I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.186(Carl!)



Sementara Irsan menyusul Carl yang duduk di sofa yang berada di lobby apartemen, kursi yang menghadap taman kecil yang berada di ujung dengan air mancur di tengah-tengahnya. Irsan menghampiri Carl yang tengah bermain ponsel, dia menghempaskan tubuhnya dihadapannya dengan menopang kaki.


Trak!


Pria Jangkung itu melemparkan kunci mobil ke atas meja, membuat Carl yang masih tertunduk pada benda pipih ditangannya tersentak kaget,


"Aku dan Cecilia tidak bisa menerimanya! Kau simpan saja sendiri."


Carl mengernyit, menatap kunci mobil yang tergeletak di meja. "Kenapa. Kenapa kau tidak mau menerimanya?"


"Aku dan kekasihku sudah memiliki mobil. Jadi untuk apa punya banyak mobil?"


Carl berdecih mendengar jawaban sahabatnya itu. "Kau selalu berbeda dari yang lain. Kau memang Irsan, Dokter yang jujur dan berwibawa, hidup dengan segala aturan dan hukum yang berlaku sampai kau berpikir negatif dan pasti menuduhku yang bukan bukan. Benar begitu?"


"Katakan saja yang sejujurnya, tidak usah banyak bicara Carl, dari kemarin kau membuatku pusing!"


Carl tertawa, "Duduklah lebih dulu."


Irsan pun kemudian duduk, dengan menopang kedua sikut di atas paha dan menatapnya dengan tajam. Wajahnya sangat serius dengan raut yang menakutkan. "Katakan dan tidak usah basa-basi lagi. Mobil itu pasti dari ibu. Kau tidak mungkin memberiku hadiah tiba tiba seperti ini, kau saja tidak pernah ingat hari ulang tahun ku sejak dulu Carl!"


Carl tertawa lagi, itu memang benar, "Kau ini selalu saja sentimen padaku, kau fikir aku apa jika harus mengingat ulang tahunmu, kau pria aku pun pria normal. Aku hanya akan mengingat segalanya jika itu tentang wanita."


Irsan berdecak, "Sudahlah! Cepat katakan, aku harus ke rumah sakit."


"Oke oke ... Kau bisa sabar sebentar kan, aku sedang menghandle proyek besar."


Irsan menendang sepatu yang di kenakan Carl. "Cepatlah sedikit! Kau hanya buang buang waktu ku saja."


"Tenang saja, andai kata ada seorang ibu hamil yang akan melahirkan pun tidak akan menyusahkanmu kan?" Ujarnya lagi dengan terkekeh.


Sementara Irsan memejamkan matanya dengan kesal karena sejak semalam dia dibuat marah olehnya. Melihat raut wajahnya yang semakin menakutkan. Carl akhirnya menyimpan ponselnya ke dalam saku jas yang dikenakannya. Lalu dengan serius menatap Irsan.


"Kesepakatan yang telah aku buat dengan ibumu adalah mengembalikan mu ke perusahaan!"


Irsan jelas terhenyak. "Brengsekk! Kau melakukan hal seperti itu hah? Kau melakukannya tanpa sepengetahuanku. Keterlaluan." Sentak Irsan penuh emosi.


Carl jelas tertawa. "Karena itulah satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu, menyelamatkan gadismu dan menyelamatkan hubungan kalian, mudah bukan?"


"Diam kau!"


"Kau hanya perlu datang ke kantor, tidak bekerja tidak apa, yang jelas ibumu tahu kalau kau bersedia kembali."


Irsan terdiam, dia mulai mengerti semua yang diucapkan sahabatnya dari kemarin. Membuatnya kembali bekerja agar ibunya bisa lebih baik dan menerima semuanya.


"Bagaimana. Bukankah itu jadi bagus untuk saat ini? Kau hanya perlu datang di waktu senggang saja, di waktu rumah sakit kosong, di waktu tidak ada pasien dan di waktu kau bosan. Kau boleh datang sesuka hatimu. Ibumu hanya mau kau kembali ke sana, tanpa memintamu melakukan banyak pekerjaan."


"Ya dan aku akan bekerja di dua tempat begitu?"


"Tentu saja. Tapi kau bosnya. Kau bisa mengatur waktu sesuka hatimu. Kau tinggal menyuruh orang saja."


"Kau berani main main denganku Carl."


"No ... aku tidak main-main, aku memikirkan ini sejak lama, bahkan aku sudah berkonsultasi dengan sahabat kita dan dia setuju."


"Tidak ... Itu benar, Kau boleh tanya sendiri orangnya nanti, dia juga setuju dengan apa yang aku lakukan. Aku mendapat dukungan besar untuk hal ini. Ya walaupun aku harus mendapatkan luka luka ini." Kata Carl dengan menyentuh pelipisnya yang kini tertutup plester luka.


"Mereka siapa? Jangan mengada ngada dengan mencari dukungan. Katakan saja kalau kau ingin terbebas dari semua pekerjaanmu."


Carl tertawa lagi. "Memang tidak mudah membohongimu. Tentu saja itu salah satunya, aku ingin sedikit menghirup udara bebas, pekerjaanku sangat banyak di sana. Terlebih aku harus bolak-balik Singapura. Aku juga ingin bersenang-senang, aku ingin berkencan sepertimu, menemukan wanita dan menemukan cinta yang sudah lama aku inginkan. Hidup sendiri itu payah." Carl menghembuskan nafas." Huuhh!"


"Banyak bicara! Kau hanya main main dengan mereka, mana ada keseriusan dihidupmu. Memberikan harapan harapan palsu saja."


"Aku ini hanya berkelana Irsan, aku belum menemukan cinta sejati sepertimu. Mereka hanya persinggahan sementara."


Irsan mendengus, lalu memijit pelipisnya yang berdenyut. Apa yang dilakukan Carl memang tidaklah semua salah, jika untuk kebahagiaan Cecilia, jelas dia akan melalukan apapun.


Melihat sahabatnya termangu dengan kepala tertunduk, Carl menyodorkan beberapa lembar kertas. "Kau baca ini."


Flashback On


Carl yang memang mengetahui seluk beluk mengenai Cecilia memutuskan pergi ke unit yang ditempati Embun. Membuat Toni diberhentikan oleh Embun namun dia merekrutnya dibelakang sepengetahuan Embun.


Dia sengaja memberikan semua laporan mengenai Cecilia pada Embun, dia juga menyuruh Ines untuk pergi agar tidak perlu banyak orang yang terlibat. Irsan dan ibunya cukup lama memiliki hubungan yang rumit, sikap Irsan yang selalu menolak kembali ke perusahaan adalah pemicu utama yang membuat Embun semakin jengkel, walau caranya tidaklah tepat, keputusannya untuk ikut campur masalah keluarga Irsan agar semua masalah itu selesai.


Brak!


Embun melemparkan semua laporan darinya ke lantai.


"Kurang ajar! Jadi dia seorang pelacuur? Aku tidak akan sudi untuk menerimanya apalagi melihatnya di sini. Kau suruh Irsan menjauh darinya Carl."


"Apa Tante ingin Irsan kembali ke perusahaan?"


"Tentu saja! Dia satu satunya putraku, kalau bukan dia siapa lagi."


"Kalau begitu terima semua keputusan dan pilihannya, termasuk soal gadis ini! Tante pasti sangat tahu apa yang Irsan sudah lakukan selama ini untuknya, dia tidak akan menolak lagi masuk ke perusahaan jika Tante bersikap baik dan menerima gadis pilihannya." terang Carl dengan sangat jelas.


Awalnya Embun terbeliak mendengar usul dari Carl, dia bahkan tidak sampai berfikir ke arah sana apalagi saat ini mengetahui semua tentang seluk beluk Cecilia.


"Tante lihat saja, aku akan pastikan semuanya berjalan sesuai dengan harapan Tante."


"Kau gila Carl! Mana mau aku melakukannya."


"Kalau begitu, buktikan sendiri Tante, katakan padanya kalau Tante sudah tahu semuanya. Maka Tante akan tahu bagaimana sikap Irsan. Dan kedepannya? Tante pasti sudah bisa menduganya ... Hubungan Tante akan semakin jauh, karena bagaimanapun juga seorang pria bisa menikah tanpa sepengetahuan keluarganya. Pilihaan ada pada Tante sendiri. Mengikuti saranku atau semuanya hancur. Jangan harap Irsan akan menganggap Tante sebagai ibu lagi."


Carl jelas mengancamnya dengan sangat halus, menakuti Embun yang hanya memiliki satu tujuan. Yaitu membuat putranya kembali.


"Aku tidak sudi melakukannya!"


"Terserah Tante!"


.


.


Nah nah kerjaan siapa hayoooo.... Wkwkw 3 bab hari ini, lanjut besok ya Cecelover. Jangan lupa kasih dukungan sebanyak banyaknya buat Cece dan tiang liatrik yang udah melehoy.