
...2 bab sebelumnya sebenernya 2 bab yang kena review semalaman., semoga hari ini lancarr yaa Cecelover. Jangan lupa terus dukung karya ini biar othor nya seneng. jangan lupa like dan komennya juga rate 5 kalau kaliian suka. Kalau gak suka skip tanpa harus kasih rate 1 atau komentar jahad yang bikin othor sedih huhuhu. (Lebay banget si othor melehoy)...
🍁🍁
Irsan terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Irene karena bagaimanapun dia juga tidak bersalah dalam hal ini, dia juga tahu kalau dengan jelas kalau Irene juga korban.
"Kenapa kau melakukan hal seperti ini Dokter Irsan?"
"Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk orang yang kau cintai! Sebesar apapun kesalahannya, kau pasti akan memaafkannya. Bukankah begitu Nyonya Irene?"
Irene terpaku mendengar perkataan Irsan, tapi membuat rasa benci pada Cecilia semakin dalam saja. Gadis semacam Cecilia, yang bahkan tidak pandai menjaga diri dan seseorang yang melabeli dirinya sendiri sebagai seorang sugar baby mendapat pembelaan dari seorang Dokter.
"Maaf Dokter Irsan, urusan ini bukan urusanmu. Kalau kau ingin melakukan penawaran. Kau temui pengacaraku saja." Ujar Irene yang kemudian mengayunkan kedua kakinya begitu saja, meninggalkan Irsan yang bahkan tidak mendapat jawaban memuaskan.
Irsan menghela nafas, usahanya sepertinya sia sia saja. Benar apa yang dikatakan oleh Carl, Irene tidak mungkin tertarik dengan apapun penawaran yang dia berikan. Wanita itu hanya ingin membalas sakit hatinya pada Cecilia.
Irsan kembali ke rumah sakit tanpa mendapatkan hasil apa apa, dia masuk ke dalam ruang praktek miliknya dan menghempaskan tubuhnya di kursi kebanggannya selama ini. Bagaimana dia berfikir akan melepaskan profesi yang ditekuninya selama ini, profesi yang dia inginkan dan profesi yang dia bela mati matian dulu demi seorang gadis bernama Cecilia.
Tapi sekali lagi, cinta membuatnya tidak mengenal kata rasional lagi, walau dia benar benar sadar apa yang dilakukannya tidaklah tepat.
Dokter Aji masuk begitu saja, mengernyit melihat sahabat sejawatnya tengah termenung. Bahkan Irsan tidak sadar kehadirannya.
"Sekalinya masuk hanya melamun, kau tahu berapa kali kau mangkir dan membuat jadwalku berantakan hah?" Sentak Dokter Aji yang langsung mendaratkan bokongnya di kursi di depannya. "Apa kau sedang menunggu profesor Sam memberikan sangsi dan surat peringatan padamu?"
Irsan mendengus saja setelah sadar dan mendengar rekan satu profesinya menyebutkan nama kepala rumah sakit. "Aku justru ingin bertemu dengannya."
Aji menggelengkan kepalanya, "Kau sudah banyak berubah akhir akhir ini, kenapa? Kau bosan jadi Dokter. Dan kau akan kembali menekuni pekerjaan lamamu Tuan Irsan?"
"Kau ini!"
"Kenapa. Bukankah aku benar? Kau tidak takut kehilangan pekerjaanmu di sini karena kau memiliki pekerjaan yang lain, tapi ingat. Kau juga tidak boleh membuat rekanmu ini mendapat sangsi juga dong."
"Ya aku tahu!"
"Bagus kalau kau tahu. Kita ini abdi masyarakat. Jadi sudah sepatutnya, jangan hanya karena cinta kau mengorbankan semuanya. Kau faham magsudku."
"Ya ... Ya, kau ini sudah seperti wanita saja! Cerewet. Aku tahu apa yang aku lakukan ini,"
"Kalau kau tahu kenapa kau masih melakukannya, kau bisa cari wanita lain yang lebih baik, yang sepadan denganmu. Jangan gadis yang hanya memberimu masalah dan masalah terus." Aji banhkit dari duduknya, dia berjalan menuju pintu keluar. "Kalau kau mau aku bisa mencarikanmu yang lebih baik. Dokter Siska pun lebih cocok untukmu. Kau paham?" serunya lagi sebelum keluar dari ruangan Irsan.
Pintu tertutup, Aji telah pergi dan pria berusia 40 tahun itu menghela nafas panjang. Entah apa yang di fikirkan Dokter Aji terhadap Cecilia, tapi yang jelas dia tidak suka mendengarnya.
Dreet
Dreet
Ponsel miliknya berdering, dia bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel yang dia letakkan di dalam saku jas yang tergantung. Alih alih menerima panggilan Carl yang meneleponnya, dia justru meletakkan ponsel di atas meja dan kembali duduk. Sudah bisa dia bayangkan apa yang akan dibicarakan oleh sahabat sekaligus pengacara yang dia tunjuk untuk membantu Cecilia itu.
Hingga ponsel itu terus menggelepar di atas meja, dia tak kunjung mengangkatnya juga.
Pria itu masuk begitu saja dan mendengus ke arah Irsan dengan kesal, "Kau tahu kau sangat gegabah dengan berani menemui Irene seorang diri! Kau fikir kau akan bisa merubah pendiriannya dengan berani melepaskan title mu Dokter Irsan? Kau bahkan tidak mengangkat teleponku!"
"Karena aku tahu kau akan langsung kemari! Sejak kapan kau menyelesaikan masalah di telepon, kau akan langsung datang." Irsan ikut mendengus ke arahnya.
Carl menggelengkan kepalanya, "Bukankah aku sudah bilang, kau ini keras kepala! Dia tidak akan terpengaruh dengan apapun yang kau tawarkan. Dia menginginkan targetnya langsung yaitu Cecilia. Kau ini tidak bisa sabar sedikit saja."
Irsan kembali mendengus, "Terus untuk apa kau kemari? aaku tidak berhasil membujuknya, jadi ikuti saja alurnya seperti apa."
"Aku kesini hanya ingin memberi tahumu, besok Cecilia akan di jemput polisi. Bersiaplah untuk itu, semua gugatan Irene terhadapnya akan segera bergulir di pengadilan."
Irsan tersentak kaget, kedua pupil hitamnya melebar dan tajam menatap Carl yang duduk di hadapannya.
"Aku harus menemui Cecilia. Dia pergi ke kampus tadi, aku rasa dia akan kaget!" Irsan segera bangkit dari duduknya, menyambar jas hitam miliknya dan segera mengenakannya.
"Aku ikut!"
Mereka berdua keluar dari ruangan Irsan, berjalan melewati koridor rumah sakit dan segera keluar dan menuju mobil milik Irsan.
"Sebagai pengacara aku akan membantu sebisa mungkin, kalau bisa kita bisa mengajukan banding. Kasus ini tidaklah berat, tapi sebagai pria aku mengerti apa yang kau rasakan Irsan."
"Cecilia memiliki riwayat phobia terhadap polisi, bisa kau bayangkan jika sampai dia di tahan di kantor polisi? Bisa kau bayangkan bagaimana dia bisa menahan diri agar tetap waras. Dia bisa gila Carl!" Tukas Irsan melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir khusus untuk dokter.
Tak lama dia sampai di kampus dimana Cecilia menimba ilmu, seharusnya gadis itu kini berada di salah satu ruangan di fakultas disana.
Namun Irsan dan juga Carl sudah mencarinya kemana mana, bahkan mereka bertanya pada hampir semua orang namun tidak juga tahu di mana keberadaan gadisnya itu.
"Kau sudah menghubunginya?" tanya Carl saat mereka kembali keluar dan memilih menunggu di dalam mobil.
"Hm ... Tapi nomornya tidak aktif! Bagaimana ini,"
"Kau tenang saja! Mungkin dia sedang makan siang di suatu tempat atau bahkan sudah pulang ke apartemen?"
"Entahlah! Lebih baik aku kembali menemui Irene untuk mencabut laporannya."
"Kau jangan gila Irsan!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa diam saja seperti ini Carl!"
"Kita minta bantuan Zian saja. Atau Dave."
"Kau gila! Mereka di luar negeri dan tidak mungkin bisa segera kemari Carl." sentak Irsan kesal.
"Kita kembali saja ke apartemen, masih ada waktu sampai nanti malam. Kita bisa memberitahunya nanti malam, atau semoga dia sudah ada di apartemen saat ini."
Irsan melakukan mobilnya dan langsung menanjap pedal gas. Alih alih kembali ke apartemen, Irsan justru melajukan mobilnya ke arah kantor milik Irene.
"Kita pergi ke perusahaan Irene! Aku akan bicara lagi dengan nya! Aku akan terus berusaha meyakinkannya, Kalau tidak bisa juga, aku hancurkan kantornya juga!"