
Irsan mengulas senyuman, melihat kecemburuan yang diperlihatkan oleh gadisnya yang tangguh, gadisnya yang kuat dan tidak takut apapun, sekaligus gadisnya yang membuat fikirannya terbuka. Bahwasanya kita tidak bisa hanya diam tanpa melakukan apa apa, dan menyerah begitu saja tanpa berjuang apalagi berusaha, seperti dirinya yang dulu.
"Apa senyum senyum?" ledek Cecilia saat melihat senyuman Irsan, "Maunya ya gitu?"
"Tidak Cecilia, justru aku sekarang bersyukur atas apa yang ibu lakukan dulu, kalau tidak. Mana mungkin aku bertemu denganmu." tukas Irsan yang terus melajukan kendaraannya.
Embun pun ikut tersenyum, melihat putranya yang terlihat bahagia, walaupun masih terlihat kaku namun saat ini tidak separah biasanya, wajahnya terus berseri seri, terlebih Irsan tidak lagi menyalahkan perbuatannya 2 tahun lalu yang membuat Alisa pergi.
"Aaahhh ... Sweet banget sih kamu!" Cecilia menggusel pipi Irsan dari belakang.
Membuat Embun tertawa melihat tingkah laku gadis berusia 20 tahun itu dan membuat Irsan yang kaku menjadi lebih santai.
"Cecilia?" suara lirih terdengar dari arah samping.
Gadis itu menoleh, dan melihat sang ibu yang sejak tadi tertidur kini sudah terbangun dan memanggil namanya.
"Ibu. Ibu baik baik aja kan?"
"Cecilia....?"
"Iya bu ... Ini aku, Cecilia."
"Cecilia putriku. Cecilia putri ibu?" tanyanya berulang ulang.
Cecilia mengangguk anggukkan kepalanya, "Iya ibu ... Ini aku, Cecilia ... Putri ibu. Sekarang ibu gak usah takut sama si bandot itu ya, dia udah pergi dan gak bakal gangguin Ibu lagi." sahut Cecilia memeluk sang Ibu, "Sekarang Ibu tinggal sama aku ya, kita akan ke rumah sakit dulu buat periksa Ibu ya."
"Dia sudah pergi? Dia pergi ninggalin Ibu dan kamu Nak, ayahmu pergi."
Irsan semakin yakin jika Ibu kandung dari Cecilia itu memang tengah depresi, entah separah apa Bastian memanipulasi dirinya, yang jelas saat ini dia benar benar butuh perawatan untuk psikisnya yang mungkin saja terganggu. Cecilia menatap nanar Ibunya yang melihatnya bak anak kecil, bahkan dia memeluk Cecilia dengan sangat erat.
"Putriku sudah pulang, kau pulang Nak. Ibu rindu ... Maafkan Ibu yang membiarkanmu hidup dalam kesulitan. Ibu sudah sangat berusaha, tapi Ibu masih belum bisa menjadi Ibu yang baik untukmu ya Nak." lirihnya dengan suara serak. berbeda dari sebelumnya yang lebih banyak diam.
"Ibu!" gimam Cecilia, betapa sakit hatinya saat melihat Ibu kandungnya menderita psikis sedemikian rupa sementara dirinya tidak tahu dan bahkan selama ini berfikir Ibunya hanya ingin hidup dengan Bastian dan tidak mau meninggalkannya begitu saja, ternyata pria itu pintar memanifuĺasi.
Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Carl yang sudah lebih dulu sampai sudah menyiapkan semuanya dengan baik, hingga Ibu Cecilia dengan cepat bisa di tangani oleh Dokter yang berkompeten dalam bidang kejiwaan, begitu juga Cecilia, dia sebagai anak kandung dan juga tahu sedikitnya ilmu psikologi, terlebih pasien itu adalah ibunya sendiri.
Irsan tidak juga beranjak dari tempatnya, begitu juga Embun yang sama sama menunggu hasil pemeriksaan apapun itu. Kejadian ini juga membuat Irsan menunda keberangkatannya ke negara singapure, masalah bisnis di perusahaannya yang sudah jelas menunggunya, namun juga dia tidak bisa meninggalkan masalah serius ini begitu saja.
Cukup lama mereka menunggu, namun tidak ada juga seseorang yang keluar dari ruangan pemeriksaan itu,
"Ibu ... Pulanglah lebih dulu. Ini akan membutuhkan waktu yang lama, pulang dan istirahatlah." tukasnya pada Embun.
"Tapi Nak ...."
Irsan yang sudah lebih dulu bangkit kembali menoleh, "Ibu jaga kesehatan, aku tidak mau semua orang tua ku sakit! Pulanglah dan tunggu kabar dari ku atau pun Carl." ucapnya lagi dengan mengecup kening Embun.
Embun terkesiap, pertama kalinya dalam beberapa waktu yang telah berlalu dalam kesalah fahaman, Irsan memperlakukannya dengan baik, bahkan dia menciumnya dengan lembut.
Carl mengangguk ke arahnya. "Ayo Tante, putramu benar, jangan sampai tante juga lelah dan sakit."
Setelah mengantar Embun pulang, Carl kembali ke rumah sakit, dia menjadi orang yang paling membantu Irsan, terlebih Irsan sudah harus pergi ke singapure.
"Pergilah lebih dulu Carl, katakan pada Zian kalau aku akan pergi menyusul setelah semua urusanku di sini selesai." ucapnya pada Carl setelah dia masuk dan memilih menunggu hasilnya dari sebuah ruangan yang berada di sisi ruangan observasi, dia juga bisa melihat dengan jelas bagaimana Dokter kejiwaan memeriksa ibu dari kekasihnya itu.
Carl menggelengkan kepalanya, "Mana bisa, perusahaan membutuhkanmu ... Bukan aku, aku akan minta reschedule saja."
"Baiklah kalau begitu!"
Tak lama kemudian Cecilia keluar dari ruangan observasi, di ikuti oleh dokter ahli kejiwaan yang menangani Ibunya. Rasa lelah dan khawatir bercampur dengan jelas di wajahnya, Irsan dengan cepat merengkuh kedua pundaknya lalu memeluknya.
"Semua akan baik baik saja. Tidak usah khawatir."
Cecilia mengangguk, semakin sadar seberapa penting Irsan untuknya, pria itu tetap menemaninya, bahkan menenangkannya.
"Makasih! Tapi urusanmu jadi tertunda gara gara aku." Sahut Cecilia yang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Irsan.
"Tidak apa apa, Carl sudah meminta jadwal pemberangkatan dan urusanku di sana di mundurkan."
"Tapi kan...."
"Sudah aku bilang tidak apa apa, lagi pula meeting disana juga bersama temanku, jadi dia pasti akan mengerti." terang Irsan lagi.
"Makasih ... Aku gak tahu kalau gak ada kamu." Cecilia semakin merekatkan pelukannya pada Irsan.
"Yang penting kondisi Ibumu. Hm."
"Benar dugaaanmu, ibuku mengalami depresi karena terus mendapatkan perlakukan buruk dari manusia produk gagal itu, setiap hari dia dibentak bentak dan dimarahi, dan dipaksa nya kerja. Uang yang aku kirimkan pun selalu dia ambil." dengusnya saat kembali mengingat bagaimana Bastian memperlakukan Ibunya dengan buruk.
"Aku mengerti, dengan obat dan terapi, Ibumu pasti akan kembali sehat. Sekarang kau juga harus istirahat." Irsan membawa Cecilia ke ruangannya agar bisa istirahat walau hanya sebentar.
"Aku sampai lupa kalau Nita masih belum ngabarin aku sampe sekarang," lirihnya dengan raut wajah yang sama khawatirnya.
"Kau tenang saja, jangan terlalu memikirkannya. Yang penting sekarang kau harus istirahat, besok kita cari juga Nita sama sama."
Cecilia mengangguk lagi, bagaimana bisa dia beristirahat saat orang orang terdekatnya memiliki masalah dan dia tidak bisa apa apa. Baru kali ini Cecilia merasa dirinya lemah dan sangat bergantung pada Irsan.
Beruntung memiliki pria yang mengerti dan mau menerima keadaannya, begitu pun dengan keadaan keluarganya bahkan sampai sekarang terus menemaninya, berkorban untuknya pula.
Irsan meraih dagu Cecilia yang sejak tadi di tekuknya, hingga menengadah kearahnya.
"Jangan khawatirkan apapun lagi, kamu sekarang memiliki aku yang bisa kau andalkan dalam segala hal."
.
.
Kayaknya Cecelover lagi pada liburankah, senang senangkah sampe lupa dunia Cece dan doksay? Wkwkw ... Selamat berlibur semua.
Btw .... Hello, like dan komen makin sepi aja ya. wkwk makasih buat yang masih setia ngikutin kisah mereka, gak bosen nunggu dan gak bosen kasih dukungan. Lope lope badag buat kalian (Kechup basyah)
Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih