I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.108(Dewan komisaris)



Reno terbelalak sempurna saat memasuki ruangannya, pasalnya semua orang berkumpul untuk meminta kejelasan dari beredarnya rekaman CCTV berdurasi 3 menit itu, dimana Reno terlihat melakukan pelecehan pada seorang gadis. Video yang hanya diambil sebagian saja memperlihatkan Reno yang tengah menciumi wajah seorang gadis serta meremaas bokongnya.


Rekaman CCTV beredar luas di grup grup antar divisi dengan cepat, dan dengan cepat pula para pemegang saham mengetahuinya. Belum diketahui motif dan siapa yang menyebabkan tersebarnya video itu. Namun cukup membuat Reno tidak berkutik.


Irene yang berdiri menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, kedua manik yang biasanya meneduhkan itu kini terlihat kecewa. Belum selesai dengan kasus pemilik akun yang kerap di kirim uang setiap bulan oleh suaminya itu, kini masalah baru malah muncul.


"Sayang ... Aku bisa jelaskan semuanya! Rekaman itu. Pasti ada yang sengaja menjebakku sayang. Ini sabotase, video itu tidak seperti yang terlihat, perempuan itu yang datang dan menggodaku. Kau boleh tanya Jo. Dia tahu semuanya." terangnya dengan panik, Irene lah yang pertama kali dia hampiri saat masuk.


Irene tidak bergeming, dia berdiri dengan menghela nafas panjang. Empat orang dari dewan direksi menunduk pada saat Irene yang kini duduk di kursi milik Reno.


"Sebagai Dewan komisaris, juga pemilik saham terbesar di perusahaan ini, saya putuskan men non aktifkan masa jabatan Direktur perusahaan. Reno sebastian dalam waktu yang tidak ditentukan, dan selama itu juga kami akan melakukan investigasi dalam penyebaran video asusila yang kini beredar di perusahaan ini. Kami juga sudah mengeluarkan peringatan dan juga broad cast agar seluruh karyawan tidak menyebarluaskannya kembali untuk menjaga stabilitas perusahaan."


Tegas, lugas dan berwibawa. Itulah Irene Maharani, sebagai orang dengan jawaban tertinggi di perusahaan sudah mengambil keputusan didepan dewan direksi terhadap direktur mereka. Reno tercengang dengan keputusan sepihak yang di ambil oleh istrinya itu. Namun disini, Irene lah yang bertanggung jawab atas kepimpinan dan kelancaran perusahaan. Segala keputusan yang di ambil adalah keputusan terbaik bagi perusahaan.


Ke empat dewan direksi yang juga pemilik saham tentu saja puas dengan keputusan komisaris mereka, prilaku Reno tentu akan berdampak besar pada perkembangan perusahaan ke depannya.


Setelah puas mendengar keputusan Irene, ke empat direksi undur diri tanpa ingin menoleh maupun bertegur sapa pada Reno, hilang sudah kepercayaan mereka padanya.


Kini, diruangan nya hanya ada Reno yang duduk lesu di sofa, dan Irene yang menghampirinya lalu duduk berhadapan.


"Maaf Mas, aku harus melakukan hal ini."


"Kau benar benar naif Irene, aku ini suamimu."


"Maaf, aku berbicara sebagai seorang komisaris di perusahaan ini mas. Itu keputusan berat yang akhirnya harus aku ambil saat ini." jelas Irene dengan tegas.


Reno menghembuskan nafas, sementara istri yang dia nikahi 30 tahun silam itu menghela nafas lalu bangkit dari duduknya.


"Setidaknya lakukanlah di tempat lain Mas, jangan di sini. Perusahaan ini kita bangun dari nol, dan aku tidak akan membiarkan kau menghancurkannya begitu saja." ujarnya lalu melangkah keluar.


Irene menangis tergugu di ruangan khusus jika dirinya datang ke perusahaan, selama ini dia bekerja dibalik layar karena menghormati suaminya, padahal posisi dirinya yang lebih tinggi dan semua orang tahu itu.


Jo masuk membawa segelas air putih dan obat yang selama ini harus dia minum. Perawatan yang harus dia jalani seumur hidup dan menyebabkannya tidak bisa memiliki keturunan.


"Nyonya minumlah."


"Jo ... Kau tahu siapa dia kan? Jangan lah berbohong padaku." lirihnya dengan menyeka bulir bening di pelupuk matanya.


"Air mata anda terlalu berharga Nyonya." ujarnya dengan meletakkan sapu tangan di atas meja.


"Jo ... Jawab pertanyaanku saja!"


Asisten pribadi Reno itu terdiam dengan menundukkan kepalanya, dia tidak berani menjawab kalau selama ini dia tahu semuanya.


"Apakah dia Cecilia?"


Jonathan alias Jo, terbelalak sempurna saat mendengar Irene menyebut nama gadis berusia 20 tahun yang menjadi peliharaan Reno sejak 2 tahun lalu. Dia mengunci mulutnya rapat rapat karena tugasnya sebagai bawahan dari suaminya. Namun juga tidak bisa dia pungkiri kebaikan dan kesabaran Irene.


"Benarkan dugaanku Jo."


Jo masih terdiam, tenggorokannya tercekat karena lagi lagi dia harus menjaga rahasia.


"Aku ingin bertemu dengannya Jo, kau bisa mengaturnya untukku kan."


Jo lagi lagi hanya bisa terpaku di tempatnya, bagaimana dia bisa melakukannya, dia bekerja untuk Reno dengan sepenuh hati dan dia juga tidak bisa berdiam diri saja saat Irene yang baik hati terus menderita karena ulah bosnya.


Flash Back On


"Maaf, aku harus melihat rekaman CCTV yang berada di ruangan Pak Reno." ujarnya tanpa terlihat mencurigakan.


Petugas CCTV yang menoleh pun hanya bisa mengangguk pada saat melihat Jo berdiri dibelakang Cecilia, gadis itu ikut terbeliak saat melihatnya.


"Mampus." gumamnya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan rekaman itu?"


"Bukan urusanmu botak!"


"Katakan padaku atau aku akan melaporkanmu pada tuan Reno." ancam Jo dengan tegas.


Cecilia berdecak, "Lapor aja, kau juga akan aku seret, aku tunggal bilang pada Irene kau yang bantu aku. Dan tentang Sila ..." sahut Cecilia memainkan kuku kuku jarinya.


Jo menariknya ke sudut ruangan, membuat petugas CCTV yang hendak mengecek CCTV di ruangan Reno berhenti. Dia bangkit dan hendak mengikutinya karena penasaran. Namun Jo menyuruhnya duduk dan tidak menyentuh apa pun.


"Kau takut Jo?" Cecilia terkekeh, "Kau takut Reno memecatmu karena kau dianggap tidak becus menjaga rahasia?" terkekeh lagi.


"Aku akan membantu mu Cecilia."


Cecilia terkesiap dengan jawaban yang tidak dia sangka itu, dia juga mana mungkin percaya begitu saja.


"Kau ... Mau bantu? Masaa ... kok aku gak percaya yaa."


"Aku melakukan ini bukan untukmu Cecilia, tapi aku melakukannya untuk nyonya Irene." sahutnya tanpa ragu, menatap Cecilia dengan tajam.


"Uuuhhh ... Sepertinya menarik. Kau khianati tuanmu untuk mengabdi pada istrinya paman Jo. Apa kau menyukai tante Irene?" cibir Cecilia dengan kedua mata yang memicing ke arahnya.


"Jangan bahas hal yang tidak penting. Katakan apa rencanamu. Aku akan membantumu."


Cecilia terdiam sesaat, menatap keseriusan dari dua manik hitam pria berusia 50 tahun. Asisten pribadi yang juga tahu bagaimana sepak terjang tuannya dan juga hubungan rahasia mereka.


"Kau bisa percaya padaku Nona Cecilia,"


"Ok ... Karena kita saling terkait dan memegang kartu masing masing, aku hancur ... Kau juga aku bawa hancur Jo."


"Katakan Cecilia. Kita tidak punya banyak waktu."


"Jadi begini ...."


.


.


...Wkwkkw ... Nah kan paman Jo yang jadi sekutu si Cece....


...gue laporin lo Jo. Btw Irene kereen kan, dia bisa mecat Tuh aki aki lho....


...Tenang ... Bakal ada part Flash back lagi yaa, biar semua nya jelas. Jangan lupa kasih dukungan sebanyak banyaknya agar othor lolos liga LIDA. Eeh salah.......


...Wkwkwk...


...Hari senin nih Vote... Rate gift nya dong Cecelover....