
"Hubby ... ada apa?"
Zian menoleh ke arah istrinya, "Bisakah kau pegang Biru sebentar saja? Ada masalah yang harus aku urus."
Agnia mengangguk, mengambil putranya walaupun anak kecil itu terus merengek tidak mau jauh dari sang Daddy.
"Ada apa Nia?"
"Gue juga gak tahu Ce, biasalah masalah kerjaannya dia mungkin." Agnia kembali duduk disamping sahabatnya. "Oh ya ... Nita mana?" tanyanya lagi.
Seketika Cecilia menekuk wajahnya. "Ahk ... Gue hampir lupa,"
Gadis itu mengatakan semua hal pada sahabatnya dengan rinci. Mulai dia yang jadi Asisten Dosen karena bantuan Nita, bertemu pria baik juga karenanya, mengejarnya sampai dapat. Tidak lupa soal Dirga yang masuk penjara dan akhirnya mendapat keringanan hukuman, Dirga yang masuk rehabilitasi dan soal Reno juga, termasuk tante Irene tidak luput dia ceritakan. Agnia terbeliak sempurna mendengar semua kisah kedua sahabatnya, walau nama Irsan dan profesinya sebagai Dokter dan Carl tidak tercetus dari bibir Cecilia. Gadis itu juga menceritakan kesalah fahaman yang terjadi diantara mereka, keberatan soal kedekatannya dengan seorang pria yang merupakan player dan riwayat Nita di masa lalu. Sampai Biru terlelap dalam gendongan sang Ibu muda saking lamanya mereka bicara. Hampir dua jam berlalu dengan menceritakan kisah kisah yang dilalui kedua sahabatnya, sampai mereka tidak sadar jika Zian pergi begitu saja.
"Baby ... Kau tunggu di sini oke."
Namun Agnia tidak mendengarnya dengan jelas, terlalu seru obrolannya dengan Cecilia, Zian pergi entah kemana dan meninggalkan keduanya yang tetap di rumah sakit.
"Jadi sampe hari ini lo gak tahu Nita kemana?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Nomornya gak bisa gue hubungi. Coba lo yang hubungi dia."
"Oke ... Biar gue coba. Tapi sebaiknya kita pindah tempat gak sih, gue laper ... Lo juga belom makan kan." Agnia bangkit dari duduknya, mengajak Cecilia untuk menyebrang dan masuk kedalam restoran. Jaraknya cukup dekat hingga keduanya hanya berjalan kaki saja.
"Suami lo gak bakal marah. Bukannya dia suruh lo nunggu?"
"Gue laper Ce ... Dia juga ngerti kok. Apalagi gue masih nyusuin nih anak."
Cecilia terkekeh, "Gak cuma anaknya aja kan ... Bapaknya juga."
"Sialan lo ... Gak sembuh sembuh tuh otak."
Keduanya kembali tertawa, sampai ditempat duduk memesan makanan.
"Astaga ... Kebiasaan deh!"
Jujur Cecilia iri melihatnya, kapan Irsan melakukan hal seperti itu padanya, membayangkannya saja rasanya tidak mampu, Pasti akan hujan angin dan petir menyambar di mana mana kalau Irsan melakukan hal kayak gitu.
"Bisa gak sih kalian!" decaknya kesal, "Kalau mau romantis romantisan mending di rumah aja deh!" gerutunya lagi.
"Lah ... Lo bilang kan lo udah punya pacar keren, kenapa masih iri aja sih."
Zian mengulas senyuman, "Yang jelas, mungkin pacarnya tidak sekeren aku Baby."
"Hubby!" Agnia membulatkan kedua mata ke arah suaminya. "Jangan asal deh! Pacarnya Dokter tahu."
"Benarkah? Selamat Cecilia, tapi hati hati mungkin nanti mata Doktermu itu akan sembuh nantinya!" Ucapnya lagi asal.
Agnia memukul lengan Zian, "Jangan ngaco deh!"
Cecilia mendengus, "Laki lo ngeselin sumpah, mentang mentang keren. Lihat nanti pacarku. Dia emang gak sekeren laki lo, tapi dia cool banget."
"Udah sih gak usah di tanggepin!"
Sementara ditempat lain, Irsan yang baru saja take off dan masih berada dibandara internasional Singapure uring uringan karena ternyata Zian sudah lebih dulu kembali ke Indonesia untuk menemuinya, dan Carl tidak mengatakan soal hal itu. Marah dan kesal bercampur jadi satu, pria itu terus menghubungi Carl dengan sejuta umpatan dan cacian yang siap melayang.
Namun entah keseberapa puluh kali dia menghubungi Carl, nyatanya nomor Carl tidak aktif bahkan diluar jangkauan.
"Sialan. Brengsekk! Kurang ajar kau Carl ... Bedebahh!" Umpat Irsan terus menerus.
Sampai dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan menggunakan penerbangan malam. Terlihat wajahnya menyeramkan dengan rahang tegas, kedua maniknya pun setajam elang yang siap menyergap mangsa. Dongkol dan tentu saja murka.
"Kau lihat saja Carl. Ku pastikan kau menyesal!"