
"Apa maksudmu?"
"Tunggu aja, mungkin sebentar lagi Kak Ines bakal lihat di sosial media." ujar Cecilia dengan kedua alis yang turun naik.
Irsan terbeliak mendengarnya, dia saja tidak sadar akan hal itu. Terlebih kejadiannya berada di kafe yang tengah ramai karena ada jumpa fans seorang artis, ditambah pada saat itu banyak sekali orang yang mengambil video dan juga foto yang sudah tentu akan diupload ramai ramai di sosial media.
"Ayo pergi!" Irsan menarik tangan Cecilia dan membawanya keluar dari unit milik Ines.
"Kau fikir itu akan membuat Ines lebih baik?" sentaknya keras.
"Iyalah, kau fikir ada yang berbohong demi kebaikan. Gak ada sayang. Dengan gitu, Ines bakal berhenti berharap sama pria brengsekk itu." jawab Cecilia dengan tegas. "Lagian ya, kau harusnya bilang yang sebenarnya aja,"
Irsan dan Cecilia berjalan kembali ke unit milik Cecilia, memastikan Cecilia menekan password pintu dan masuk ke dalamnya. Namun Cecilia justru menarik tangan Irsan agar dia juga masuk bersamanya.
"Kau mau apa. Jangan macam macam Cecilia. Kau tahu kalau aku tidak bisa menahan diri kalau kau selalu menggodaku." terang Irsan.
Cecilia terkekeh dengan menutup mulutnya, "Sayang, aku cuma mau lihat punggungmu aja."
"Aku tidak apa apa Cecilia."
"Please deh, udah jelas jelas kau itu kesakitan saat dipukul oleh si brengsekk Satya, aku cuma mau liat, gimana kalau parah, berdarah atau tulang patah."
"Tidak apa apa Cecilia, aku seorang dokter jadi aku tahu mana cedera ringan dan mana cidera berat yang harus ditangani serius."
Gadis berambut panjang itu berdecak lalu menundukkan kepalanya,
"Itu kan gara gara nolongin aku, kalau gak ... Aku gak tahu apa yang bakal terjadi. Jadi please." menatapnya sendu, berusaha membuat Irsan luluh dan membiarkannya melihat kondisi punggungnya.
Irsan berdecak dengan membuka semua kancing kemejanya lalu melepaskannya, hingga mengekspos tubuhnya yang kekar, urat urat lengan serta perut berotot miliknya terpangpang nyata membuat Cecilia menelan saliva nya kuat kuat.
"Sudah aku bilang. Akau baik baik saja." sahut Irsan seraya mendengus.
Cecilia menatap punggung yang tegap, ada bercak kemerahan dipunggungnya, terlihat memar dibagian tertentu, Cecilia mengambil obat memar yang dia punya, lalu mengoleskannya dengan jarinya lembut.
"Kau bilang tidak apa apa, tapi yang aku lihat sebaliknya." ujarnya saat melihat warna kemerahan di punggung Irsan.
"Ini tidak seberapa Cecilia."
"Kau menolongku, tentu aja jadi apa apa. Kau juga bilang aku boleh melakukan apa pun kan. Jadi biarin aku ngolesin obat aja."
Irsan menghela nafas, lagi lagi dia tidak bisa menolak Cecilia. "Sudah ... tidak usah terlalu banyak. Obat itu keras dan akan membuat iritasi kulit."
"Iya iya dokter."
Cup
Irsan tersentak kaget saat sebuah kecupan mendarat di punggungnya sementara Cecilia tertawa dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Benar benar gadis itu!" gumam Irsan dengan bibir tersungging begitu saja saat Cecilia bertingkah seperti itu.
"Udah di ciuum langsung sembuh kan dokter." Serunya di akhiri dengan tawa dari dalam kamar.
"Bisa bisanya dia bertingkah seperti anak kecil seperti itu." gumam Irsan yang kembali mengenakan kemeja miliknya.
Tak lama Cecilia keluar dari kamar dan terus terkekeh,
"Gimana. Udah gak sakit kan?"
"Rumah sakit akan bangkrut kalau semua orang yang sakit akan langsung sembuh hanya karena sebuah ciumaan Cecilia." sahutnya dengan mendudukkan tubuhnya di sofa.
Gadis itu mendekatinya, dia duduk disamping Irsan yang tengah membetulkan lipatan lengan kemeja. Cecilia pun menarik tangannya dan membantunya melipat.
"Ya ini kan skala kecil, jangan dipake di rumah sakit. Kalau dipake, dokter dokter disana bakal jadi pengangguran. Kau mau?"
Cecilia menepiskan tangan Irsan dengan keras. "Memangnya kau orang kaya sekarang. Sekarang aja kau tidak punya apa apa, tinggal di apartemen, mobil juga dapet pinjem dari temanmu, kau cuma punya coffe shop kecil di mall. Tapi aku mau. Kau fikir perasaanku padamu sama dengan perasaanku pada pria lain yang kasih aku uang banyak?"
"Tapi kau tidak mau berhenti dari pekerjaanmu itu hanya karena aku yang tidak punya apa apa ini kan?"
Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia memang tidak bisa memutuskannya saat ini.
"Iya kan. Kau tidak bisa menjawabnya."
"Nanti oke ... Nanti akan aku jawab." Cecilia kembali bangkit dari duduknya.
Namun Irsan menarik lengannya hingga gadis itu kembali terduduk dan kali ini duduk di pangkuannya.
"Kenapa harus nanti. Tidak bisa kau jawab sekarang saja?"
Gue belum siap miskin lagi, minimal gue punya tabungan buat hidup gue. Gue gak bisa ngandelin Irsan yang jelas jelas hanya seorang dokter dan punya coffe shop kecil. Gaya hidup gue udah tinggi dan gue belum siap balik lagi kayak dulu. Cecilia membatin dengan terus menatap wajah Irsan.
"Ya ... Ya, nanti akan aku jawab. Lagi pula, aku hanya melakukan hubungan badan itu hanya denganmu saja saat ini." terangnya blak blakan.
Irsan terkesiap dengan jawaban jujur dari Cecilia, bagaimana mungkin hal itu dia bicarakan secara terang terangan seperti itu.
"Heh ... Tutup mulutmu, apa kau tidak malu mengatakan hal itu. Dasar!"
Cecilia terkekeh, dia melingkarkan kedua tangan pada leher Irsan. "Aku ini sangat jujur dalam beberapa hal. Apalagi ..."
"Apa. Apalagi apa?"
"Apalagi denganmu."
"Hm ... Benarkah?"
"Hm, kau fikir aku mau melakukannya karena apa. Uang? Kau saja pelit padaku."
"Pelit? Kau bilang aku pelit nona Cecilia?"
"Ya ... Memangnya kau Royal? Kau itu pelit." Cecilia terkekeh.
Irsan menarik pinggangnya lebih erat lagi hingga tubuh mereka semakin dekat, "Bagaimana aku bisa royal, kau tahu aku tidak punya apa apa Cecilia. Kau fikir gaji dokter itu berapa. Hem?"
"Kau benar! Jadi kau harus menghemat uang kebih keras sekarang. Karena kalau nanti aku sudah berhenti dari pekerjaanku, kau harus menghidupiku."
Irsan tergelak, "Baiklah nona Cecilia, aku akan menghemat uangku agar bisa menghidupimu."
"Jadi?" kata Cecilia dengan wajah menggemaskan, sesungguhnya dia tengah menunggu langkah besar yang tidak juga Irsan lakukan.
"Hm. Jadi apa?" Irsan hanya balik bertanya.
Cecilia berdecak pelan, Irsan benar benar tidak peka walaupun tubuh mereka sudah tidak berjarak lagi. Dia pun yang akhirnya menyambar bibir Irsan dengan rakus. Menerobos masuk dengan liar dan memancing gelanyar gelanyar dalam aliran darah Irsan. Dia juga meremaas rambut pria dewasa yang selalu bersikap datar itu.
Irsan menarik kepalanya mundur, hingga pagutan bibir itu terlepas.
"Kau tidak harus melakukan hal seperti ini Cecilia."
Ada yang mencelos dihati Cecilia, dia memalingkan wajah tidak tahu malunya ke arah lain. Namun sedetik kemudian Irsan mencapit dagunya dan menariknya lembut.
"Lain kali biarkan aku yang memulainya."
.
Nah kan ... Geragasan sih lo Ce ... Malu maluin othor aje sih, harga diri Ce harga diri. Wkwkwk.
3 chap semoga lolos tanpa kendala. Terima kasih buat semua dukungannya, maaf othor belum bisa bls komen nya yaa. Sampai besok.