
"Berfikir kau itu jodohku, dan itu makin memalukan sekarang!"
Cecilia terkekeh, ucapan asalnya saat melihat Irsan untuk pertama kalinya di coffe shop. Namun tidak dengan Irsan, pria itu sedikit terhenyak.
"Kenapa sekarang jadi memalukan?"
"Ya ... Kau tahu jawabannya kan. Kau punya pacar, gitu juga aku." Tukasnya dengan menutup mulutnya sendiri, "Aku masih terikat kontrak." desisnya pelan, berharap Irsan tidak mendengar desisannya.
Irsan hanya mengangguk getir, "Dasar! Kau fikir semudah itu mengatakan aku jodohmu tapi juga tidak berusaha membuatnya nyata. Kau justru bermain main saja."
"Kau tahu istilah wanita baik untuk pria baik gitu juga sebaliknya?" katanya dengan menjentikan jari, "Nah ... Seperti itulah kira kira." ujarnya lagi. "Ayo pergi! Aku sudah kedinginan."
Cecilia berbalik pergi dan mengayunkan langkahnya ke arah lift. Irsan hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sejak aku tidur denganmu, aku sudah jadi pria brengsekk!" gumamnya sendiri.
"Istirahatlah! Besok pagi aku akan menjemputmu. Kita akan sama sama ke kantor polisi." kata Irsan saat menekan nomor lantai di mana unit Cecilia berada.
"Heh ... Ini masih terlalu siang buat istirahat! Lagian unitku sekarang berantakan. Aku tidak suka."
"Kau ingin tidur di unitku?" tawar Irsan menolehkan kepala ke arahnya.
Gadis itu mengulum senyuman, "Emangnya kau mau?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak ingin melakukan kesalahan itu dua kali."
Cecilia mendengus, "Kesalahan katanya. Lupa siapa yang paling bersemangat juga bergaiiraaah."
"Ceciliaa!"
Cecilia terbahak, "Aah ... Maaf! Mulutku gak punya saringan. Lagi pula siapa juga yang mau ke tempatmu. Mending aku ke hotel aja."
"Bertemu dengan pria pria hidung belang?" entah kenapa ucapannya itu justru melukai hatinya sendiri, hingga dia akhirnya mendengus dan juga kesal sendiri.
"Enggak! Kalau pun iya juga emangnya kau mau apa? Kau juga pasti akan ketemu si sundel itu kan."
"Ines?"
"Serah!!"
"Kenapa kau marah?"
"Aku? Marah. Kenapa aku harus marah?"
"Kalau iya juga tidak apa apa."
"Kau ingin aku marah?"
"Tidak juga."
Dasar tiang listrik, omonganmu bikin bingung aja.
Untuk sepersekian menit mereka hanya terdiam saja, sama sama sibuk dengan fikirannya masing masing. Rasanya hanya suara angin dari AC yang terdengar mendesis disertai dengan helaan nafas Cecilia yang terdengar lembut.
"Apa bagimu yang kita lakukan malam itu tidak ada artinya sama sekali?" Tanya Irsan menohok.
"Tergantung!"
"Maksudmu?"
"Ya tergantung kau melihatnya dimana? Kau melakukan itu denganku yang notabene seorang ... You know dok. Jadi bukan aku yang harus menjawabnya, tapi kau sendiri."
"Aku sudah tahu."
"Aku lebih menyukaimu sekarang Cecilia. Tidak peduli seburuk apapun masa lalu mu. Aku ingin menjagamu."
Cecilia menoleh, menatap wajah Irsan yang meneduhkan.
"Terus si sundel? Kau bisa membaginya pada dua wanita? Walau aku tahu aku lebih unggul dari dia kemana mana." ujarnya sedikit sombong, dengan meremmas ujung dress yang dia pakai.
"Hal itu tidak penting. Yang penting kau."
Ting
Tatapan keduanya berakhir seiring terbukanya pintu lift, keduanya keluar tanpa mengatakan apa apa lagi. Selalu menggantung disaat yang sama.
"Istirahatlah! Besok pagi aku akan kemari lagi."
Cecilia akhirnya mengangguk, dia masuk kedalam unitnya sendiri. Namun tak berapa lama, dia kembali keluar dan mengikuti Irsan yang berjalan ke arah unit milik Ines.
"Dasar pria brengsekk! Sama aja. Baru tadi dia bilang Ines tidak penting! Tapi sekarang dia malah pergi ke tempatnya. Udah bodohlah dia oleh cinta. Dan gue lebih bodoh kalau percaya ucapannya gitu aja." gumamnya saat melihat Ines membuka pintu dan Irsan masuk kedalamnya.
Dia berjalan kembali ke arah unit miliknya dengan gontai, kata kata yang baru saja di ucapkan Irsan saat di dalam lift bak udara, menyegarkan namun tidak bisa dia pegang, bahkan tidak bisa dia lihat wujudnya.
"Dasar si tiang listrik! Baru aja gue hampir terbuai oleh kata kata manisnya itu."
Cecilia tidak kembali ke unitnya, melainkan dia melangkahkan kakinya ke arah lift. Masuk kedalam dan menekan nomor satu dimana basement berada.
"Sial!! Kunci mobil gue."
Dia baru ingat jika Irsan yang memegang kunci mobil miliknya saat mereka bertemu di pagi hari, menyaksikan penggeledahan unit sampai siang menuju sore dan bahkan mengobrol ini dan itu sampai hari mulai gelap.
"Apa gue susul ke unit Ines yaa. Hm ... Susul aja deh! Sekalian gue pengen lihat mereka ngapaian."
Gadis itu kembali masuk ke dalam lift, menekan nomor lima lalu bersandar di dinding lift.
"Hah ... Kau gila?" Ujar Ines saat mendengar semua yang dikatakan Irsan. "Kau yakin kau menyukainya?"
"Ya ... Sejauh ini aku menyukainya, sekaligus membenci prilakunya."
"Kau benar benar gila."
Cecilia berdiri didepan unit milik Ines, dia memencet bel lalu berdiri dengan tenang. Menghela nafas bak tengah mempersiapkan ujian sekolah.
Ines berjalan membuka pintu dan tentu saja tersentak kaget saat melihatnya berdiri di depannya. "Kau? Ada perlu apa kau datang kemari?"
"Mana dokter Irsan?"
"Ada didalam."
"Katakan aku ingin bertemu dengannya sebentar."
"Dia baru saja datang kemari. Kenapa kau menyusulny."
Cecilia berdecih, "Memangnya kenapa? Apa aku gak boleh bertemu dengannya di sini?
.
Maafkan karena selalu up di tengah malam, semoga besok besok enggak yaa. Maaf juga karena belum sempet balas komen.