknya marah. "Jangan pernah samakan aku dengan pria lain apalagi dia. Bodoh dan tidak berfikir panjang!" sahutnya lagi dengan kembali melajukan kendaraannya.
Buat gue Zian gak bodoh, justru dia keren dan bikin iri jadi Nia. Niaa ... Aah gue jadi kangen lo. Sorry Nia, pacar gue yang satu ini emang aneh, gak kebayang kalau dia nanti ketemu laki lo. Cecilia membatin.
"Iya ... Iya, aku gak akan membicarakan dia yang keren itu lagi, aku lupa kalau kau ini pria paling beda," dengus Cecilia, "Tapi pria yang paling aku cinta juga." gumamnya kemudian.
Irsan menghela nafas, "Sudahlah ... Kau tidak akan mengerti! Aku hanya mengatakan kau harus lebih hati hati lagi dalam bicara dengan Ibuku. Kita tidak akan tahu apa yang akan Ibuku lakukan pada kita nanti!"
Mobil terus melaju, sampai berhenti di lampu merah.
"Aku fikir juga begitu! Ibu berpura pura baik padaku tadi!" lirih Cecilia, "Tapi juga keliatannya gak begitu jahat juga. Mungkin hanya masih perlu dikit lagi waktu."
Irsan terdiam sesaat, apa dia harus mengatakan nya atau tidak jika itu terjadi karena adanya kesepakatan.
"Cecilia!"
"Hm ... Kau bilang padaku kalau kau tidak suka dengan pengusaha atau pembisnis bukan?"
"Eeh ... Masih ingat ternyata,"
"Lalu bagaimana dengan bisnisku?"
"Bisnismu? Coffe shop maksudmu?"
"Hm!! Dan beberapa usaha lainnya!"
Cecilia terdiam. Sungguh, saat itu dia hanya asal bicara saja, baginya saat ini dia tidak peduli lagi asal oramg itu Irsan.
"Ibu menyuruhku untuk kembali ke perusahaan,"
"Masih maksa juga?"
"Ibu akan menerimamu asal aku kesana!"
"Hah? Kau serius. Dia membelikanku tas dan barang barang tadi hanya untuk agar kau kembali! Kenapa gak bilang dari awal. Kau fikir aku mau nerima semua itu karena ada embel embel dibelakangnya. Kamu gak mungkin mengerjakan dua pekerjaaan sekaligus seperti itu." Cecilia kesal dan kecewa, betapa tidak. Dia saja sudah mulai merasa kalau Embun itu bersikap baik padanya dan mulai menyayanginya.
"Aku akan mengatur waktuku Cecilia, kau tenang saja. Aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia dan juga nyaman berada di sisiku."
Cecilia menoleh padanya, baru kali ini dia menyesal karena terus membandingkan Irsan dengan Zian yang dia anggap paling keren karena melakukan banyak hal untuk Agnia, padahal Irsan melakukannya dengan sangat baik, memperlakukannya, menghormati keputusannya. Bukan asal bertindak tanpa perhitungan. Terlebih membuatnya merasa berharga.
"Sayang ... Maafkan aku!" Cecilia melingkarkan tangan pada lengan Irsan, "Aku ...."