
"Cecilia. Anak kurang ajar. Kembalikan uangku!" Teriak Baskoro sambil berlari mengejar seorang anak kecil berusia 5 tahun dengan memegang sapu di tangannya. Pria itu melemparkan sapu tepat ke arahnya, membuat gadis itu terjerembab jatuh saking kerasnya sapu mengenai punggungnya yang kecil.
Brug!
Gadis kecil itu terjatuh, dengan lutut dan tangan berdarah, seketika dia menangis namun tetap berusaha bangkit berdiri.
"Anak setan! Kau berani mencuri uangku. Hah!" seru Baskoro dengan menarik lengannya kasar, "Matilah kau!" ujarnya lagi dengan menggusur tubuh kecil Cecilia dan membawanya masuk ke rumah.
Brak!
Tubuh kecil Cecilia dia hempaskan begitu saja, hingga kepalanya mengenai ujung meja. Tangisan Cecilia semakin kencang, uang milik ibunya yang dia rampas dari tangan ayah tirinya terlempar begitu saja.
Baskoro mengambil uang itu, terkekeh namun juga sempat menendang kaki Cecilia dengan keras.
"Itu uang ibu ... Itu uang ibu!" teriaknya dengan lemah.
Tidak ada yang bisa dia lakukan, tubuh kecil dan secuil keberanian tidak berarti apa apa saat itu.
Gadis kecil yang dipaksa dewasa dan dipaksa untuk mengerti keadaan walau usianya tidak lah patut untuk menerima semuanya. Sang ibu yang bekerja keras dengan hasil yang sia sia karena kerap dipaksa menyerahkan uangnya pada suaminya itu.
Lagi lagi wanita yang dia sebut ibu itu diam tanpa bisa menolongnya. Saat tangan kekar dan bertenaga menyiksa tubuh kecilnya. Wanita itu hanya menyuruhnya untuk diam, jangan melawan apalagi membantah.
Teriakan teriakan kesakitan darinya, suara kecil lirih meminta pertolongannya nya bahkan tidak mampu membuatnya bergerak. Wanita yang melahirkannya itu hanya bisa diam berderai air mata.
Bertahun tahun mengalami kekerasaan dari sang ayah tiri yang seharusnya meneruskan perjuangan sang ayah yang telah terputus baginya. Alih alih mendapat kasih sayang dan perlindungan, Cecilia kecil kerap menangis sampai rasanya dia lelah dengan air matanya sendiri, dan menjadikannya gadis kecil yang tumbuh dengan sangat keras.
Hingga suatu malam yang teramat kelam baginya terjadi. Sang ayah tiri yang di pangaruhi oleh minuman alkohol itu mendobrak pintu kamarnya.
Brak!
Membuatnya kaget bukan kepalang, Cecilia yang saat itu baru menginjak usia 10 tahun harus menerima pelecehan seksuaal dari sang ayah. Mahkota kecil yang seharusnya terlindungi dengan baik hampir saja terkoyak. Namun beruntung, karena ibunya datang tepat waktu.
"Kau sudah gila!" Teriak ibunya saat itu, sedangkan Cecilia hanya bisa menangis dengan tubuh yang bergetar hebat. Kebingungan melanda fikiran gadis kecil yang tidak mengerti apa apa itu.
Bhug!
Satu botol minuman pecah berserakan dilantai kamar, darah mengucur deras dari kepala sang ibu.
"Rasakan! Kau ... Dan kau! Wanita wanita brengsekk," teriak Baskoro dengan menyambar kaos yang tergeletak di lantai lalu keluar dari kamar dengan tertawa.
Wanit yang di panggil ibu itu memangil namanya dengan lirih, lalu tersenyum.
"Kamu gak apa apa kan?"
"Ibu... Ibu!" panggilnya.
"Ibu gak apa apa, ini luka kecil. Ibu bisa tahan, asal kamu gak apa apa Cecilia."
"Ibu ayo kita pergi! Kita pergi kemana aja bu, asal ayah gak ngelukain ibu dan aku lagi." lirihnya dengan berani.
Namun jawaban ibunya membuatnya kecewa, alih alih pergi jauh justru dia memilih bertahan dengan keadaan itu. Sia sia. Itulah arti perlawanan gadis kecil tanpa daya dan upaya saat ibu yang dia bela justru membiarkan pria yang menikahinya itu terus semena mena pada mereka berdua.
Hingga keberanian itu datang setelah Cecilia menginjak usia 14 tahun, kemarahan yang tidak lagi bisa dia bendung menghasilkan kenekatan hingga dia berani keluar dari rumah tanpa uang seperserpun. Hidup luntang lantung tanpa tujuan, mengais rejeki hanya untuk sekedar makan. Tidak hanya mengamen, meminta minta saja dia pernah lakukan saat itu.
Sudah terbiasa hidup dengan ucapan ucapan kasar dan cemoohan sang Ayah tiri membuat air matanya nyaris kering, hingga hampir tidak lagi mengeluarkan air mata kesedihan. Sampai malam ini, saat semuanya nyaris kembali terulang.
"Cecilia!"
Suara bariton terdengar lirih dari arah belakang, membuatnya terdiam sejenak lalu menoleh. Pria jangkung berusia 40 tahun itu menatapnya sendu.
"Aku mencarimu kemana mana. Ternyata kau disini. Kau menangisi apa. Hm?" tanyanya dengan melangkah semakin mendekatinya.
"Bukankah kau seharusnya tidur?"
"Aku gak bisa tidur, jadi aku naik kesini dan mencari udara segar." jawabnya dengan masih terisak. "Aku nangis karena kelilipan." jawabnya lagi dengan kekehan yang dia paksakan.
"Kau selalu mengatakan kalau kau ini gadis kuat dan pemberani, kau bahkan nyaris tidak pernah aku lihat menangis, dan malam ini kau menangis karena matamu kelilipan?" Tanya Irsan yang entah harus mengatakan apa saat melihat gadisnya itu dan mengingat pula ucapan ibunya.
"Masa aku gak boleh nangis! Kau sendiri dari mana? Aku mencarimu tadi, tapi kau tidak ada. Apa kau menemui ibumu?" tanyanya berpura pura tidak tahu saja.
"Hm ... Tapi ibu sudah tidur! Aku tidak tega membangunkannya, jadi aku kembali menemuimu tapi kau tidak ada." jawabnya berbohong, sumpah demi apapun, saat ini dia tidak ingin mengatakan apa yang telah terjadi antara dia dan juga ibunya.
"Oh! Ya udah besok juga masih bisa ketemu kan!"
"Ayo kita kembali, bukankah kau harus kuliah besok pagi?"
Cecilia yang berhasil mengeringkan air matanya kini mengangguk, "Hm ... Aku harus belajar!"
"Apa aku perlu memeriksa mataku yang kelilipan itu?" ujarnya mengulurkan tangan kekar ke arahnya.
Cecilia menyambut tangan berurat kekar itu dan menggengamkan tangannya yang kecil. "Gak usah ... Udah gak perih kok! Angin sialan tuh tadi, tahu aja kalau mataku ini sensitif."
Irsan mengangguk, membawa Cecilia keluar dari roof top dan masuk ke dalam lift untuk kembali turun. Tidak ada percakapan di antara keduanya, saling berdiam diri dan membisu. Sibuk dengan fikirannya masing masing, namun genggaman tangan keduanya semakin erat saja. Sampai keduanya tiba di apartemen milik Ines.
"Pergilah tidur di unit ibumu."
"Kau tidak ingin aku temani?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Aku harus belajar, banyak tugas. Ingat kan kalau aku ini sekarang asisten Dosen? Kalau ada kamu yang ada nanti aku gak bisa konsentrasi."
Irsan berkacak pinggang dengan terus berusaha tegar, "Kau fikir aku akan mengganggu?"
"Bukan kau yang mengganggu! Tapi aku yang akan terus mengganggumu. Udah sana pergi! Biar kalau pagi pagi ibumu bangun dan lihat kamu, dia akan senang hati." ujar Cecilia dengan terus mendorong punggung Irsan agar tidak ikut masuk.
"Kau yakin?"
"Ya yakin lah, kau meremehkan aku ... Aku ini Cecilia!"
.
.
Masih aja sombong lo Ce ... Othor belum puas nih bikin nangis lo Ce ... Wkwk tahu rasa kan lo, nangis lah yang kenceng. Hihihi. Jangan lupa like dan komen ya Cecelover.