I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.146(Kencan pertama)



Tak hanya Cecilia yang terbuai, Irsan pun merasakan hal yang sama. Keduanya hanyut dalam ciuman yang semakin lama dan dalam, saling merekatkan pelukan dengan Irsan yang menopang tubuhnya sendiri agar tidak menindih tubuh Cecilia, dan menjadikan sikutnya tumpuan.


Kedua benda basah itu saling membelit, saling menyisir dan saling mencecap bergantian, jangan ditanya soal kelihaian Cecilia soal itu, namun Irsan juga patut diperhitungkan. Saling mengimbangi dengan namun juga tidak saling menuntut. Pertama kalinya tangan Cecilia tidak bergerak kemana mana, hanya melingkar di leher Irsan dan sesekali meremass rambutnya.


Decakan demi decakan pun menjadi penghias kamar bernuansa abu, kamar yang sudah lama sepi seperti tak berpenghuni yang berubah menjadi kamar yang menjadi saksi cinta berbeda usia sekarang dengan suara khas irama yang semakin memabukkan.


Tidak ingin bertindak lebih jauh lagi, Irsan menghentikan aktifitasnya. Dia mengecup kening Cecilia sangat lama, lalu memeluknya erat untuk beberapa saat, tanpa kata tanpa bicara. Hanya memeluk saja.


"Hei, kenapa jadi melow gini!" Cecilia ikut merekatkan pelukan saat Irsan memeluknya tanpa kata itu setelah dia rasa cukup lama.


"Tidak apa apa, aku hanya menikmati saat saat ini. Bersiap siaplah, bukankah kau ingin kita berkencan?"


Cecilia mengangguk dengan penuh semangat, "Aku akan membuat sarapan. Mandilah." ujar Irsan dengan bangkit dari ranjang, lalu beranjak ke arah pintu.


"Doksay. Apa aku gak kamu mandiin sekalian?" Cecilia tertawa, menutup wajahnya dengan bantal.


Irsan yang hendak menutup pintu kembali menoleh dengan mengernyitkan dahi. Dia berdecak namun juga mengulum senyuman. "Kau ini!"


"Aku bercanda Doksay! Sensi banget sih." tertawa lagi dengan menjulurkan lidah ke arahnya.


"Doksay. Apa itu?"


"Dokter sayang." Seru Cecilia yang langsung berlari ke kamar mandi dengan tertawa.


"Ada ada saja!"


Irsan menuju dapur, berkutat dengan pekerjaan yang harusnya dikerjakan seorang wanita. Mulai mengeluarkan bahan bahan yang akan dia masak, wajahnya bersemangat, berbinar dan tentu saja menggelitik. Usianya sudah berkepala 4 tapi momen momen yang dia lalui bersama Cecilia membuat jiwanya seakan kembali muda. Momen yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Rasa panik luar biasa, marah luar biasa, kesal apalagi, khawatir yang membuatnya kalang kabut. Dan pertama kalinya dia bertindak tidak sopan pada seseorang, sedikit arogan dan juga kasar.


Irsan menghela nafas panjang, bahkan lebih panjang biasanya. Rasanya menyegarkan dan lebih hidup. Rasa bosan yang selalu menderanya, pekerjaannya, hidupnya yang lurus dan tanpa tantangan kini berubah. Emosinya naik turun, suasana hatinya berubah ubah.


"Panggilan macam apa itu? Doksay ... Dokter sayang." Gumamnya dengan gelengan kepala dan juga bibir yang mengembang sempurna.


Cecilia keluar dari kamar, tampak segar dengan polesan ala kadarnya, tidak berlebihan seperti biasanya. Tindikan di hidungnya pun dia lepas, membuat hidung lancipnya semakin cantik.


"Bikin apa sih wangi banget!" Ujarnya dengan memeluk Irsan dari belakang.


Irsan tentu saja tersentak kaget, dadanya bergemuruh saat wangi sabun dan kulit dingin Cecilia merekat ditubuhnya.


"Kau mengagetkanku!"


Cecilia terkekeh, menggigit lengan Irsan dengan gemas. "Tapi kamu gak punya penyakit jantung kan?"


"Kau ini!" Irsan membalikkan tubuhnya, menatap gadis cantik yang kini menggunakan dress pendek dengan motif floral berwarna merah. "Cantik!" Desisnya tanpa sadar.


"Iyalah aku cantik! Kalau ganteng kan bahaya masa maen pedang pedangan."


Tak hentinya Cecilia membuat Irsan tersenyum namun juga berdecak dengan celotehannya yang asal itu.


"Kalau kau terus begini, kau tidak hanya membuat kita terlambat, tapi membuat sarapan kita menjadi gosong."


"Gak apa apa! Gini aja udah kayak sarapan kok." cicitnya dengan terkekeh.


"Kau ini!" Irsan mengambil piring, lalu meletakkan sanwich dan juga telur dadar buatannya. Dia memberikannya pada Cecilia. "Makanlah duluan. Aku mau mandi."


Cecilia mengurai pelukan, mengambil piring yang dia sodorkan lalu duduk di kursi.


"Mau aku mandiin gak?"


Membuat Cecilia kembali terkekeh karena Irsan sangat serius dan sudah diajak bercanda, reaksinya hanya tersenyum dan bergeleng kepala, berdecak atau hanya menatapnya saja.


"Serius banget!" ujar Cecilia sembari menikmati sarapan paginya.


Dia juga mengambil ponselnya, mulai mencari destinasi yang cocok untuk kencan pertamanya, juga referensi film film yang sedang booming di bioskop.


"Ini dia." Ujarnya dengan melihat film romance yang tengah tayang di bioskop. "Abis ini ke sini." gumamnya menggulir layar. Menunjuk sebuah tempat yang dia sendiri belum kunjungi.


Cecilia sangat antusias sekali. Bagaimana tidak, setelah masalah masalah yang dia hadapi dan kembali membaik, ditambah hubungannya dengan Irsan yang semakin erat tak terpisahkan. Kebahagian yang menurutnya sangat luar biasa, menemukan pria yang bisa menerima dia apa adanya dan pria yang mengkhawatirkannya sedemikian rupa.


Irsan keluar dari kamar, dengan berpakaian santai. Dia hanya mengenakan polo t-shirt yang sangat pas membalut tubuhnya yang berotot. Membuat ketampanannya semakin jelas terlihat.


Cecilia menelan saliva, bibirnya melengkung sempurna. "Wah ... Ternyata kau sangat tampan."


"Kau ini." Irsan duduk di kursi di depan Cecilia. Mengambil sarapan paginya dan langsung melahapnya sampai tidak bersisa. Sementara Cecilia hanya menatapnya saja dengan kedua tangan yang dia pakai menopang dagunya.


"Kau tidak menghabiskan sarapanmu?"


Cecilia menggelengkan kepala, masih terus menatap Irsan tak jemu jemu. "Aku udah kenyang, sarapanku udah banyak dari tadi bangun tidur terus sekarang."


"Benarkah?" tanya Irsan yang melihat isi piring milik Cecilia masih banyak dan hanya sepotong yang dia makan.


"Hm ...!"


"Makanlah yang benar! Kau bilang tidak boleh menyisakan makanan. Apalagi membuangnya. Kau sendiri."


"Nanti saja!"


"Memangnya kau kenyang hanya dengan menatapku saja Cecilia? Ayo habiskan."


"Ish ... Kau ini, gak bisa banget liat aku seneng, liat kamu emang bikin aku kenyang." Cecilia terkekeh, merasa bodoh sendiri.


Melupakan prinsip yang sejak dulu tertanam di benaknya, cinta itu tidak ada, yang ada hanya kesenangan belaka, dan cinta tidak membuatnya kenyang. Dan kini, ucapannya berbalik pada dirinya sendiri.


Untung Irsan gak pernah tahu prinsip hidup gue yang dulu, kalau tahu. Mampus gue.


Keduanya keluar dari unit, Cecilia menggenggam tangan Irsan dengan erat. Berjalan dengan senyuman merekah di wajahnya yang cantik.


"Kau tahu! Aku gak pernah pergi kencan sepagi ini. Jadi kita harus ke beberapa tempat sebelum nanti nonton. Aku udah pesan tiket tadi."


"Benarkah?"


"Hm ...! Kau mau kemana dulu, taman, tempat hiburan, ata---"


Ucapan Cecilia terhenti saat dering ponsel Irsan berbunyi. Bunyi khas panggilan rumah sakit yang jelas itu penting, terlebih panggilan di hari liburnya.


"Siapa? Jangan bilang kau harus ke rumah sakit!" Cetus Cecilia saat Irsan melihat isi ponselnya.


"Maaf ... Aku memang harus ke rumah sakit."


"Terus kencan kita?"


Irsan menarik kembali tangannya, lalu berjalan lebih cepat, "Ikut saja!"


"What? Jadi kita kencan di rumah sakit!"