I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 204(Jangan larang gue!)



Cecilia bangkit dan segera mengejar Nita yang sudah keluar dari kantin, dia mencekal tangan sahabatnya itu.


"Nit ... Please, jangan marah sama gue! Maafin gue."


"Gue pasti maafin lo ... Tapi sorry Ce, lo gak bisa seenaknya larang larang gue buat suka sama Carl, gue bakal ngejar dia kayak lo ngejar Irsan."


Cecilia tersentak dengan membulatkan kedua manik hitamnya, lagi lagi Nita tidak peduli ucapannya. "Nit ...!"lirihnya.


"Apa lagi!" sentaknya, "Apa karena mereka beda? Bedanya apa sama lo ketemu Irsan yang masih ting ting, gue harus nyari yang kayak gitu juga?"


"Lo gak ngerti juga sama omongan gue Nit, gue cuma takut lo kena batunya kalau sama dia, dia player dan lo gak ada apa apanya buat dia. Gue gak mau lo kena masalah nantinya."


"Udahlah Ce, dari kemaren yang lo omongin cuma itu itu aja. Lo maunya apa sih! Gue gak bego bego amat yaa, lo harusnya dukung gue." Nita menepiskan tangan Cecilia dan kembali berlalu.


Cecilia terpaku dengan sikap Nita, dia menghela nafas dengan menatap pinggung sahabatnya yang masuk kedalam kelas. Tidak ingin menyerah begitu saja ia berjalan menyusulnya, namun Nita ternyata hanya masuk untuk mengambil barangnya dan kembali keluar.


"Nit ... Lo mau kemana? Kita bisa ngomong baik baik!" kata Cecilia yang berpapasan dengannya di pintu masuk.


"Kali ini kayaknya gak bisa, lo gak bisa ngerti gue, dari kemaren gue udah bilang sama lo gue gak ada hubungan apa apa sama Carl, tapi hari ini gue putusin buat ngejar dia. Terserah lo mau dukung atau enggak! Lagian lo kenapa sih segitunya ngelarang gue! Gue bisa jaga diri gue kok." Nita melengos pergi,


"Nit. Materi udah mau gue mulai, jangan pergi!"


"Terserah gue!" Nita melengos pergi tanpa menoleh lagi, dia benar benar kesal pada Cecilia kali ini yang tidak mau mendukungnya.


Padahal gue selalu dukung dan bantu lo, tapi lo gak ngelakuin hal yang sama ke gue Ce. Gue kecewa, gue aja belum ngelakuin apa apa buat deket sama Carl. Tapi sikap lo bikin gue eneuk. Batin Nita yang langsung kedalam mobil miliknya.


Lagi lagi Cecilia hanya bisa menghela nafas melihat reaksi Nita sahabatnya, padahal dia hanya tidak ing8n Nita terlibat masalah seperti dirinya saat masih bersama Reno, belum lagi karena Carl seorang cassanova dengan track yang cukup mengagetkan. Dia senang bermain main dengan wanita, maupun istri orang, dengan motto hidup yang terbilang aneh. Penyayang wanita.


Sementara Nita? Ah ... Sudahlah, dia bukan apa apa dibandingkan Carl. Dan Cecilia tidak ingin terjadi hal buruk pada Nita.


Gadis itu pun membiarkan sahabatnya pergi dari kampus, dia sendiri masuk ke dalam karena kelas kuliahnya akan dimulai. Walaupun dengan perasaan tidak karuan, dia tetap menjalankan tugasnya sebaik mungkin.


Namun tidak ada lagi celotehan dari Nita yang seperti sebelumnya, yang menyorakinya dan memberi semangat juga kerap mencibirnya dengan candaan.


Nit ... Gue gak nyangka kita bakalan ada masalah kayak gini, selama ini kita selalu hadapi masalah apapun bersama, gue kenal dan deket sama lo bukan hanya setahun dua tahun aja, gue lebih tahu lo dibandingin siapapun. Gue harap lo ngerti maksud gue. Cecilia membatin, konsentrasinya terpecah karena nyatanya tidak mudah meminta maaf dan membuat Nita mengerti kenapa dia melakukan hal ini dan melarangnya dekat dengan Carl.


"Ce ... Woi! Malah bengong lo." seru seseorang dari kursi paling depan, saat melihat Cecilia yang hanya berdiri dalam diam.


"Sorry sorry ...!"


"Kalian salin aja ini, gue udah rangkum. Kalau masih sangsi, kalian bisa bikin essai sendiri biar nanti gue periksa!" Cecilia buru buru membereskan barang barangnya, demi apapun. Dia tidak tenang karena memikirkan Nita.


"Terus lo mau kemana?"


"Semua materi ada di situ, gue cabut duluan!" sahutnya lagi.


"Eeh gimana sih lo! Terus nanti kalau Mr. Harsa tanya materi ini? Yang terakhir kan belum lo jelasin."


"Tenang aja, nilai kalian gue jamin aman semua, tapi jangan ngomong kalau gue pergi!" Cecilia masih sibuk memasukkan barangnya ke dalam tas.


Cecilia mengangguk, terserahlah apa yang dikatakan Dosennya nanti, yang pasti urusan Nita terselesaikan dan kesalah fahaman mereka juga selesai.


Setelah itu dia buru buru pergi, beruntung jam perkuliahan hari ini hanya tersisa setengah jam saja, jadi dia tidak perlu khawatir jika pergi saat itu juga. Teman temannya yang lain tentu saja senang, Materipun tersampaikan walaupun mereka harus menyalin semuanya tanpa arahan dari yang namanya Asisten Dosen dan nilai mereka nanti juga sudah dipastikan aman.


Cecilia berlari ke ruang Dosen, mencari sosok yang familiar baginya. Sang Daddy killer. Begitu dia menyebut Dosen yang selama ini menjadi teman kencan sahabatnya.


"Pak Andika ada?" tanyanya saat seorang office boys keluar dari ruangan tersebut.


"Gak ada! Tadi sih gue lihat ada, " jawabnya sembari menggelengkan kepala.


"Yang bener yang mana, ada atau gak ada?"


"Ya lo lihat aja kesana sendiri kalau lo gak yakin sama gue!" jawab pria yang terlihat seumuran dengannya dengan melengos pergi.


"Yeee ... Udah sewot nyolot lagi lo!" Cecilia menolehkan kepala pada orang yang sudah berlaku pergi itu.


Setelahnya dia baru memberanikan diri untuk masuk dan mencari sendiri. Namun orang yang dia cari ternyata tidak ada, hingga dia kembali keluar.


"Sialan tuh OB ... Bilang gak ada tapi gak yakin, kalau dia gak lihat ya gak lihat aja. Anjim banget tuh orang," gerutu pada orang yang bahkan tidak dia kenal.


Akhirnya Cecilia merogoh ponsel, cara satu satunya yaitu bertanya pada Sila.


"Sila pasti tahu kalau si Nita ada maen sama Carl atau enggak, atau mungkin si Carl suka dateng ke apartemen." gumamnya sendiri saat mendial nomor ponsel Sila.


'Sil ... Lo tahu Nita kemana gak hari ini?' Sambarnya setelah nada dering berhenti dan sambungan telepon baru saja terhubung.


'Ke kampus kan, kenapa sih Kak. Ngagetin aja, gue lagi di sekolah nih.'


'Ya gue tahu lo disekolah, tapi lo tahu gak kemana si Nita hari ini, dia cabut dari kampus. Lo tahu gak dia ada janji gak hari ini?' tanyanya dengan terburu buru.


Sila yang ikut panik justru tidak bisa berfikir cepat, 'Ya gue gak tahu kak! Orang dia gak pernah kasih tahu rutinitas dia sama gue,'


'Tapi lo tahu gak kalau ada yang dateng ke situ, siapa misalnya, cowok kek cewek kek.'


Sila terdiam sesaat, lalu kembali mengatakan apa yang dia tahu saja namun mampu membuat Cecilia berfikir dengan keras.


"Ada sih Om Om yang suka kesini!'


.


.


Wkwkwk ... Hayolo Ce, lo udah gak pusing mikirin tuh gardu listrik tapi lo sekarang di buat pusing sama kelakuan Nita yang belum jelas.


Oh iya ... Cerita Nita udah ada btw ... nanti othor spill di sini, hihihi, sekarang di umpetin dulu.