I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.296(Lima menit saja)



Beberapa minggu kemudian. Kondisi Cecilia pun semakin bagus, dia semakin tenang dalam menjalani kehamilannya. Walaupun terkadang Irsan mendapatinya tengah menatap fotonya saat bersama Nita. Yang menjadi kekhawatiran Irsan selama ini karena gadis itu belum juga di temukan.


Beberapa kali dia mencoba menghubungi Toni, dan minta Toni untuk membawa Nita, tapi tidak juga membuahkan hasil.


Bahkan tanpa sepengetahuan Cecilia, diam diam Irsan meminta bantuan pada Zian agar bisa menemukan Nita yang menghilang tanpa jejak, keadaannya saat ini pun tidak di ketahui.


Drett


Drett


Ponsel Irsan berbunyi, dengan cepat dia mengangkat telefon saat mengetahui siapa yang meneleponnya.


'Ya katakan?'


'Kau yakin?'


'Ya ... Baiklah!'


Dengan segera Irsan menutup telepon genggamnya, lalu bangkit dan membuka jubah putih miliknya dan menggantinya dengan jas miliknya yang tergantung di sudut ruangan. Setelah itu barulah dia keluar dari ruangan prakteknya.


Pria itu pun bergegas keluar, tidak peduli dengan seorang suster yang masuk membawa beberapa berkas pasien.


"Suruh Tristan menggantikan jadwal praktekku, aku ada urusan penting!" ujarnya dengan terus berjalan dengan cepat.


Pria berusia 40 tahun itu bergegas mengambil mobil dan segera melajukannya dengan kecepatan tinggi, seorang informan yang ditugaskan Zian untuk mencari tahu keberadaan Toni dan juga Nita sudah mengirimkan lokasi mereka berada saat ini. Namun Irsan tidak memberi tahukannya pada Cecilia, dia ingin memastikannya terlebih dahulu sebelum akhirnya membawa Cecilia menemuinya.


Lokasi yang dikirimkan oleh informan itu pun berjarak cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, beruntung jalanan saat itu cukup lenggang hingga Irsan bisa datang tepat waktu.


Mobilnya kini berhenti di sebuah rumah, tidak kecil namun juga tidaklah besar. Suasana rumah yang sepi dan hanya ada suara beberapa burung dalam sangkar.


Irsan melepaskan seat belt yang terpasang di tubuhnya, namun dia tidak langsung turun dan masuk melainkan hanya diam dengan menatap rumah itu.


Sampai akhirnya dia yakin dan memutuskan untuk turun dan memastikannya sendiri.


Pintu pagar ternyata tidak dikunci, Irsan bisa membukanya dengan mudah namun begitu, suara decitan besi pagar membuatnya kaget sendiri. Andai jika dia pergi dengan membawa Cecilia, sudah dipastikan wanitanya itu akan masuk tanpa berfikir panjang, dia juga akan langsung menerjang masuk bahkan tidak ragu membuat keributan, berbeda sekali dengan dirinya yang selalu memperhitungkan setiap langkah yang harus dia ambil.


Irsan menyisir sekeliling halaman rumah, tampak bersih dan juga rapi dan dipastikan ada penghuninya. Dia pun menekan bel yang menempel di pintu dengan ragu.


Bunyi pertama yang tidak membuahkan hasil, hingga dia memencetnya beberapa kali sampai terdengar samar samar suara langkah dari dalam. Suara langkah yang semakin terdengar jelas.


Pintu terbuka, membuat Irsan terbeliak dengan kaget begitu juga dengan sesosok wanita di depannya. Sosok yang begitu Cecilia harapkan datang, sosok cantik berambut sebahu yang tidak sama sekali berubah. Namun yang membuatnya lebih kaget adalah perutnya yang kini bulat dan besar,


Begitu pun dengannya, kedua matanya terlihat mengerjap, alangkah kagetnya dia saat melihat Irsan yang datang, dengan jantung yang berdebar debar dan juga berkeringat dingin dengan tangan bergemetaran. Dan dengan cepat dia menutup pintu.


"Nita tunggu!"


Irsan menahan pintu, terlambat sedikit saja pintu nyaris menjepit tanganya. Beruntung Irsan yang langsung mendorongnya hingga Nita terhuyung ke belakang.


"Aku gak mau ketemu Dokter, aku juga gak mau ketemu Cecilia! Pergi...! Aku gak mau ketemu kalian lagi!" ucap Nita.


Nada bicaranya jelas penuh kemarahan, namun juga sedikit serak dan bergelombang menandakan kesedihan.


"Aku gak mau ngomong apalagi ngebahas apapun lagi soal Cecilia, sudahlah, untuk apa lagi."


"Nita ... Please, sebentar saja. Beri aku waktu lima menit saja!"


Nita lama terdiam, dia hanya menatap Irsan dengan tidak karuan. Bagaimana bisa pria itu menemukan tempat persembunyiannya. Dan bagaimana pun juga dia tidak ingin bertemu dengan Cecilia.


"Gak ada yang perlu di bahas lagi, ini sudah keputusanku! Tolong hargai itu." ucap Nita dengan datar.


"Lima menit saja!" Irsan mengangkat kelima jarinya ke arah Irsan. Tidak lama dia pun menghela nafas.


"Lima menit!"


Irsan asal mengangguk, lima menit mungkin cukup untuk mengetahui alasan Nita tidak ingin bertemu Cecilia. Dan kini justru keduanya saling berdiri dalam diam.


"Apa kabarmu Nita?"


Nita membalikkan tubuhnya, tidak ingin menatap langsung suami dari sahabatnya itu.


"Katakan langsung inti nya saja!" jawabnya dengan ketus.


Irsan menghela nafas dengan perlahan, menatap punggung Nita yang terlihat menahan beban perutnya yang besar.


"Apa yang terjadi Nita. Kenapa kau pergi sejauh ini dan membuat Cecilia begitu khawatir padamu. Dia selalu berfikir kau sedang kesulitan dan dia sangat sedih sekali."


"Oh ...!"


"Pulang dan temui sahabatmu Cecilia, dia mencemaskanmu sampai sering melamun tidak karuan!"


"Dia fikir apa yang terjadi selama ini? Persahabatan macam apa hm? Cemas ... Apa yang dia cemaskan, bilang sama dia kalau aku baik baik saja, bahkan aku hidup dengan baik selama ini!" sahut Nita dengan tetap berdiri membelakangi.


"Aku tahu Cecilia bersalah padamu, aku minta maaf untuk hal itu!"


"Aku gak butuh perminta maafan, sampe kapan pun aku gak mau ketemu dia lagi!"


Irsan kembali menghela nafas, dia tidak ahli dalam membujuk orang terlebih seorang wanita.


"Apa kau sedang hamil?" tanyanya.


"Bukan urusanmu! Pergilah, lima menit Dokter udah habis!" ucap Nita dengan berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Tubuh Irsan berputar sesuai ke arahnya, dia dapat melihat tatapan penuh kesedihan dengan manik manik yang berkaca kaca, terlebih Nita tidak berani menatapnya langsung.


"Cecilia juga sedang hamil, tapi dia masih pecicilan dan kadang lupa diri jika dia sedang hamil, dia bahkan sempat melompat dari mobil dan berlari saat dia merasa melihatmu dia kedai soto makyosss.


Nita berdecih, tempat itu penuh kenangan mereka berdua sejak dulu. Dan saat nama tempat itu keluar dari mulut orang lain rasanya tidak percaya.


Nama Maknyos adalah nama buatan mereka berdua, label yang mereka buat saat sangat kelaparan. Bukan nama kedai itu sendiri.


"Tapi saat itu dia langsung sedih dan menangis, bahkan kita berjam jam duduk di sana hanya ingin memastikan jika orang yang dia lihat adalah kau. Kalaupun dia memiliki kesalahan yang tidak dia sadari, harusnya kay datang padanya dan minta penjelasan, pelarian tidaklah mudah, justru membuat masalah semakin berlarut larut saja. "Coba lah berbaikan dengannya, agar kesalah fahaman yang terjadi ini selesai. Cecilia tidak bermaksud membohongimu, dia hanya melakukan pesan yang dia terima dan berjanji untuk merahasiakannya sekalipun padamu Nita!"