
Irsan kembali mengambil kertas itu dari tangan sang Istri dan mengamatinya lagi, kali ini dia lakukan dengan seksama lagi, tidak ada yang terlewat satu pun. Kedua matanya membola sempurna saat melihat tulisan yang tertera di paling bawah sebelum tanda tangan petugas laboratorium, tulisan yang membuat tangannya gemetar hebat dan tatapannya berubah dengan perlahan.
"Hhhmm?"
"Apa ini benar. Kau hamil ... Kita akan punya anak dan ... Dan ... Aku jadi ayah? Sungguh?"
Cecilia mengerdik, dia tidak mengerti istilah istilah dengan kode kode kedokteran dalam surat itu, dab dia hanya membawa hasilnya saja dengan cepat.
"Mana aku tahu!" cicitnya, "Harusnya aku tanya padamu!"
Entahlah, apa hasil test itu sungguhan atau tidak, bisa saja direkayasa. Tapi untuk apa, siapa yang nekad melakukannya, toh sudah lama dia tidak berurusan dengan masalah. Tapi dia juga tidak merasakan apa apa di dalam perutnya. Tidak mual, tidak pusing atau bahkan gejala gejala awal yang biasa di rasakan oleh seorang wanita ketika hamil. Dia hanya pingsan dua kali saja.
Cecilia masih terperangah melihat Irsan, seorang dokter saja bisa ragu dan nyaris tidak percaya jika dirinya hamil, lantas bagaimana dengannya.
"Sayang ... Kita akan punya anak!" Irsan tampak begitu bahagia, dia langsung merengkuh tubuhnya dengan cepat dan memeluknya erat. "Terima kasih sayang ... Terima kasih."
Sementara Cecilia hanya mampu mengerjapkan kedua matanya saat Irsan dengan begitu yakinnya mengatakan kehamilannya bahkan berterima kasih pada saat situasinya begitu membingungkan. Dan rasa bahagia yang timbul tiba tiba saat kondisi hatinya yang resah dan sedih karena masalah yang tidak kunjung selesai.
"Jadi aku beneran hamil?"
"Tentu saja, kau fikir test ini palsu? Kita test ulang setelah tiba di kota xx. Hm?"
"Jadi kamu ragu juga kan?"
"Bukan ... Tidak, tidak begitu ... Hanya saja kita harus memastikannya lagi." terang Irsan.
Cecilia masih memperlihatkan wajah datarnya, kehamilan yang ditunggu tunggu tapi juga masih merasa takut dan tidak percaya akan dirinya sendiri. Irsan yang melihat hal itu pun menggenggam tangannya dengan lembut.
"Tidak perlu memikirkan hal hal yang kau takutkan sayang, semua pasti akan baik baik saja. Begitu juga dengan apa yang kau risaukan. Soal Nita yang belum juga ketemu dan kesalah fahaman kalian, hm?"
Cecilia mengangguk pasrah, masih dengan wajah yang tidak karuan, kebahagiaan seakan tertahan oleh berbagai ketakutan ketakutannya selama ini.
"Tidak perlu takut, aku akan selalu ada disampingmu. Hm?" Irsan terus meyakinkan sang istri yang tidak memiliki kekuatan untuk percaya pada dirinya sendiri, pria itu juga terus memberikan kekuatan padanya.
"Aku selalu ingat dua hal tentang dirimu. Dulu kau selalu mengatakan kalau kau ini gadis kuat dan pemberani. Tapi sekarang kenapa aku tidak pernah mendengarnya lagi? Kemana Cecilia yang dulu?"
Cecilia memukul lengan Irsan seraya mendengus. "Iiihh ...!"
"Iya kan? Kau juga pasti sadar akan hal itu, mana Cecilia yang kuat dan pemberani. Apa dia sekarang sudah tertinggal jauh?" ucapnya dengan tersenyum.
"Ya aku gak tahu ... Mungkin karena mikirin banyak masalah! Apa lagi soal Nita, aku gak tahu harus kayak gimana lagi."
Irsan mengelus punggung tangannya dengan lembut. "Bersabarlah, aku akan cari cara agar Toni mau membantu masalah ini. Sekarang lebih baik kau istirahat dulu setelah itu kita pulang."
Cecilia mengangguk, kemudian meraba perutnya yang rata, masih tidak percaya jika dirinya saat ini tengah hamil muda.
"Anak kita pasti akan sehebat kau, kuat dan tangguh ... Aku tidak sabar untuk melihatnya."
"Lihat gimana orang hamilnya aja baru ketahuan, jadi berapa usianya sekarang?" tanya Cecilia yang semakin penasaran.
Pernah beberapa kali berpura pura hamil hanya untuk beraksi saat dulu kala dengan akting yang sangat bagus bahkan luar biasa, namun tidak saat hal itu menjadi nyata. Bahkan dirinya sulit mengekspresikan perasaannya saat ini.
"Four week."
Irsan tersenyum seraya mengangguk, beruntung tidak terjadi sesuatu yang fatal sebab hampir setiap saat dia menyerangnya bahkan beberapa kali dalam satu waktu.
Cecilia masih tidak percaya, dengan terus mengelus perutnya. Dan Irsan pun melakukan hal yang sama.
"Kau lihat, bahkan sekarang saja anak kita sudah kuat dan pemberani. Padahal kita melakukannya terus menerus."
Cecilia mendengus, "Dan kamu ngurung aku gak bisa kemana mana, Haish ... Aku baru sadar, apa perubahan mood ku gara gara ini. Aku jadi cengeng tiba tiba."
"Bisa jadi karena hormon kehamilanmu diproduksi dengan sangat tinggi!" Saut Irsan dengan kepala yang dia angguk anggukan.
Hampir satu jam mereka berada di sana, dengan kondisi dan peralatan seadanya. Bahkan Dokter saja hanya datang sekali saat pemeriksaan awal saja, tidak ada pemeriksaan lanjutan bahkan membacakan hasil test miliknya. Hanya suster yang kesana kemari untuk mengurus sesuatu.
Irsan pun berinisiatif, menghubungi prof. Sam agar mengirimkan perwakilan dan memberikan segala sesuatu untuk klinik tersebut.
'Pastikan semuanya di urus dengan baik! Terutama soal kinerja dan legalitas Dokter yang berpraktek di sini.' ujarnya dengan telepon genggam miliknya yang menempel di telinganya. Cecilia menganggukkan kepala tanda setuju, Irsan semakin peduli dengan hal hal berbau sosial terlebih pada bidang kesehatan.
Dan tidak lama kemudian sebuah ambulance datang, Cecilia kaget saat beberapa suster dan perawat langsung mendorong blankar miliknya keluar.
"Eh ... Sayang?"
"Kau tenang saja, kita akan ke Rumah sakit."
"Sayang ... Kan semuanya udah Ok? Kenapa harus ke rumah sakit lagi, aku ingin pulang aja!" Seru Cecilia yang terus pasrah terbaring di atas ranjang pasien.
Irsan yang berjalan di belakangnya pun hanya menggelengkan kepalanya, "Agar kau bisa istirahat total dibawah Dokter Dokter terbaik!"
"Tapi ...!"
Blankar yang dinaikinya berhenti disebuah ambulance yang pintu belakangnya sudah terbuka, dan seberapa perawat pria langsung memindahkannya.
"Astaga ... Sayang, aku kan gak apa apa!"
"Tetap saja, aku tidak mau kita mengambil resiko dalam perjalanan." tukas Irsan yang ikuy masuk ke dalam ambulance untuk menemanimu.
"Mobilmu?"
"Bisa di urus nanti saja!"
"Di urus siapa? Kamu mau bulak balik setelah kita ke rumah sakit. Atau memangnya kamu nyuruh asistenmu. Kamu kan gak punya asisten, bahkan kamu aja gak mau semua orang tahu kalau kamu itu pemilik rumah sakit!" Cecilia mulai kesal, dan anehnya kenapa membahas masalah yang tidak penting untuk dibahas sekarang.
Irsan hanya tersenyum, akan selalu ingin pepatah jika wanita selalu benar, jangan menimpal apalagi memotong pembicaraan seorang wanita. Terlebih saat marah.
"Iya kan? Kenapa kamu gak mau di ekspos sebagai pemilik rumah sakit? Padahal itu kebanggaan tahu!"
Tidak ingin terus membahas masalah yang sudah berlalu lama, Irsan yang mengangguk saja, sesekali dia hanya menjawabnya dengan hanya mengiyakan semua ucapannya saja.
"Kita bicara nanti ya ... lebih baik kamu istirahat."
.
Othor sih gak percaya kalau Cecilia akhirnya hamil. Wkwkwk, perasaan aneh aja gitu si Cece yang kebelinger foll tiba tiba jadi begitu, mana cengeng lagi, Biasanya kan geragasan dia. Wkwk ... Iya kan ... Iya kan?