I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.245(Cara lain)



Irsan membuka pintu kamar dengan perlahan, dia tidak ingin membangunkan Cecilia yang sudah hampir satu jam dia biarkan saja di dalam kamar, namun alangkah terkejutnya saat melihat Cecilia yang hanya diam menatap langit langit kamar, dan melihat keadaan ranjang berukuran besar itu berantakan, dengan selimut dan bantal guling yang sudah tidak lagi berada ditempatnya. Sudah dipastikan jika sebelumnya dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan saja.


"Sayang, kau tidak tidur?" Tanyanya dengan berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang.


"Aku gak bisa tidur, apa kamu mau anter aku nemuin Carl?"


"Sekarang?" tanya Irsan dengan melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.


Cecilia mengangguk, dia beringsut bangkit dan terduduk dengan kedua lutut kaki yang di tekuknya.


"Ya sekarang aja, aku ingin tahu apa yang terjadi sebenernya, aku gak mau terus terusan begini. Sementara aku gak tahu kondisi Nita sampai hari ini." ujarnya dengan wajah yang terlihat khawatir.


Irsan menghela nafas, terlihat berfikir beberapa saat lalu mengangguk kecil. "Baiklah... Kita ke rumahnya sekarang,"


"Yes .... " Cecilia melompat turun dari ranjang dengan penuh semangat, memakai sendal rumah dan berhambur menuju pintu kamar dengan tangan yang sudah berada di handle pintu.


"Ayo ... kenapa masih diem!" Cecilia menoleh ke arah Irsan yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Dengan pakaianmu yang seperti itu? Aku tidak ingin pergi!" ujar irsan yang menatap Cecilia yang hanya mengenakan piyama pendek sebatas paha dengan rambut yang di gulung ke atas.


"Gak ada waktu buat ganti baju." jawabnya dengan cepat,


"Setidaknya kau memakai jaket, aku gak mau kau masuk angin nanti, dan ganti celanamu, itu terlalu pendek, kita akan kerumah Carl bukan ke supermarket dibawah sayang," Terang Irsan lagi posesif.


"iya iya aku ganti, cerewet amat sih punya laki." sungutnya dengan melangkah masuk kembali kedalam kamar dan mengambil pakaiannya.


Irsan menggelengkan kepalanya, masih tidak mengerti kenapa gadis itu malah gadis yang sangat di cintai nya, kedua matanya terus menatap sosok yang sangat berperan penting dalam perubahan warna di hidupnya yang biasa saja.


"Yuk" ajaknya setelah mengganti celananya saja, sementara atasannya masih memakai piyama bermotif bulan dan bintang, dengan menarik tangannya untuk segera keluar dari kamar. "Jauh gak rumahnya" cicitnya lagi.


"Lumayan, tapi aku akan pastikan dulu apa dia ada dirumahnya atau tidak, kau tunggu sebentar?" ujar Irsan yang langsung merogoh pondelnya dari dalam saku celananya dan langsung menghubungi Carl.


"Gimana?"


"Tidak diangkatnya!"


"Kalau gitu Toni, hubungi toni saja." ujar Cecilia lagi.


Irsan mengangguk, Toni pasti tahu dimana Carl berada.


Namun sambungan telepon pada Toni juga tidak diangkatnya, hingga Cecilia berdecak kesal.


"Heran sama orang orang, apa gak tahu fungsi ponsel itu buat komunikasi, kalau masih susah di hubungi ngapain punya ponsel, buang aja ke laut. "sungutnya dengan menendang nendang udara.


"Tenanglah, kenapa kau jadi marah marah tidak jelas, mungkin mereka masih sibuk dan tidak sempat melihat ponsel mereka." Irsan selalu bisa berpikir sehat dan positif.


"Sibuk apanya jam segini, mereka bukan dokter yang gak kenal waktu kerja, mereka pembisnis yang udah ada jam kerja nya masing masing dan teratur tiap hari. Kalau gak ke klub mereka pasti sedang bersenang senang kalau jam segini." tukas Cecilia yang sangat paham jam jam sibuk seorang pembisnis karena pengalamnya bersama para Daddy nya dulu.


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang kala itu cukup renggang, jam malam sudah berlaku, hingar bingar kehidupan malam pun sudah terlihat, lampu lampu tempat hiburan pun sudah terlihat dari ujung jalan, mereka juga memastikan keberadaan mobil Carl dari ujung ke ujung jalan namun tidak menemukannya.


Irsan melajukan mobilnya masuk di kawasan perumahan elite dimana rumah Carl berada, tak lama mobilnya menepi disebuah rumah tingkat dua dengan gaya eropa berwarna putih dan abu abu,


"Ini rumahnya?" tanya Cecilia dengan melepaskan seat belt yang mengikat tubuhnya.


"Hm ..., " pandangan Irsan tertuju pada sebuah mobil yang terparkir milik Carl di depan gerbang, "Sepertinya kita beruntung, itu mobil Carl ... Dia pasti ada di rumah."


"Baguslah, kita gak perlu cape cape nyariin cowok brengsekk itu." ujar Cecilia dengan dengusan yang terdengar pelan.


Keduanya turun dari mobil, Cecilia apalagi, dengan cepat dia membuka gerbang rumah. Namun karena terkunci dari dalam, mereka tidak bisa masuk dengan mudah, ditambah rumah itu tidak memiliki security karena kawasan itu termasuk kawasan yang paling aman dan juga penjagaan ketat dari gerbang paling utama di depan sana.


Mengingat pula jika Carl adalah orang yang paham, mengenai keamanan, dan keahliannya di bidang hacker sudah mumpuni, dipastikan rumahnya terjaga dengan baik.


"Terkunci?" tukas Irsan.


"Ya. Digembol dari dalam. Aku naik saja?" Ujar Cecilia yang siap dengan menaiki pagar rumah, kedua kakinya sudah berada di antara besi gerbang dan siap naik.


"Hei tidak begini caranya, kau bisa dianggap penyusup. Lagipula banyak Cctv di sini, bisa bisa kita dianggap pencuri." tegas Irsan dengan menari pinggang sang istri yang sudah naik.


"Gak ada cara lain buat masuk kesana, ponselnya aja gak diangkat, lagi ngapain coba dia didalam? Tidur?" tanya cecilia. "Gak mungkin tidur jam segini, masih jam 8 kok." ujarnya lagi.


Irsan merogoh ponsel dan berusaha kembali menghubunginya namun tidak juga diangkatnya,


Cecilia berdecak dengan kesal. "Kelamaan kalau nunggu dia angkat tuh panggilan, lebih baik kita cari jalan lain."


Cecilia berjalan mondar mandir, dan terkekeh saat menemukan ide yang terpikirkan tiba tiba olehnya,


"Menurutmu apa dia memasang alarm kebakaran?"


"Sepertinya iya, dia pasti menerapkan sistem keamanan luar biasa di rumahnya."


Cecili terkekeh mendengar jawaban Irsan, lalu dia mengeluarkan ujung piyama yang dikenakannya


Srekkk!


Dia dengan cepat merobek sebagian piyama yang dikenakannya itu hingga hampir setengahnya dari perutnya terlihat, beruntung dia memakai jaket yang bisa menutupi perutnya.


"Hei apa yang kau akan lakukan? Kau gila, jangan macam macam Cecilia, ini kawasan orang lain dan kau ... Astaga!"


"Bisa gak diem dulu? Mana kunci mobil, aku cuma mau bikin ini ... kalau kita tidak bisa masuk, kubuat dia yang keluar," ujarnya Cecilia dengan menggulungkan sobekan kain piyama.


"Jangan gila Cecilia. Kau mau apa?"


Cecilia mengambil kunci mobil dari tangan suaminya dan berjalan ke arah samping mobil dan membuka tutup penyimpanan alat bahan bakar.


Irsan panik, dia merebut gulungan kain dari tangan Cecilia,


"Astaga ... Jangan gila, kau mau mengambil bensin dan membakar rumah ini Cecilia?"