
Sila hanya terdiam menatapnya, mencoba mengerti namun tidak juga dia paham dengan apa yang di katakan Cecilia. Sementara orang yang dia tatap tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi ... Kerjaan gue apa kak? Apa kerjaan gue harus pake baju kayak gini? Emangnya gue kerja apa?" herdikan bahu lalu menunduk melihat dadanya sendiri yang menonjol.
Cecilia menatap gadis belia yang masih polos itu, "Gue udah bilang. Jangan banyak tanya! Nanti kalau waktunya, gue bakal kasih tahu tugas yang mesti lo lakuin."
Sila Lupa akan tiga syarat yang baru saja di ucapkan, padahal baru saja beberapa menit yang lalu, dengan rasa penasaran yang tinggi, dia menyipitkan kedua mata menatapnya.
"Sekarang lo beres beres lagi! Gue mau pergi. Nanti kalau lo mau balik, pastiin semua dalam ke adaan mati. Jangan lupa periksa dapur." ujar Cecilia yang kembali masuk kedalam kamar, mencari sesuatu di dalam lemarinya.
"Ini dia!" ujarnya saat menemukan apa yang dia cari. Setelah itu dia pun keluar dengan tas selempang dan juga barang yang dia masukkan ke dalam paper bag.
"Gue udah beberes rumah kak! Apalagi?"
"Ya udah lo apa kek, cari kerjaan yang bisa lo kerjakan di sini. Gue cuma keluar bentar." ujarnya dengan merapikan rambutnya. Dia juga mengambil lima lembar uang di dalam tas lalu di berikannya.
"Buat lo!"
Sira melonjak kaget saat melihat lima lembar berwarna merah terkibar di hadapannya, "Ini buat gue?"
"Hm ... Lo gak mau? Ini duit hanya permulaan, lo bisa dapet lebih banyak nanti."
Tak bisa dia bayangkan jika nanti akan sebanyak apa uang yang akan dia dapat, uang yang kini di tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Besok lo nginep di sini! Lo cari alesan yang masuk akal buat orang tua lo!"
Cecilia meninggalkan Sila yang masih tidak bisa mengerjapkan kedua mata saat membayangkan berapa lembar uang yang akan dia terima jika uang yang berada di tangannya saat ini hanya permulaan.
"Kak ... Lo gak bakal jual gue kan?" teriaknya, entah Cecilia mendengarnya atau tidak.
Cecilia benar benar pergi ke alamat yang Irene berikan padanya, dalih bertemu Reno hanya untuk mencari tahu tentang wanita idaman lain yang di curigai.
Untuk memperlancar aksinya, Cecilia menggunakan taksi, dia tidak ingin membuat Irene curiga sedikitpun kepadanya. Riasan sederhana dengan pakaian yang juga terlihat simple juga paper bag yang dia bawa.
Taksi melesat kencang memasuki real estate yang cukup terkenal, di huni pengusaha pengusaha hebat di kota itu. Rumah rumah besar nan tinggi dengan gaya eropa.
Taksi pun berhenti di salah satu rumah dengan gerbang berwarna putih, gadis berambut pirang itu pun harus menelan saliva saat melihatnya.
"Gue baru tahu ini rumah Reno." gumamnya saat keluar dari taksi. "Pantes aja duitnya banyak gak abis abis!"
Terlihat seorang pria setengah berlari ke arahnya dengan wajah cemas dan juga kaget.
"Nona ... Apa kau gila sampai harus datang ke mari?"
Cecilia membulatkan kedua matanya, jelas kesal karena semua ini ulah pria yang kini bertingkah serba salah.
"Heh ... Gue cuma ngikutin arahan ya. Kan lo sendiri yang bilang kalau gue harus ngikutin kemauannya, dan lo biang keladinya!" sentak Cecilia, dia benar benar kesal sampai ingin memukulnya. "Minggir! Gue bakal tetep masuk karena gue gak bisa diem aja!"
Asisten Reno tahu siapa yang Cecilia maksudkan, tapi dia sendiri tidak menyangka jika Cecilia seberani itu dengan datang ke rumah Reno.
"Panggil tante Irene." ketusnya dengan mengibaskan rambutnya kebelakang, sementara pria tersebut hanya mematung dengan fikiran yang penuh rasa was was. "Buruan! Malah bengong."
Tak lama pria itu masuk, dia mungkin memberitahukan kedatangannya pada nyonya pemilik rumah, karena tak berselang lama, Irene muncul dan menyambutnya.
"Kau sudah datang?"
"Hm ... Aku sudah datang tante!"
"Jadi aku harus mengobrol dulu dengan suami tante, agar mudah mendapatkan informasi tentang wanita itu."
Irene mengangguk, "Tapi aku harus bilang apa agar suamiku tidak curiga."
"Tante tenang aja!" ujarnya memperlihatkan paperbag yang dia bawa.
"Kau?"
Cecilia mengulum senyuman, "Pokoknya tante tahu beres aja ok?"
Dia juga meminta satu ruangan untuk dia berganti pakaian, dia menggantinya dengan pakaian yang sengaja dia bawa.
"Ayo kita maen dokter dokteran Reno." ujar nya terkikik, menatap pantulan dirinya di kaca dengan setelan suster lengkap dengan topi khusus perawat.
Jangan di tanya dia dapat benda benda begitu dari mana, fantasi liarnya yang membuat para Daddy berani membayar mahal dan menjadikannya sugar baby yang memiliki sejuta pesona.
Tak lama dia pun keluar dari kamar ganti itu dan membuat Irene melongo melihatnya. Dia sampai bangkit dari duduknya hanya ingin melihatnya lebih jelas lagi.
"Kamu?"
"Tante bisa bilang kalau aku suster yang akan memeriksa kesehatannya, atau perawat yang tante sewa untuk mengurusinya." ucap Cecilia penuh percaya diri.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu pun berdecak kagum, tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya jika Cecilia akan mengorek informasi dari Reno dengan cara itu.
"Gimana?"
"Hm ... Bagus! Suamiku tidak akan curiga sama sekali, awasi juga ponselnya, dia tidak mengijinkan siapapun menyentuh benda itu."
Cecilia mengangguk, aksinya kali ini benar benar mengingatkannya pada teman temannya di masa sekolah menengah atas, kerap melakukan hal hal gila yang tidak semua orang akan menyangkanya. Dan kali ini dia melakukannya seorang diri, dengan target dirinya sendiri. Haiiissh
***
Cecilia mengikuti langkah Irene yang masuk kedalam ruangan kerja dimana Reno berada, pria tua keras kepala dan berkuasa di rumahnya.
"Sayang, aku akan sudah bilang istirahat! Kenapa masih mengurusi pekerjaan."
"Kalau aku tidak bekerja dengan keras, kau tidak akan hidup nyaman seperti ini!" ketusnya tanpa mengalihkan pandangannya pada sebuah berkas. Kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya pun hampir merosot, dia belum sadar jika Cecilia berada disana.
Irene menghela nafas, "Tapi kau juga harus memikirkan kesehatanmu,"
"Pergilah! Jangan ganggu aku!"
"Aku membawa perawat untuk mengurusimu! Dia datang hari ini."
"Hm ...!" gumam Reno tanpa ingin melihat lawan bicaranya.
Irene mengangguk pada Cecilia sebelum dia keluar dari ruangan tersebut, dan juga mewanti wantinya akan sikap keras kepala Reno, juga memberi tahu obat yang harus dia minum saat ini. Cecilia paham dengan cepat, seiring rencana rencana yang sudah dia susun sedemikian rupa.
Setelah Irene keluar ruangan, Cecilia mengulum senyuman dan melangkah ke arah Reno.
"Apa sudah waktunya minum obat?" Ujarnya menoleh pada gadis berpakaian suster didepannya, seketika kedua matanya membola sempurna.
"Hello daddy!"