I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.289(Masalah berlarut larut)



Cecilia tercengang dengan ucapannya. Keegoisan diri macam apa yang diucapkan Dirga, apa yang dia lakukan selama ini pada Nita sudah benar. Semua perhatian, dukungan, semuanya. Bahkan atas apa yang Nita butuhkan selalu dia berikan, selalu ingat padanya kala senang dan sedih. Lalu keegoisan macam apa lagi. Fikirnya.


"Denger ya! Gue hanya ingin tahu apa yang lo bilang sama Nita sampai dia marah, soal yang lain ... Itu udah gak penting bagi gue apapun yang terjadi di masa lalu. So thanks buat infonya!" Ucap Cecilia yang menyambar tas miliknya lalu melangkah pergi, dia bahkan tidak peduli pada Irsan yang sejak tadi berusaha menenangkannya.


Dirga berdecih, seraya membersihkan noda kopi di pakaiannya. "Lihatlah cara dia bersikap, gak ada yang berubah. Tetap egois tanpa ingin tahu apa yang di rasakan sahabatnya sendiri."


Irsan menoleh pada Dirga dengan tatapan tajam, paling tidak suka jika ada yang menjelek jelekan istrinya.


"Jika dia egois, lantas kau apa. Hm? Kau fikir dengan cara melakukan ini kau sudah lebih baik darinya?"


"Dokter gak tahu apa apa! Istrimu itu emang kurang ajar! Dokter lihat ini ...?" Dirga menunjuk pakaiannya yang kotor.


Irsan merangsek baju yang dikenakan Dirga hingga pria itu tersentak kaget. "Kau mungkin lebih mengenalnya, tapi sekarang dia adalah istriku! Dan jangan coba coba bicarakan hal buruk tentangnya dengan mulut sampahmu!"


Tidak lama Irsan menghempaskannya begitu saja dan berlalu pergi, pria itu menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Emang kurang ajar tuh si dirga, awalnya udah kayak yang tobat aja dia, padahal dia gak berubah sama sekali, ngerasa dirinya so paling menderita!" dengusnya saat Irsan baru saja masuk.


"Tidak perlu kau fikirkan dia, apa yang dia bicarakan belum tentu juga benar, kau hanya perlu bertemu dengan Nita dan meluruskan hal ini. Hm?"


"Anak SD juga tahu, hanya itu jalan satu satunya, masalahnya sekarang dia dimana. Gak ada yang tahu, kamu juga gak tahu kan? Si Carl juga gak pernah bilang dia dimana. Heran sama orang orang tua itu!" sentaknya dengan kesal, masalah dengan Nita yang berlarut larut belum juga selesai.


Irsan menghela nafas, membiarkan Cecilia terus menggerutu dan meluapkan kekesalannya. Pria itu hanya diam dan mendengarkannya saja tanpa ingin menimpali atau apapun itu. Sampai mobil yang dikendarainya melaju ke ruas jalan yang berbeda.


"Lho kita mau kemana ini?"


"Kesatu tempat!"


"Kemana?"


"Kantor Carl!"


"Carl? Kita bakal temui dia lagi? Bukannya dia ada di luar kota?"


Irsan mengangguk, "Ya ... Dia ada diluar kota, tapi yang akan kita temui bukan dia, tapi Toni!"


"Toni?"


Irsan mengangguk lagi, "Dia bekerja dengan Carl, dan sudah pasti tahu sesuatu tentang Nita, jika Carl memang tahu soal ini."


"Dari awal aku udah curiga, bahkan aku sempat minta tolong sama kak Ines buat temuin aku dan Toni, tapi dia bilang dia tidak tahu apa apa!"


Mobil terus melaju sampai akhirnya mereka berdua tiba digedung perusahaan milik Carl. Keduanya langsung turun setelah kendaraan terparkir di tempatnya. Tidak lama mereka langsung masuk ke dalam sana.


"Aku ingin bertemu Toni?"


Tanpa basa basi Irsan langsung mengatakan tujuannya datang pada seorang wanita yang duduk di kursi resepsionis.


Wanita itu mengernyitkan kedua dahi, "Apa Toni yang anda maksudkan itu Toni___"


"Ya ... Toni asisten pemilik gedung!" timpal Cecilia lebih dulu sebelum resepsionis itu menyelesaikan ucapannya.


Wanita ity mengangguk, lalu terlihat melihat layar monitor di depannya. "Maaf tapi orang yang di cari saat ini sedang cuti dalam waktu yang tidak terbatas."


"Hah?"


"Kalau gitu minta alamatnya saja dan kami akan menemuinya langsung!" Irsan kembali menyela.


Resepsionis itu terlihat terdiam, bingung antara mengatakannya atau tidak mengenai hal yang tidak boleh dia sebar sembarangan.


Secara seorang resepsionis akan menghindarkan hal hal atau keributan yang akan terjadi. Dan dengan mudahnya karyawan itu memberikan alamat tempat tinggal Toni.


Keduanya berhasil mendapat apa yang mereka cari, setelahnya mereka kembali melaju menuju tempat tinggal Toni. Sebuah apartemen ternama yang berada tidak jauh dari kantor.


"Aku yakin Toni tahu soal Nita!" tukas Cecilia saat keduanya memasuki kawasan apartemen sampai kedumya masuk ke dalam lift.


"Sepertinya begitu, atau bahkan dia yang membantunya untuk sembunyi darimu?"


"Bisa jadi, tapi berapa kali dia bilang kalau dia gak tahu apa apa! Sebel banget, dan lihat aja kalau terbukti dia bantuin Nita dan Carl! Gue gibas lehernya!" kesal Cecilia dengan mengepalkan tangan yang menonjok telapak tangannya sendiri.


Tak lama keduanya tiba di depan sebuah pintu berwarna hitam, Irsan segera menekan bel dan Cecilia mengetuk pintu dengan keras. Dia tidak mungkin bersikap santai jika soal Nita yang tidak kunjung selesai.


"Sepertinya Toni memang tidak ada di tempat ini."


"Apa dia pergi ikut Carl? Tapi kalau dia ikut ngapain coba dia ijin cuti? Iya gak."


Irsan mengangguk, "Tapi itu bisa saja terjadi!"


Cecilia berdecak saat mencoba mengintip dilubang pintu namun itu hal yang tidak berguna sama sekali.


"Aku akan minta nomor kontaknya pada Ibuku!" ujarnya dengan mengambil ponsel dari dalam saku celana.


"Ide bagus, ita bisa lacak dia!" ujarnya dengan terus mencari sedikit celah atau apapun itu agar bisa mengintip namun tidak juga berhasil karena tidak ada lubang sedikitpun di sana.


Sementara Irsan kini mengotak ngatik ponselnya untuk beberapa saat dan menghubungi seseorang.


Hampir setengah jam mereka terus berdiri di depan pintu unit milik Toni, namun Toni tidak kunjung membuka pintu. Dan kemungkinan terbesarnya karena memang Toni tidak ada di tempat itu.


"Gimana ini sayang?"


"Aku sudah dapat!" ucap Irsan yang langsung menghubungi nomor kontak Toni.


Satu menit


Dua menit bahkan beberapa menit tapi dering sambungan telepon tidak juga tersambung.


"Tunggu sebentar!" ucapnya yang terus mengotak ngatik ponselnya. "Sepertinya Toni mencurigakan, dia memblock semua akses agar tidak ada yang tahu lokasinya saat ini!"


"Hah?"


"Aku menyuruh seseorang mencarinya, namun dia tidak diketahui dimana mana!"


"Kamu yakin?"


"Orang yang aku suruh mencarinya yang mengatakan hal itu! Dia sepertinya juga pergi tanpa ingin diketahui orang orang!" terang Irsan.


"Maksudnya? Apa itu artinya dia tahu di mana Nita? Apa jangan jangan Toni yang bantu Nita selama ini?"


"Toni itu asisten Carl, dia pasti tahu cara cara memprotect dirinya, alamatnya bahkan posisinya saat ini."


Cecilia ikut mengangguk, setuju dengan apa yang di katakan suaminya jika Toni sengaja bersembunyi. Bahkan temannya saja tidak bisa menemukan Toni.


"Yes ... Dapat juga akhirnya!"


"Dapat apa sayang? Apa Toni berhasil di temukan?"